Hilang di Sumba (Bagian Ketiga)

Dalam ceramahnya pada upacara podu, seorang rato berkata pemerintah daerah pilih kasih. Mereka mengalokasikan dana untuk bantu acara-acara keagamaan umat Kristen dan Katolik, tapi nggak untuk Marapu. Justru umat Katolik-lah yang sering bantu, dan dia berterima kasih untuk itu.

Dia bilang, dia tau paling sedikit tujuh puluh persen orang Sumba adalah pemeluk Marapu. Cuma tiga puluh persen yang Kristen, Katolik, dan Islam. Itu berlawanan dengan statistik, tentu saja, yang nyebutin pemeluk Marapu cuma tiga puluh persen, sementara sisanya yang lainnya. Marapu dianggap aliran kepercayaan tradisional aja, bukan agama.

Dalam obrolan mabuk gue dengan Bapak Dion suatu malam, dia bilang Marapu harusnya diakui sebagai agama. Para pemeluk Marapu di Sumba itu nyata. Bahkan mereka yang ngaku Kristen pun nggak (sepenuhnya) lepasin kepercayaan mereka terhadap Marapu.

Itu emang bener.

Gue liat sendiri dan jadi bertanya-tanya karena lumayan banyak ajaran Kristen yang bertentangan dengan Marapu. Contoh, ada argumen yang bilang penghormatan pemeluk Marapu kepada leluhur nggak bertentangan dengan ajaran Kristen karena menghormati nggak sama dengan nyembah.

Tapi berdasarkan apa yang gue denger dan baca-baca di beberapa situs online, Marapu ngajarin pemeluknya untuk hormatin leluhur karena mereka udah meninggal, jadi ada di posisi yang lebih deket dengan Tuhan daripada orang-orang yang masih hidup.

Buat gue, itu jelas bertentangan dengan ajaran Kristen. Di Kristen, begitu seseorang meninggal, rohnya akan tidur dan nunggu untuk dibangkitin pada hari penghakiman terakhir. Jadi, mereka nggak ada di posisi yang lebih dekat dengan Tuhan daripada orang-orang yang masih hidup. Kristen juga nggak bicara soal penghormatan ke leluhur karena Tuhan pencemburu dan cuma dia yang boleh ditinggiin.

Contoh lain, Marapu mengenal benda-benda keramat seperti gong, ubbu (liat entri sebelumnya), tanduk kerbau, dan lain-lain. Dalam ajaran Kristen, manusia dilarang untuk mengeramatkan benda atau apa pun. Yang keramat hanya Tuhan.

Gue liat, secara umum, orang-orang Kristen di Sumba tetep hormatin para leluhur, nganggep benda-benda tertentu keramat, dan jalanin sejumlah pantangan pada bulan pamali (wulla podu), yang adalah bulan suci Marapu.

Gue sejujurnya bisa ngerti itu karena sepertinya Marapu dan adat Sumba adalah dua hal yang nyatu banget. Bisa dibilang, kalo lo nggak lakuin sebagian ajaran Marapu, lo membangkang dari adat Sumba.

Gue belum bisa mastiin itu sebenernya. Hal-hal yang gue sebut di atas lebih merupakan pertanyaan-pertanyaan dan persepsi pribadi gue terhadap apa yang gue liat di sana daripada kesimpulan yang pasti kebenarannya.

Kalo ada kesempatan ke sana lagi, mungkin gue perlu ngobrol ama pendeta, rato, dan orang yang bener-bener paham adat Sumba supaya pertanyaan-pertanyaan gue terjawab dan gue bisa hasilin tulisan yang matang.

 

Gue nyampein sesuatu yang agak provokatif ke Bapak Dion. Gue bilang, pengakuan negara terhadap sebuah agama itu nggak dilandasin kepedulian untuk mengakomodasi suara pemeluknya atau fakta bahwa agama itu ada dan berjalan. Ada banyak agama dan aliran kepercayaan yang nggak diakui di Indonesia, sehingga pemeluknya mesti cantumin satu dari agama-agama yang diakui di KTP-nya.

Alasan diakui atau nggaknya sebuah agama bersifat politis. Kata temen gue, yang pengalaman traveling-nya lumayan, ada satu agama yang selalu direkomendasiin untuk dipilih karena kalo seseorang milih itu sebagai agama resminya, urusannya bakal dipermudah dalam hal karier dan segala macem.

Bapak Dion, mabuk, bilang ke gue, sebaiknya kita nggak mikir gitu. Bapak-ibunya, kakek-neneknya, dan para leluhurnya selalu berpesan agar kita nggak membenci, nggak nyakitin orang lain. Segala sesuatu yang bisa nyulut kebencian lebih baik diabaikan aja.

LinkedInShare

4 comments

  1. kalimat pak Dion di paragraf terakhir itu benar adanya, dan sebenernya semua agama toh juga mengajarkan akan hal itu. Aku pikir mungkin orang2 yg iseng menyulut kebencian harusnya belajar agama dengan lebih baik lagi, biar alam pikirannya terbuka luas..

    1. Tapi akan selalu ada orang yang nyebarin cinta dan nyulut kebencian kan, Om. That’s… us, human 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *