Surat-surat Cinta yang Memabukkan

Beberapa hari yang lalu, karena gue menang kuis di blognya, Om Warm ngasih gue tiga buah buku. Gue baru baca abis satu buku. Karya Kahlil Gibran. Judulnya Surat-surat Cinta kepada May Ziadah.

Lo pasti tau siapa Kahlil Gibran. Secara singkat, dia adalah penyair dan seniman dari Lebanon. Dia lahir pada 6 Januari 1883. Pas remaja, dia pindah ke Boston, Amerika Serikat, bareng ibunya. Untuk beberapa lama dia balik ke Lebanon lagi untuk belajar sastra Arab. Setelah itu dia belajar melukis di Paris dan tinggal di New York. Beberapa bukunya yang paling sukses adalah Sang Nabi, Sayap-sayap Patah, dan Si Gila. Dia meninggal pada 10 April 1941.

May Ziadah adalah sastrawati Lebanon yang terkenal pada awal 1900-an. Lahir pada 11 Februari 1886, dia pindah ke Kairo pas gede dan jadi pemimpin redaksi harian Al-Mahrousah. Bukunya yang pertama, Bunga-bunga Impian, terbit pada 1911. Dia meninggal pada 1941.

Yang spesial dari buku Surat-surat Cinta kepada May Ziadah ini adalah dua orang ini nggak pernah ketemu dan percintaan mereka, yang hanya lewat surat-menyurat, bertahan lebih dari 20 tahun—sampe Gibran meninggal. Dan karena mereka berdua sama-sama tokoh sastra, surat-suratnya nggak cuma bahas cinta, tapi juga hal-hal kayak seni, bahasa, sampe kebebasan.

Ini pandangan Gibran tentang karya kreatif dan kajian tentang karya kreatif:

Bukankah keindahan kreativitas lebih abadi daripada kajian tentang orang-orang kreatif? Apakah engkau tidak yakin bahwa karya cipta puisi atau prosa lebih berharga daripada tesis tentang penyair dan puisi? Aku lebih ingin membaca sajakmu tentang senyum Sphinx, misalnya, daripada membaca artikelmu mengenai sejarah kesenian Mesir dan perkembangannya dari abad ke abad atau dari dinasti ke dinasti. Sebab, dengan menulis sajak mengenai senyum Sphinx engkau memberiku sesuatu yang bersifat pribadi, sedangkan dengan menulis tesis mengenai sejarah Mesir engkau mengarahkanku kepada pengetahuan yang umum.

Ini pandangan Gibran tentang kebebasan:

Kebebasan merupakan garis awal bagi jiwa untuk bergerak maju, seperti pohon ek tak dapat tumbuh di bawah bayangan pohon willow, dan begitu pula sebaliknya.

Tentang bahasa lisan dan tulisan, Gibran bilang begini:

Andaikata aku berada di Kairo dan mengatakan ini kepadamu secara lisan, pasti tak akan timbul salah pengertian di antara kita. Tapi aku tidak berada di Kairo dan tak ada sarana perhubungan denganmu kecuali dengan surat—dan menulis surat mengenai masalah seperti ini mudah meruwetkan soal-soal yang paling sederhana. Betapa sering, ketika ingin menyatakan pikiran yang sederhana, kita menggunakan kata-kata yang segera muncul melalui pena di atas kertas dan hasilnya biasanya berupa ‘syair prosa’ atau ‘esai reflektif’. Padahal kita merasa dan berpikir dalam bahasa yang lebih jujur dan akrab daripada bahasa yang kita gunakan untuk menulis.

Banyak hal menarik lainnya yang dibahas Kahlil Gibran dalam surat-suratnya kepada May Ziadah. Semuanya dia tuangin lewat cara bertutur yang indah dan membius. Buku ini juga tipis, bisa dikelarin dalam beberapa jam aja. Rasanya kayak minum minuman berkandungan alkohol tinggi, tapi cuma dikit.

LinkedInShare

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *