Buku, Musik, dan Generasi yang Mencari Definisi

“Why has there been no new international style in 50 years? Because the new ideas, the new needs are not yet clear. (Hence, we content ourselves with variations + refinements on Art Deco and, for refreshment + fusions, parodistic—‘pop’—revivals of older styles.)” Susan Sontag

Entah taun berapa Sontag ngomong gitu—mungkin tiga puluh atau empat puluh taun lalu, mungkin. Karena sekarang, kalo kerjaan lo erat dengan seni dan budaya, ada banyak hal baru yang muncul, yang nggak sekadar kebangkitan gaya lama yang kemudian dimodifikasi.

Dalam musik, misalnya, terutama musik elektronik, banyak gaya baru yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya. Nggak berarti itu nggak punya akar sama sekali di masa lalu, sih. Tetep aja ada unsur modifikasi gaya lama. Tapi hasil akhirnya begitu kontras, begitu radikal, sehingga lebih cocok dibilang ‘gaya baru yang meminjam dan memodifikasi sedikit gaya lama’ daripada ‘gaya lama yang dibangkitkan dan dimodifikasi’.

Dulu, sebelum era teknologi, musik terdiri dari bunyi-bunyi yang relatif sederhana. Pas era teknologi, banyak musisi eksplor alat-alatnya dan ciptain bunyi baru yang kemudian diidentikin ama dirinya. Sekarang, pada era internet (atau era digital), musik lebih kaya bunyi—proses kreatifnya beda, hasil proses kreatifnya juga ditampilin dengan cara berbeda.

Itu baru dari segi bunyi, belum lirik.

(Liriknya sebenernya jadi jauh lebih sederhana, karena kita nggak butuh lagi dijejelin informasi yang udah bertebaran di mana-mana.)

Dalam dunia sastra, dulu, sebelum generasi TV, buku-buku didominasi oleh deskripsi yang luar biasa panjang-lebar. Penulis bisa nulis sepuluh halaman hanya untuk deskripsiin sebuah gedung, terutama kalo gedung itu ada di tempat asing. Orang zaman sekarang—termasuk gue, jujur aja—jadi males baca karya-karya klasik. Tapi sebenernya cara penulis zaman dulu deskripsiin sesuatu bisa dimengerti.

Kita adalah generasi internet, dibesarin sama orangtua-orangtua dari generasi TV. Kalo gue nulis kalimat ‘kota itu terasa sangat Eropa’, lo langsung sibuk memvisualisasikan Eropa sesuai apa yang lo liat di film-film (atau di internet). Gue cuma perlu nulis beberapa kalimat lagi untuk bikin deskripsi itu lebih spesifik dan lo udah nangkep maksud gue.

Tapi orang-orang pratelevisi belum kayak gitu. Semua harus dijelasin sedetail mungkin. Tugas yang sekarang diambil alih oleh TV dan internet dulu dipikul seluruhnya oleh para penulis.

Charles Dickens, yang karya-karyanya sangat deskriptif

Charles Dickens, yang karya-karyanya sarat deskripsi

Mulai dari generasi TV, buku-buku fiksi berjalan dengan alur lebih cepat, deskripsi lebih singkat, dan otomatis cerita yang lebih panjang dalam jumlah halaman yang sama. Pembaca nggak butuh lagi dituntun pelan-pelan karena udah ada gambaran sendiri di kepala. Pembaca nggak sabar kalo penulis ngulang-ulang apa yang udah dia bilang. Pembaca juga nuntut lebih banyak kreativitas dari penulis—misalnya dalam hal storyline—karena udah nggak zamannya ngeberat-beratin konten dengan informasi (hari gini, pada era internet, kita lebih melek informasi daripada generasi mana pun sebelum kita).

Masalahnya, dengan perubahan dan tuntutan yang meningkat dari generasi internet, nggak seperti dalam musik, belum ada perubahan berarti pada karya-karya tulis kreatif saat ini—at least gue ngeliatnya gitu. Buku-buku fiksi untuk generasi internet masih ditulis dengan cara yang kurang-lebih sama dengan buku-buku fiksi untuk generasi TV, yang mulai lewat masanya.

Itu yang gue maksud dengan generasi yang mencari definisi.

Berlawanan dengan kata-kata Susan Sontag, the new needs are clear. Kita pengen peningkatan kreativitas—sesuatu yang inventif. Kita pengen insight dari informasi-informasi yang bertebaran, bukan sekadar informasi. Kita pengen sesuatu yang ‘seolah berasal dari masa depan’—itu yang orang-orang musik saat ini selalu coba capai.

Kalo lo penulis, lo hidup di waktu yang paling menggairahkan sepanjang zaman. Lo punya kesempatan untuk jadi ikon di dunia baru. Ada kekosongan yang menanti diisi. Kenapa nggak lo kerahin seluruh intelejensi lo untuk ngisi kekosongan itu?

LinkedInShare

6 comments

    1. Iya, tapi mengenai pelajaran, saya gak tau deh…. Kayaknya kita secara umum baca fiksi untuk liat dan ngalamin dunia dari perspektif berbeda. 😀

    1. Berbeda, tapi somehow tiap generasi ada benang merahnya. Misalnya musik taun 80-an bisa dibedain dari 2000-an, padahal pas musisinya berkarya, belom tentu mikirin benang merah dengan musik lain segenerasinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *