Pantai Terbaik di Bali

Ini bukan tulisan tentang tiga atau lima atau sepuluh pantai terbaik di Bali. Ini adalah tulisan tentang pantai terbaik di Bali. Foto-foto yang gue punya mungkin nggak menyajikan setiap sisi dan sudut pantai itu, tapi foto lo selalu bisa googling.

Jujur aja, gue mikir sepuluh kali sebelum nulis entri ini. Sebagai orang yang cinta Bali, gue nggak pengen pantai ini diketahui banyak orang, dikunjungin banyak turis, dan jadi kotor, bising, dan nggak asik lagi.

Tapi, setelah gue pikir-pikir, cepet atau lambat pantai ini pasti bakal kedengeran juga beritanya. Pemerintah daerah dan penduduk setempat usaha promosiin itu. Ini juga bukan tulisan pertama di internet tentang pantai itu. Selain itu, gue nggak mungkin kekepin pantai itu buat diri sendiri dan segelintir orang aja. Kita semua tau, segala usaha untuk masukin suatu tempat ke dalam kapsul waktu selalu berakhir dalam kegagalan.

Dua puluh taun lalu, Pantai Kuta masih indah, Jalan Legian belum semrawut, Lovina belum ada yang tau. Sekarang Pantai Kuta overcrowded, Jalan Legian punya atmosfer yang nggak menyenangkan, dan Lovina kotor.

Alesan lain, pantai itu nggak deket dari bandara. Sampe kapan juga area Kuta akan selalu jadi yang paling rame karena lokasinya yang mudah dijangkau turis dan infrastruktur pariwisatanya yang baik. Turis modern yang tipikal—mereka yang ke Bali cuma untuk seneng-seneng dan nggak punya rasa lapar untuk petualangan aneh dan ribet—nggak akan pernah nyampe ke pantai terbaik di Bali ini. (Itu alesan kenapa utara Bali jauh lebih sepi daripada selatan, kan? Padahal alam di utara secara umum lebih indah.)

Dua tahun lalu, sebagian jalan ke arah pantai itu belum beraspal, bolong-bolong dan berbatu-batu. Belokannya lumayan banyak dan nggak ada tanda jalan. Untuk sampe ke sana lo mesti punya penciuman sekuat anjing pelacak.

Sekarang jalannya udah bagus. Belokannya tetep banyak, tapi tanda jalannya nggak kalah banyak. Selain itu, lo selalu bisa gunain GPS. Untuk sampe ke sana lo cuma mesti bisa bawa motor dan pegang ponsel dengan koneksi internet. Hidung lo lagi mampet pun nggak masalah karena penciuman lo nggak dibutuhin.

Tapi kalo lo nggak bisa bawa motor, cuma satu hal yang bisa dilakuin: sewa mobil. (Kalo lo nggak bisa bawa motor, salah besar lo ke Bali.) Nggak ada shuttle bus berangkat ke sana. Nggak ada angkutan umum. Nggak ada taksi di daerah sana, jadi ya judulnya lo bisa berangkat tapi nggak bisa pulang. Supir ojek juga males nganterin lo ke sana karena jaraknya yang jauh.

Begitu sampe di parkiran motor, lo mesti nurunin sekitar tiga ratus anak tangga (pantai itu emang persis di bawah bukit). Kalo lo mau bawa sesuatu—buku, misalnya—jangan sampe kelupaan. Karena kalo udah di bawah, lo pasti males ke atas lagi buat ngambil buku lo, sesuka apa pun elo baca.

Kenapa gue bilang ini pantai terbaik di Bali? Karena nggak hanya indah, pantai ini juga sepi dan bersih—sesuatu yang sekarang makin susah didapet di pantai-pantai di Bali (ada lagi sebenernya pantai yang sama-sama indah dan sepi di deket Padang Bai, tapi favorit gue masih pantai ini).

Gue ke sana bareng beberapa sodara dan temen pas lagi high season. Jumlah orang di sana totalnya paling cuma lima belas. Pas lagi low season bisa nggak ada orang sama sekali. Kalo lo ke sana, pantai itu, lengkap dengan pemandangannya yang luar biasa, serasa milik lo sendiri. Lo bisa seneng-seneng, bisa juga menyendiri tanpa harus khawatirin ‘gangguan-gangguan’ yang bisa lo dapet di pantai semacam Pantai Kuta.

Kalo lo udah pernah ke sana, lo pasti tau dari tadi gue ngomongin pantai apa. Ya, pantai terindah di Bali. Pantai Gunung Payung.

LinkedInShare

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *