Hilang di Sumba (Bagian Kedua)

Alasan utama Eyang Tuti dan Eyang David ngajak gue ke Sumba adalah mereka pengen gue liat Upacara Podu. Mereka nggak ngasih gue banyak penjelasan tentang itu; mereka cuma bilang, itu berkaitan dengan agama tradisional Sumba: Marapu.

Waikabubak, dari balkon rumah kerabat Eyang Tuti dan David

Waikabubak, dari balkon rumah kerabat Eyang Tuti dan David

Begitu sampe di Sumba, setelah mendarat di Bandara Tambolaka dan tinggal di rumah Opa Kris di kota Waikabubak, gue tanya orang-orang soal upacara itu. Tentu saja gue nggak berondong mereka dengan sejuta pertanyaan. Santai aja. Sambil nongkrong, sambil makan babi hutan, sambil minum Peci.

Intinya, Upacara Podu diselenggarakan setiap wulla podu, bulan suci agama Marapu, yang jatuh sekitar bulan Oktober sampe November. Wulla berarti ‘bulan’, podu berarti ‘pahit’. Bulan pahit. Atau disebut juga ‘bulan pamali’ karena sepanjang bulan itu ada banyak pantangan dan ritual yang harus dijalanin.

Misalnya, pada entri sebelumnya gue bilang gue pengen liat gimana orang Sumba bunuh anjing, tapi nggak sempet karena gue cuma sebentar di sana. Itu bener, tapi yang lebih bener lagi adalah karena saat itu lagi wulla podu. Mereka nggak bunuh anjing pada bulan pamali.

Gimana kalo ada orang meninggal pada wulla podu? Dia nggak akan langsung dikubur. Dia akan disimpan dan penguburan baru dilakuin setelah wulla podu. Orang-orang boleh aja ngelayat, tapi mereka nggak boleh nangis. Atau kalo terlanjur nangis, nggak boleh meraung-raung.

Itu baru pantangan, tepatnya sedikit dari pantangan-pantangan yang ada.

Mengenai ritual (upacara-upacara), ada banyak banget yang mesti dilakuin selama bulan itu. Tujuan utamanya adalah mohon berkat, walaupun ada juga yang menggunakannya untuk bersyukur, bercerita tentang nenek moyang (agama Marapu sangat hormatin nenek moyang), dan nerangin proses penciptaan manusia.

Sepanjang wulla podu banyak orang berburu babi hutan. Mereka berangkat dalam kelompok—bisa dua puluh orang, tiga puluh, empat puluh, berapa aja. Mereka bawa banyak anjing karena hewan-hewan itu udah terlatih mencium keberadaan babi hutan.

Kata Yanto, tamo gue, mereka masuk ke hutan sore menjelang malam, bawa tombak dan tanpa alas kaki, terus naik-turun bukit ngikutin tuntunan anjing-anjing mereka. Biasanya mereka bermalam di hutan dan baru balik besoknya.

Pas seekor babi hutan muncul, nggak peduli ukurannya (besar atau kecil), harus dibunuh. Nggak boleh, misalnya, nunggu yang besar dan biarin yang kecil jadi besar untuk dibunuh taun depan. Itu kayak nolak berkat.

Yang menarik buat gue adalah cara bunuhnya. Salah satu dari para pemburu itu, biasanya yang jaraknya paling deket dengan babi itu, akan lemparin tombaknya dan harus kena pada percobaan pertama. Kalo nggak, hewan itu bisa nyerang balik dan gigit. Itu jelas nggak gampang, apalagi penerangan mereka cuma cahaya bulan.

Setelah dapet babi, mereka akan bawa itu ke lokasi upacara. Gue liat satu upacara di Kampung Tarung, sebuah kampung adat di tengah kota Waikabubak. Malam itu sebenernya nggak ada upacara dalam rencana. Tapi karena sekelompok orang dateng sambil bawa babi hutan dan nyanyi, upacara digelar.

Hewan hasil buruan itu dibawa ke natara podu (halaman suci utama yang terletak di tengah kampung) dan diserahin ke Rato (pemimpin spiritual). Para pemburu kemudian bicara dengan Rato dalam bentuk kajalla (pantun adat berisi tanya-jawab untuk mempertanggungjawabkan suatu perbuatan).

Gue dikasih tau kalo babi hutan pertama yang ditangkep adalah indikator hasil panen. Babi jantan: hasil panen akan memuaskan. Betina dan lagi hamil: hasil panen kurang baik. Kalo babi itu nyerang balik dan gigit pas diburu: bakal ada hama tikus.

Gue liat upacara lagi besok malemnya. Itu upacara yang udah direncanain, jadi rame banget. Ratusan orang dateng ke Kampung Tarung. Ritual awal yang dilakuin sama dengan sebelumnya. Tapi kemudian seorang Rato berdiri di tempat tinggi dan bicara. Semua orang dengerin. Gue nggak ngerti apa-apa karena beliau bicara dengan bahasa daerah.

Setelah itu, acara dilanjutin dengan ronggeng sampe matahari terbit. Lada talla, kerangka bambu untuk gantung gong sakral, didiriin. Ada yang mukul ubbu, gendang keramat yang hanya digunain pada ritual ini (setaun sekali). Menurut Bapak Epo, lapisan atas ubbu terbuat dari kulit manusia, yang mana itu dibenarkan ama beberapa orang lain. Apa emang bener-bener gitu atau nggak, gue mesti cari tau lebih jauh.

Ya udah, acara berjalan kayak gitu. Dengan iringan musik sederhana, seseorang bernyanyi. Begitu capek, digantiin ama orang lain. Siapa aja bisa nari di natara podu itu. Gue nonton dari pinggir bareng Suzanne. Dia bilang, semua itu luar biasa. Apa yang dia liat di Sumba kayak berasal dari dunia lain.

Terus gue mabuk.

Nggak tau lagi Suzanne di mana.

Yang jelas, gue ada di dunia lain.

LinkedInShare

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *