Jangan Setubuhi Perempuan Nggak Berwawasan

“We need to make books cool again. If you go home with somebody and they don’t have books, don’t fuck them.” –John Waters

Udah lama gue mikir salah satu alesan buku dan baca nggak membudaya di Indonesia adalah sebagian besar penulis dan pembaca emang nggak keren. Gue nggak ngomongin kepribadian—orang yang nggak kenal lo jelas nggak tau kepribadian asli lo. Gue ngomongin penampilan.

Cuma kulit, emang.

Tapi bayangin dunia yang sepenuhnya abai terhadap penampilan.

Pasti boring banget.

Sekarang bayangin kalo kebanyakan penulis kayak Jack Kerouac dan kebanyakan pembaca kayak Dian Sastro. Pasti ada peningkatan, entah signifikan atau nggak, dalam minat baca.

Gue sengaja nyebut Dian Sastro karena akan bahas Ada Apa dengan Cinta. Di film itu, tokoh utama pria, Rangga, adalah cowok SMA yang misterius tapi ganteng dan suka baca buku. Film itu meledak di pasaran. Dan banyak orang, terutama abege-abege—gue sendiri masih abege waktu itu—jadi baca buku Aku, yang disorot terus dalam film itu.

Manusia itu sebenernya gampang aja. Kita nggak mau ketinggalan. Kita pengen in sync dengan orang lain. Dan untungnya, tren bisa diciptain. Kalo sesuatu meledak dan para opinion leader merespons ledakan itu, banyak orang bakal ikut-ikutan.

Mulai sekarang, kalo elo orang Indonesia dan seorang pembaca, jangan pasif. Peduli sedikit ama sekitar. Negara ini penduduknya kurang-lebih 250 juta dan buku yang cetakan pertamanya abis, yang jumlahnya cuma tiga ribu eksemplar, udah dianggep sukses. Menyedihkan banget.

Itu jelas bukan karena kemiskinan. Jakarta, kota yang taraf hidup penduduknya relatif baik, dihuni hampir sepuluh juta orang. Itu jumlah yang lebih dari cukup untuk bikin buku bagus cetak ulang berkali-kali. Tiga ribu eksemplar mah bukan apa-apa. Harusnya.

Mulailah sebuah tren. Tanamin kesadaran di dalam diri orang lain. Bukan dengan bicara, melainkan dengan tindakan nyata.

Jangan setubuhi perempuan nggak berwawasan.

Buat perempuan, jangan tidur dengan laki-laki bego dan nggak kultural.

 

*Foto diambil dari sini.

LinkedInShare

23 comments

    1. Kalo di Indonesia mungkin emang gitu. Pas gue ke Eropa semua orang, cowok maupun cewek, baca buku. Orang yang bilang gak suka tetep aja baca, minimal satu sebulan. Emang gak semua orang melek budaya dan pengen jadi lebih baik.

  1. entah gue layak disebut pembaca atau penulis, atau gak layak disebut keduanya, gue keren. selalu.

    jadi, gue mau mengumumkan pada dunia kalo gue pembaca, tanpa perlu memarkena kekerenan, karena memang sudah keren. ahahaha…

  2. Cadas tulisan lo bro.

    Soal cetak buku, kayaknya penulis sekarang lebih cenderung ke versi hemat budget. Gampangnya, kalau digital kan tinggal buat pdf. Salin tinggal ‘klak-klik’.

  3. Mungkin masalah waktu jadi problemnya..tapi ya itu tadi, masak satu buku sebulan sekali aja ngga bisa.. yah, emang ngga bisa disangkal juga sih. Mungkin juga banyak yang lebih memilih nonton film daripada baca buku…sebenernya feeding brain bisa darimana aja. But I totally agree with you, kalau baca buku mesti dibudayakan

    1. Ya, menurut saya gitu karena beberapa alasan:

      1. Informasi paling akurat kita dapet dari membaca, baik buku atau artikel di internet (asal sumbernya terpercaya), karena media konvensional mainstream selalu dihinggapi banyak kepentingan. Kayak gitu di seluruh dunia.

      2. Informasi yang kita dapat dari sejam membaca jauh lebih banyak daripada sejam nonton.

      3. Kalo kita biasa baca, nonton bukan masalah. Tapi kalo kita hanya terbiasa nonton, membaca mungkin akan jadi masalah.

      Kira-kira gitu hehehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *