Praduga dan Realitas Couchsurfing

Couchsurfing adalah website dengan misi yang radikal dan luar biasa. Kalo lo jadi anggota, ada tiga pilihan: lo bisa jadi host untuk sesama anggota yang lagi traveling (artinya, lo sediain rumah lo untuk mereka inapin), lo bisa nge-surf di rumah sesama anggota (artinya, ya elo yang traveling dan nginep), atau lo bisa jadi penggembira aja (artinya, lo nggak nge-host atau nge-surf, paling cuma ikutan nongkrong pas ada couchsurfing meet-up di satu kota).

Misi ini sepenuhnya sosial—lo nggak bayar saat nginep, lo juga nggak mungut biaya saat ngasih tumpangan. Travel like a local adalah slogan mereka. Intinya, misi ini ngasih lo kesempatan untuk bertukar budaya secara nyata (bukan dari tour guide yang berbagi karena dibayar), liat satu negara atau kota dari perspektif orang lokal, bukan turis.

Keren banget, kan?

 

Tapi di balik kekerenan itu, ada banyak pandangan negatif berdasar ketakutan. Orang takut nerima orang asing begitu aja di rumahnya. Gimana kalo orang itu punya niat buruk? Kalo dia masih senegara, kita masih bisa ngira-ngira apa yang mungkin dan nggak mungkin dia lakuin. Tapi kalo beda negara, bisa aja dia bikin hal-hal yang bagi kita di luar batas, yang nggak pernah kita bayangin, apalagi antisipasi.

Salah satu ketakutan terbesar: orang jelas nggak mau dirampok. Mungkin lo kerja di luar rumah tiap hari. Ada banyak waktu lo mesti ninggalin surfer lo di rumah atau kosan lo. Atau kalo elo yang jadi surfer, lo takut host lo punya niat macem-macem. Biar gimanapun, itu teritori dia, dia tau medan, dan dia punya banyak temen di situ. Kekuatan lo kecil. In a way, lo kayak berjudi dengan hidup lo, keselamatan lo.

Gimana realitasnya?

Apa seserem itu?

Ya dan nggak.

Gue jadi anggota Couchsurfing sejak 2013. Gue pernah nge-host di Jakarta, tapi sebagian besar aktivitas couchsurfing gue bertempat di Bali. Gue nge-host, nge-surf, dan traveling bareng anggota-anggota lainnya ke barat, timur, selatan, dan utara Bali. Bisa dibilang, semua pengalaman gue menyenangkan. Nggak ada yang buruk.

Kok bisa gitu? Kuncinya, lo cuma mesti selektif pas milih surfer, selektif pas nyari host, selektif bahkan pas nyari travel buddy. Dan untungnya, Couchsurfing nyediain jalan untuk itu.

Semua anggota situs itu punya reference di profil mereka. Reference itu ditinggalin sama sesama anggota yang pernah atau masih bersentuhan di dunia nyata dengan mereka. Reference itu ada tiga jenis: positif, netral, dan negatif. Makin banyak lo punya reference positif, makin bagus. Itu artinya ada banyak orang yang punya pengalaman bagus ama lo. Nggak ada yang mau dapet reference negatif karena itu akan nyusahin diri lo besok-besok. Nggak ada yang mau ketemu lo, apalagi nge-surf di rumah lo atau nge-host lo.

Jadi ya lo saring sendiri, deh. Baca profil mereka, liat foto-foto mereka, perhatiin reference mereka, apa kata orang-orang lain tentang mereka. Mestinya itu udah cukup untuk buktiin seorang anggota asik atau nggak, bisa dipercaya atau nggak.

Terus, apa kejahatan masih terjadi dalam aktivitas Couchsurfing? Masih, dan itu biasanya terjadi karena kebegoan lo sendiri. Misalnya, lo nge-host atau nge-surf di tempat orang yang nggak punya reference. Gimana lo bisa percaya ama ini orang coba…. Dan kok bisa lo segitu naifnya sampe yakin kalo semua anggota itu baik dan sejalan dengan misi Couchsurfing?

Jadi, pada akhirnya, menurut gue, nggak ada yang perlu ditakutin dari Couchsurfing dan aktivitas-aktivitasnya. Kalo lo takut dirampok, bisa aja ntar pas lo sampe rumah, rumah lo ternyata kerampokan. Bisa aja di jalanan lo ditodong. Jangan penakut. Hidup ini lebih menggairahkan kalo elo reach out.

LinkedInShare

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *