Buku Karya Paul Arden dan Penghargaan

“The more strikingly visual your presentation is, the more people will remember it. And, more importantly, they will remember you.”

Buku bisnis nggak pernah jadi jenis buku favorit gue. Kebanyakan jelek dan ditulis dengan ngebosenin. Tapi ketika buku bisnis dikemas dengan kreatif, apalagi kalo penulisnya praktisi advertising, kadang gue tertarik juga. Selain karena dulu gue kuliah advertising—walopun nggak kelar—orang kreatif itu selalu punya ide aneh-aneh.

Kali ini gue mau bahas buku menarik karya Paul Arden.

It’s not how good you are, it’s how good you want to be.

Sebenernya gue kebetulan aja bersentuhan sama itu buku. Gue lagi main ke tempat sodara gue dan itu buku ada di mejanya. Gue iseng buka. Kata-kata di lembar pertamanya aja udah keren, paling nggak buat gue.

“Just as Sun Tzu’s Art of War is read as a lesson in business strategy rather than fighting in a military sense, or Machiavelli’s The Prince is written about government but used as a guide to management, so this book uses the creative processes of good advertising as a metaphor for business practice.”

Beberapa halaman gue baca, ada foto Victoria Beckham dan secuil cerita tentang dia. Dulu, sebelum jadi apa-apa, dia pernah bilang dia pengen sepopuler Persil Automatic. Yang menarik, dia nggak jadiin popstar zaman itu, misalnya George Michael atau Michael Jackson, sebagai target. Persil Automatic adalah detergen nomor satu di Inggris.

Gue baca lagi sekian halaman dan ketemu tulisan gini: When it can’t be done, do it. If you don’t do it, it doesn’t exist. Paul Arden kasih penjelasan dan contoh secara ringkas. Intinya, dia mau bilang, kalo elo nggak berusaha wujudin ide lo karena keliatannya mustahil, itu akan jadi salah satu ide yang berakhir di kotak ‘ide-ide yang nggak pernah terjadi’.

“You may have to beg, steal, and borrow to get it done. But that’s for you to work out how you do it. It’s exciting. It’s difficult and it’s fun. If it was easy, anyone could do it.”

Yang paling menarik adalah pendapat dia soal awards. Dia sediain kutipan dari Charles Ives, yang bunyinya gini: awards are merely badges of mediocrity. Begini argumen dia:

“Awards are judged in committee by consensus of what is known. In other words, what is in fashion. But originality can’t be fashionable because it hasn’t as yet had the approval of the committee. Do not try to follow fashion. Be true to your subject and you will be far more likely to create something that is timeless. That’s where the true art lies.”

Intinya, sebagai buku bisnis, It’s Not How Good You are, It’s How Good You Want to Be ini keren. Gaya nulisnya asik, dikemas dengan dinamis dan visual supaya enak dibaca dan nggak bikin ngantuk.

Kalo lo nggak demen buku bisnis tapi pengen coba-coba, mulai aja dengan yang satu ini. Kalo lo baca nonstop, setengah jam juga kelar.

LinkedInShare

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *