Orang Indonesia Itu Rasis

Orang Indonesia itu rasis. Bener, nggak?

Kalo pertanyaan itu dikasih ke turis, banyak yang bilang iya. Berkali-kali gue bahas soal itu sama bule-bule hanya karena penasaran apa alasan mereka. Dan ternyata alasan mereka bisa dipahami dan susah dibantah (walaupun bisa dilurusin).

Saat jalan-jalan ke objek wisata, misalnya, mereka ngeliat harga yang beda antara orang asing dan lokal. Saat cewek-cewek kulit putih jalan kaki sendirian di daerah wisata—katakanlah, pulau Bali—banyak laki-laki lokal yang nyapa, beramah-tamah, dan ujung-ujungnya nanya mereka udah kawin atau belum.

Hal-hal kayak gitu jelas nimbulin beragam persepsi yang sering kali nggak pernah terklarifikasi. Banyak yang ngerti bahwa perbedaan harga itu terjadi karena mereka datang dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat, tapi nggak sedikit juga yang curiga bahwa alesan sebenernya adalah perbedaan warna kulit.

Tentang ketertarikan pejantan lokal terhadap cewek kulit putih, salah satu couchsurfer gue di Bali, cewek Perancis bernama Corinne, berasumsi antara dua: cowok Indonesia nggak suka cewek senegara atau mereka nggak suka Indonesia sehingga pengen ngawinin cewek asing supaya bisa pindah negara dan kewarganegaraan.

Apa tanggapan gue?

Gue bilang ke beberapa orang, orang Indonesia itu suka orang kulit putih. Perbedaan harga di tempat-tempat wisata itu murni dilatarbelakangi faktor ekonomi, nggak ada hubungannya sama prasangka rasial. Makanya ada klub-klub malam di Bali yang ngasih free entrance buat turis asing, tapi nyuruh orang Indonesia bayar di depan. Walaupun itu seperti bentuk diskriminasi terhadap warga sendiri, orang Indonesia biasanya emang cuma beli segelas tapi nongkrongnya lima jam.

Terus gue ditanya lagi: gimana orang Indonesia ngeliat orang kulit hitam? Jujur aja, gue perlu mikir beberapa saat. Pada tengah malam di gang sepi dan sempit, gue yakin sebagian besar dari kita akan lebih milih untuk papasan ama bule daripada orang kulit hitam, apalagi kalo mereka gede dan berotot. Kalo kita mesti kasih seseorang tumpangan di rumah, kita juga cenderung lebih terbuka sama orang kulit putih daripada kulit hitam.

Tapi kenapa?

Gue tetep berpikir itu bukan karena kita rasis. Setelah mikir beberapa saat, gue dateng dengan sebuah teori: orang cenderung jaga jarak dengan sesuatu yang dia nggak ngerti (dan itu berlaku buat semua orang). Kita nggak punya banyak orang kulit hitam di sini. Kita lebih terbiasa sama bule. Banyak prasangka terkait orang kulit hitam yang nggak pernah jernih bagi kita sampe sekarang. Dan kita terlalu sibuk—atau terlalu takut—untuk buktiin kebenaran atau ketidakbenarannya.

Tentang kegenitan laki-laki Indonesia terhadap cewek bule, gue bilang ke Corinne, mungkin sebagian emang pengen ngawinin bule dan pindah kewarganegaraan, tapi itu cuma sebagian kecil. Orang Indonesia nggak masalah dengan keindonesiaannya. Negara kita emang nggak maju-maju, tapi ‘anehnya’ kita tetep bangga dan nasionalis.

Corinne nggak bisa disalahin dengan asumsinya. Dia dateng dari negara yang nerima banyak banget pengungsi dari Afrika. Orang-orang benua hitam itu berbondong-bondong nyeberangin Laut Mediterranea untuk minta kewarganegaraan Perancis—juga negara-negara Eropa lainnya—dan tinggal di situ karena di tempat asal mereka nggak ada apa-apa, perut mereka lapar. Mereka berangkat dengan perahu butut yang sering kali menenggelamkan mereka di tengah perjalanan. Kalo rencana mereka berhasil, dalam kehidupan sehari-hari biasanya ada konflik dengan penduduk setempat dan orang dengan cepat nyimpulin itu konflik antar ras.

Corinne ngeliat orang Indonesia dengan cara yang dia ngerti (padahal dia nggak ngerti). Apa bedanya sama kita? Nggak ada. Persepsi kita yang cenderung positif tentang bule dan negatif tentang orang kulit hitam juga terjadi karena kita liat mereka dengan cara yang kita ngerti (padahal kita nggak ngerti).

Lagi pula, sebenernya apa sih rasisme itu? Kalo gue ada masalah dalam kerjaan sama orang Malaysia dan gue bilang, “Fucking Malaysian,” nggak ada yang mikir gue rasis. Orang mikir gue lagi sebel aja sama itu orang Malaysia. Tapi kalo gue bilang, “Fucking Chinese,” tiba-tiba gue dicap rasis. Kenapa dengan masalah dan reaksi yang persis sama, kita ngasih label berbeda? Jangan-jangan rasisme itu sesuatu yang sebenernya nggak ada, tapi kita bikin-bikin jadi ada supaya bisa terus membenci apa yang kita nggak ngerti.

“Don’t hate what you don’t understand.” –John Lennon

LinkedInShare

7 comments

  1. sebenarnya rasis itu ada karena orang ingin sesuatu yang adil untuk semuanya, dan sama rata, padahal memang akan sangat relatif keadilan itu, sehingga satu akan dibandingkan dengan yang lain, nah disini kayaknya harus ada sebuah pengertian terhadap sesuatu yang tidak/belum kita terima sebagai sebuah kenyataan

    1. Ya, dan kalo kita perhatiin, selalu ada faktor ekonomi di balik sebagian besar kasus rasisme saat ini. Misalnya, orang Indonesia sebenernya baik-baik aja sama orang Cina. Mereka cuma kalah bersaing dalam hal ekonomi dan ‘jadi rasis’. Jelas kita gak layak dapet keadilan atau kesamarataan kalo mereka kerja lebih keras daripada kita 😀

    1. Saya emang nggak lagi ngomongin definisi menurut kamus, karena kalo menurut kamus, jelas semua perilaku di atas termasuk dalam kategori rasialisme. Yang saya omongin adalah akarnya, kenapa kok dalam perkembangannya dikit-dikit dibilang rasis.

      Begini argumen saya: pada dasarnya manusia itu group animal. Kita jelas lebih mihak keluarga kita sendiri dulu daripada keluarga lain, temen-temen kita sendiri daripada orang lain, bangsa kita sendiri daripada bangsa lain, dan seterusnya. Itu natural. Mereka adalah people we understand & bisa dipahami kalo kita cenderung jaga jarak dulu (atau takut) dengan people we don’t understand (sampe akhirnya kita ngerti). Perlakuan kita terhadap orang-orang yang kita nggak ngerti ini juga pasti beda dengan terhadap mereka yang kita ngerti. Tapi kemudian perilaku ini dikasih label ‘rasialisme’. Padahal ini bukan tentang warna kulit. Ini tentang kita ngerti atau nggak. Jadi, ini sama sekali miss the point buat saya.

  2. Sangat jarang yang mau membahas wacana rasial seperti tulisan bung Elia Bintang. Sangat menarik. Dan kita bisa sharing beberapa hal di sini.

    Bung Elia, pada dasarnya rasial adalah bentuk insting yang ada pada setiap manusia. Kita sendiri memahami identitas kita mencakup ikatan dari yang terkecil (keluarga) sampai yang terbesar (bangsa/ras). Secara tidak sadar, kita selalu punya ‘ikatan batin’ terhadap ras yang sama, tapi ‘waspada’ dengan ras yang berbeda. Itu sangat natural bahkan ilmiah.

    Insting anda sebenarnya bekerja sangat baik, meski intelektual anda berusaha menyangkalnya. Anda merasakan apa yang Corinne rasakan, dan memahami argumennya. Tapi anda berusaha untuk tidak setuju dengan argumennya. Yang sebenarnya terjadi adalah, rasial sudah ‘dikondisikan’ berkonotasi buruk, sehingga logika kita yang selalu menekan insting kita yang asasi itu.

    Padahal apa yang sebenarnya ‘berkonotasi buruk’ dari rasial/rasisme? Bentuk pelecehannya bukan? Dan pelecehan bisa terjadi atas nama apapun, bukan rasialnya itu sendiri. Logika kita sebenarnya dibutuhkan untuk mengendalikan insting kita, agar bentuk pelecehan itu tidak terjadi. Bukan untuk menyangkal insting itu sendiri.

    Teori anda pun terlihat sudah mengarah ke identifikasi rasial. Apa yang sebenarnya mau kita pahami dari ras lain? Hanya perbedaannya. Dari perbedaan itu kita bisa tahu batasan antara kita dan mereka. Batasan dalam berinteraksi dengan ras lain.

    Kemudian anda tampak sedikit bingung perihal “Malaysian” dan “Chinese”. Sangat jelas insting anda melakukan identifikasi rasial. Dengan chinese, anda berinteraksi dengan ras lain. Sehingga wajar ‘didakwa’ sebagai rasis. Tapi dengan malaysian, pada dasarnya anda sedang interaksi dengan bangsa/ras sendiri. Sehingga tidak bisa disebut sebagai rasis. Hal itu sangat wajar.

    Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah kita berani untuk jujur pada insting kita sendiri, mengakui bahwa kita memang rasial? Kejujuran yang dengan rendah hati akan mengubah cara pandang kita dalam banyak hal.

    Mungkin banyak yang bisa kita sharing mengenai hal paling ditabukan ini, bung Elia Bintang.

  3. Sebagian besar rakyat Indo itu bodoh, rasis, suka mendiskriminasi minoritas. Terutama orang Jawa. Saya WNI berkulit gelap asal NTT, pernah dan beberapa kali mengalami perlakuan dari etnis Jawa, bahkan sampai saking seringnya, saya seringkali menjadikan hal tsb sebagai bahan lelucon. Anda tidak bisa–dan tidak berhak–bilang ini bukan rasis sampe Anda menjadi korban pelecehan dari orang-orang ini. Apa Anda mau ingkar kalau peristiwa 1998 terhadap etnis Cina bukan tindakan rasis yang benar-benar terstruktur dan direncakanan secara sistematis dan didukung oleh Pemerintah?
    Menurut saya, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila sudah mampus sejak gelombang Reformasi (atau lebih tepatnya REVOLUSI) menghantam Indonesia pada 98 lalu.

    “Indonesian people choose to hate and reject things they DO understand.” – Me, with my sweet middle finger salute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *