Penulis Populer dan Penulis Cult

Di Indonesia, industri apa pun yang berhubungan langsung dengan masyarakat, terutama seni, adalah industri yang nggak berkepribadian. Hari ini genre A bisa terkenal banget, tapi besok mati dan berganti dengan genre B. Di musik, misalnya, pas Melayu lagi merajalela, musisi-musisi bergenre lain nggak punya tempat. Di buku, pas teenlit naik daun, penulis-penulis bergenre lain, kecuali yang udah bernama besar, tersisih.

Kadang kita bandingin industri kita dengan, misalnya, industri di Amerika. Kita bilang di sana selalu ada pasar untuk genre apa pun. Selalu ada pendengar rock, pop, jazz, blues, country, dan seterusnya. Selalu ada pembaca romance, fiksi ilmiah, fantasi, dan lain-lain. Seniman bisa fokus berkarya aja karena karyanya pasti bisa dipasarin.

Tapi apa itu sepenuhnya bener?

Kita ambil contoh John Mayer. Arguably, keterkenalan John Mayer saat ini adalah hasil dari album-album pertamanya yang bergenre pop cewek. Kalo dia main blues dan musik yang eksperimental dari awal, apa dia bakal terkenal? Tetep iya, gue rasa, tapi mentok di level Dave Matthews Band, band yang musiknya sebelas-duabelas ama Mayer.

Kita akan ngeliat dia dengan cara berbeda. Kita akan ngeliat dia sebagai musisi yang bagus tapi sempit. Dia nggak akan punya karisma sebesar yang dia punya sekarang.

Poinnya, mendobrak ke mainstream itu pilihan, di mana pun lo berada.

Kita semua tau Norwegian Wood adalah buku pop Haruki Murakami. Karya-karya dia sebelum dan setelah itu nggak kayak gitu. Tapi buku itulah yang bikin dia jadi superstar di dunia sastra Jepang. Ini kata dia tentang Norwegian Wood dalam sebuah wawancara:

Murakami: My style, what I think of as my style, is very close to Hard-Boiled Wonderland. I don’t like the realistic style, myself. I prefer a more surrealistic style. But with Norwegian Wood, I made up my mind to write a hundred percent realistic novel. I needed that experience.

Interviewer: Did you think of that book as an exercise in style or did you have a specific story to tell that was best told realistically?

Murakami: I could have been a cult writer if I’d kept writing surrealistic novels. But I wanted to break into the mainstream, so I had to prove that I could write a realistic book. That’s why I wrote that book. It was a best-seller in Japan and I expected that result.

Interviewer: So it was actually a strategic choice.

Murakami: That’s right. Norwegian Wood is very easy to read and easy to understand. Many people liked that book. They might then be interested in my other work, so it helps a lot.

Banyak penulis baru nulis dengan pikiran ‘yang penting terbit; apa pun jadi’. Tapi mereka yang lebih cerdas dan melek industri mikir apa yang harus dilakuin, apa yang terbaik dalam jangka pendek dan panjang. Dan pada akhirnya, pilihannya selalu cuma dua: jadi penulis populer atau penulis cult (atau populer dulu, terus berubah jadi cult).

Saran yang paling gue suka dateng dari Chuck Palahniuk.

“Write something that people might not ‘enjoy’ but will never forget. Our tastes change with time, and something that persists has a chance of getting appreciated more in the future.” –Chuck Palahniuk

Apa kesimpulannya? Di mana pun lo berada, lo selalu bisa jadi penulis populer atau penulis cult. Secara teori sama aja. Dan nggak ada strategi yang pasti bener. Semuanya soal pertimbangan dan pilihan. Populer atau cult, tulislah sesuatu yang nggak akan dilupakan pembaca.

LinkedInShare

4 comments

  1. endingnya selalu menarik, sebagai bagian puncak dari uraian2 sebelumnya. kalimat palahniuk itu mengingatkan saya akan fenomena lukisan van gogh, dan itu benar adanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *