Tiga Kutipan Albert Camus untuk Bikin Hidup Lo Lebih Bebas

Albert Camus, di samping Haruki Murakami, adalah penulis favorit gue. Novel pertamanya, The Stranger, adalah salah satu dari sedikit buku yang gue baca berkali-kali. Dia adalah filsuf terkemuka pada zamannya dan filosofinya yang keren, Absurdisme, punya pengaruh besar dalam cara gue memandang hidup. Gue pernah nulis tentang The Stranger di sini.

Walaupun lahir taun 1913, yang artinya dia itu generasi almarhum buyut gue, banyak buah pikiran dia yang menurut gue masih relevan untuk kehidupan kita saat ini. Ini tiga kutipan dia yang paling menginspirasi gue dan bisa bebasin lo dari belenggu apa pun yang selama ini nyusahin langkah lo:

“The only way to deal with an unfree world is to become so absolutely free that your very existence is an act of rebellion.”

Camus ngomong gitu dalam konteks absurdis, tapi sebenernya itu bisa aja diterapin dalam konteks apa pun. Dunia ini emang nggak bebas. Bob Dylan pernah bilang sesuatu yang kira-kira gini: kita pengen terbang bebas seperti burung, tapi apa burung bebas dari bingkai langit? Dunia ini nggak nyediain kebebasan absolut. Kita harus terima itu.

Tapi kita bisa berpikiran bebas.

Kita bisa bersikap bebas.

Ada orang-orang yang mengagungkan penghambaan. Kalo lo tanya gue, gue akan bilang, buat apa punya pikiran, tangan, dan kaki kalo cuma dibuat menghamba? Penghambaan, apalagi penghambaan total, adalah bunuh diri filosofis.

“You will never be happy if you continue to search for what happiness consists of.”

Jelas lo nggak akan bahagia kalo terus mikirin apa aja hal-hal yang membentuk kebahagiaan. Kebahagiaan nggak dibentuk oleh apa pun. Kebahagiaan bukan bangunan. Kebahagiaan, seperti kesedihan, adalah sesuatu yang datang dan pergi—dan itu alami.

Secara ilmiah, kebahagiaan adalah hasil kerja otak. Ada senyawa bernama dopamine—pernah gue bahas sedikit di sini—yang diproduksi otak kita supaya kita ngerasa baik, santai, dan percaya diri. Kalo kita sedih, itu karena ada senyawa lain, yang bertanggung jawab atas kesedihan, yang diproduksi dalam jumlah besar sementara produksi dopamine kita lagi rendah. Makanya saat stres, ada orang yang ngerokok terus, makan terus, berhubungan seks terus, dan lain-lain. Itu karena dopamine berkorelasi langsung dengan adiksi, makanan enak, seks, dan beberapa hal lainnya. Kita, di luar sadar, berusaha ningkatin produksi dopamine di otak kita untuk ngelawan stres.

Kebahagiaan adalah bagian dari siklus, nggak mungkin bisa jadi tujuan. Jadi, nggak perlu dilebih-lebihin.

“You will never live if you are looking for the meaning of life.”

Arti hidup lo ada di tangan lo, lo yang tentuin. Artinya, hidup hanya bisa berarti secara subjektif. Secara objektif, dalam skala besar, kalo kita liat sejarah, apa yang terjadi dari generasi ke generasi, hidup ini nggak punya arti khusus. Kita hidup hanya untuk hidup.

Kita mikirin hal-hal rumit—arti hidup, eksistensi manusia dan segala macem—karena intelejensi kita mencukupi untuk itu. Kalo intelejensi kita cuma selevel ayam, kita nggak akan mikirin. Padahal ayam hidup juga. Poinnya, sesuatu nggak mendadak eksis hanya karena kita bisa membayangkannya. Makanya banyak hal, terutama yang berkaitan dengan pikiran, cuma bisa dimaknai secara subjektif.

Bebasin pikiran lo. Lakuin segala sesuatu sesuai keinginan lo. Sering kali, apa yang banyak orang percayai sebagai kenyataan hanyalah fantasi massal.

LinkedInShare

5 comments

  1. yang aku tangkap dari 3 quote beliau di atas :
    1. konsistensi eksistensi rebel
    2. hakikat dari syukur
    3. berhenti galau

    demikianlah hehe

    1. Ya, tapi gak apa-apa. Kalo kita terperangkap dalam permainan anggap-menganggap, sulit jadi diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *