Pantai Terburuk di Bali

Pantai terburuk di Bali adalah surga empat puluh tahun yang lalu. Paradise. Putih pasirnya, bersih, sepi, dan dilatarbelakangi lautan pohon kelapa. Gue bisa bayangin enaknya nongkrong di situ—berenang, berbaring sambil baca buku, berenang lagi, duduk sambil main gitar.

Kalo lo lagi sedih, nggak akan susah untuk bikin lo bahagia lagi. Kalo lo lagi cari inspirasi, nggak akan susah untuk bikin kepala lo penuh ide. Kalo lo lagi cari cinta, sepanjang pantai itu adalah cinta.

1975

1975

 

Pantai terburuk di Bali masih surga tiga puluh tahun yang lalu. Masih bersih, sepi, dan dilatarbelakangi lautan pohon kelapa. Belum ada hype yang over lebay di dunia tentangnya. Belum ada crowd yang lebih over lebay lagi di sana. Belum didatengin turis-turis modern yang tipikal, yang nggak punya taste, nggak punya cinta sama alam, nggak ada respek sama budaya setempat, dan ngertinya cuma teriak-teriak dan pesta pora.

Anak-anak kecil masih bisa main bola dengan lega—nggak kesenggol turis, nggak kepleset sampah plastik, dan suara tawanya nggak ditelen ama musik dari bar-bar dan klub-klub malam. Mereka bener-bener tinggal di surga—bukan surga buat gila-gilaan, melainkan surga dalam arti yang indah.

1985

1985

 

Kadang gue mikir, apa Bali layak kehilangan tempat-tempat surgawinya satu demi satu? Apa yang tersisa nanti? Resor? Klub malam? Pemabuk tidur di got? Kita semua emang cari duit. Kita semua juga berhak usaha sebaik-baiknya dan seneng-seneng. Tapi apa itu mesti dilakuin dengan jalan merusak?

Lo mungkin udah bisa nebak dari garis pantainya. Ya, pantai terburuk di Bali, yang dulunya adalah surga, adalah Pantai Kuta.

 

*Foto pertama milik Geoff Mitchell. Foto kedua milik Joanne Suseto. Gabung ke grup FB Lost Bali untuk liat udah seberapa jauh kita mengubah surga jadi neraka.

LinkedInShare

4 comments

  1. saya baru pernah sekali ke bali, secara spontan pula, separah itukah sekarang Kuta?
    kapan saya bisa kesana lagi ya? *nanya pada diri sendiri*
    dan saya senang blog ini sering apdet, cuma baru sempet komen lagi hehe

    1. Kalo perbandingannya sama foto di atas ya bagaikan bumi dan langit, Om, hehe….

      Iya, update tiap hari kok, dari Senin sampe Jumat, kan supaya gak kalah sama sampeyan yang rajin ngeblog 😀

  2. haha saya tetap tidak serajin & serapi dirimu kalo nulis, tapi ya menulis selagi bisa kenapa tidak, tapi menurutku semua pantai di luar kampungku ya separah apapun tetep keren, apalagi terkait dengan segala ‘aksesoris;’nya, soalnya di kalsel pantainya parah, airnya coklat, tapi tak ada pilihan lain. makanya mungkin pantai dimanapun sepanjang terlihat membiru tetep keren di mata saya hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *