Pembaca Fiksi, Nonfiksi, dan Kecerdasan

Gue inget beberapa taun lalu seorang pesulap terkenal Indonesia pernah ngomong, kalo ke toko buku jangan cuma beli novel; beli juga buku yang menambah pengetahuan. Dia bicara seolah-olah nggak ada pengetahuan yang bisa didapet dari baca novel dan novel itu buat seneng-seneng aja.

Temen gue, pembaca fiksi yang antusias, juga pernah mikir-mikir, baca novel itu sebenernya bikin tambah pinter atau nggak. Orangtua pun cenderung lebih suka kalo anaknya baca buku pengetahuan (nonfiksi) daripada novel. Tapi, secara ilmiah, gimana kebenarannya? Apa iya baca novel itu sekadar hiburan aja?

Raymond Mar, psikolog dari York University di Canada, nerbitin sebuah jurnal ilmiah taun 2006. Judulnya Bookworms versus nerds: Exposure to fiction versus non-fiction, divergent associations with social ability, and the simulations of fictional social worlds.

Bookworms mewakili pembaca fiksi, nerds pembaca nonfiksi. Poin-poin penting dia kurang-lebih begini:

1. Pembaca yang ‘rakus’ sering kali dianggep canggung secara sosial, tapi sepertinya itu cuma bener untuk pembaca nonfiksi, bukan fiksi.

2. Pemahaman seseorang tentang karakter-karakter dalam dunia fiksi itu paralel dengan caranya memahami orang-orang di dunia nyata. Hal itu nggak ditemukan dalam diri pembaca buku-buku nonfiksi, yang umumnya hanya nyuguhin sekumpulan fakta. Itulah kenapa mereka kadang jadi pasif dalam pikiran dan canggung secara sosial.

3. Pembaca fiksi adalah orang yang paling mampu (dan terbiasa) berempati dan membangun teori-teori di dalam pikirannya. Dia mampu menampung ide-ide dan kepercayaan lain tanpa menolaknya dan, di saat bersamaan, tetap berpegang pada ide-ide dan kepercayaannya sendiri.

4. Pembaca fiksi nggak cuma udah liat ratusan, bahkan ribuan, jiwa dan keadaan dari perspektif banyak pengarang dan karakter, tapi juga ‘mengalaminya’—terlibat secara aktif secara mental dan emosional. Itulah kenapa mereka paling mampu berempati.

5. Empati itu terkait erat dengan pikiran terbuka. Kita nggak mungkin berpikiran terbuka tanpa pernah mosisiin diri di tempat orang lain.

Gue nggak bermaksud bilang, baca nonfiksi itu nggak penting. Kemampuan berempati dan memahami bakal percuma tanpa wawasan tentang hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Tapi kalo kita bicara kecerdasan (bukan wawasan), at least berdasarkan poin-poin di atas, sepertinya membaca fiksi punya kontribusi lebih besar.

LinkedInShare

8 comments

  1. Kalau gue coba menyeimbangkan bacaan nonfiksi dan fiksi. Gue sendiri kebanyakan baca nonfiksi suka ngerasa pusing sendiri dan untuk menghibur diri gue maka gue pun baca fiksi. Btw, buku2 fiksi juga banyak ngasi wawasan kok. 😀

    1. Iya, gue juga gitu. Dua jenis buku itu kan efeknya beda–yang satu ngasih informasi, yang lain bikin kita ngerti cara terbaik untuk ngolah informasi.

  2. Lebih suka baca fiksi. Untuk non-fiksi, gue lebih sering baca buku yang berhubungan dengan seni, desain, fotografi, dan sejenisnya. Ada beberapa biografi yang gue baca, tapi nggak banyak.
    Kelebihan fiksi tentu saja ada di keluasan ruang untuk berimajinasi dan efek emosi yang sanggup diberikan oleh ceritanya.

    1. Gue juga gitu, tapi kalo nonfiksi gue lebih suka yang kayak studi budaya, sosial, atau psikologi sosial juga gue suka (kenapa kita behave kayak gini, dll).

  3. membaca pada dasarnya memberi asupan baru untuk otak yang entah nantinya akan kita rasakan manfaatnya langsung atau tidak langsung. Saya termasuk orang yang membaca buku apa saja karena termasuk sehingga saya terlambat sadar kalau sherlock holmes itu hanya tokoh fiksi saja. Dua kategori di atas bisa di bilang sama penting. saya rasanya gambarannya seperti ini, kalau kita datang ke sekolah ya menggunakan buku nonfiksi tapi kalau ingin melihat kehidupan para pelakunya bisa kita temukan pada buku fiksi. ^_^

    1. Ya, saya juga mikir dua-duanya penting. Baca fiksi mungkin mengasah kepekaan dan empati, tapi kedua hal itu gak bisa diaplikasiin tanpa pengetahuan yang mencukupi tentang dunia sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *