Seluruh Konten Web Ini Boleh Disalin Tanpa Menyebutkan Nama Penulisnya

Seluruh konten web ini boleh disalin tanpa menyebutkan nama penulisnya

Pada artikel Bagaimana Menjadi Penulis Terkenal pada Era Internet, gue nulis tentang penulis muda Indonesia yang namanya diawali huruf D dan sebagian strategi promosinya nggak etis.

Baru-baru ini dia juga bikin sensasi lagi di Twitter. Dia dikritik ama seorang penyair karena tweets-nya nyontek syair-syair si penyair. Plagiat. Itu jelas datengin sorotan buat si D. Apa itu akan berefek buruk buat dia? Gue rasa justru akan lebih banyak efek positifnya daripada negatif. Yang D perlu lakuin hanya minta maaf dan keluarin buku baru.

Paragraf itu ternyata mancing komentar.

Lea bilang:

“Yang gue gak setuju itu soal copas karya tulis atau twit orang lain. Kalau soal kepantasan, tetap terasa kurang pantas. Despite dia copas twit untuk popularitas, tetap saja ada orang yang merasa dirugikan. Yang mungkin saja butuh lampu sorot agar bakatnya dilirik dan dihargai. Tapi lampu sorot itu ‘dicuri’ oleh orang lain dengan followers lebih banyak.”

Billy bilang:

“Meski gue pernah mangkel abis karena tulisan online gue dikopas & diaku-aku karya orang lain, I must say taktik D ini emang pintar dan sudah layak sesuai jaman.”

Pertanyaannya, terlepas dari etis atau nggak, apa kasus semacam ini—plagiarisme online—masih bisa dicegah? Kalo bisa, bagus. Kalo nggak, gimana kita sebaiknya merespons?

Kita ambil contoh kurasi konten. Itu bukan plagiarisme, emang. Yang kurator konten lakuin sama kayak yang DJ klub malam lakuin. Mereka sering kali nggak mainin lagu sendiri (mereka belum tentu punya lagu sendiri). Tugas utama mereka adalah muterin lagu-lagu populer yang digemari para tukang pesta. Nggak ada masalah dengan itu.

Tugas utama kurator konten adalah nampilin artikel-artikel terbaik di internet, yang relevan ama web mereka. Tapi bukan rahasia kalo ada sebagian kurator yang nggak etis, nggak cantumin sumber artikel yang mereka publish, seolah-olah artikel itu bikinan mereka sendiri. Ada lagi yang setelah ngumpulin sejumlah artikel dengan alat kurasi konten, masukin artikel-artikel itu ke alat spinning (semacam ubah kata), nambahin sedikit kata-kata mereka sendiri supaya rapi dan terstruktur, dan publish gitu aja tanpa nge-link ke siapa-siapa karena itu adalah karya yang udah ‘berubah jadi orisinal’.

Kita taulah orang-orang SEO lakuin itu. Mereka bikin puluhan blog, bikin konten dengan cara itu, bikin pertumbuhannya sealami mungkin (supaya ‘bisa diterima’ di mata Google), tapi pada akhirnya semuanya nge-link juga ke web utama.

Pertanyaannya, yang kayak gitu itu orisinal atau nggak?

Gini pendapat gue:

Pengetahuan kita juga diperoleh dari berbagai sumber. Saat nulis artikel, kita gunain bahasa kita sendiri, kita kumpulin informasi secara manual, jadi karya tulis kita nggak bisa dibilang plagiat. Tapi sejak kapan ‘manual’ jadi sinonimnya ‘orisinal’? Apa bantuan mesin serta-merta menjadikan proses pengumpulan informasi dan menulis nggak orisinal lagi?

Ini era digital. Ada banyak alat yang nggak ada pada era-era sebelumnya, alat untuk ningkatin efisiensi dan produktivitas. Kenapa kita harus anti terhadap cara kerja yang baru demi cara kerja yang usang?

Kita nggak bisa masukin dunia ke dalam kapsul waktu. Jelas ada hal-hal yang nggak kita antisipasi sehingga terasa mengejutkan. Secara alami, sangat sulit untuk mengklaim kepemilikan suatu ide. Apalagi kalo ide itu kita taruh di internet.

Hal terbaik yang bisa kita lakuin adalah beradaptasi. Seluruh konten web ini boleh disalin tanpa menyebutkan nama penulisnya.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

10 comments

  1. etika yg disebut Lea di atas ada benarnya,
    tapi kalau bener itu kalimatnya Pablo Picasso bahwa Good artists copy, great artists steal -itu juga benar adanya,
    dan kata empunya tulisan ini : Hal terbaik yang bisa kita lakuin adalah beradaptasi itu juga betul adanya.

    aku jadi teringat adegan2 dalam film dokumenter Banksy : Exit Through the Gift Shop, ngeliat karya2 Thierry Guetta yang hobi merekam video yg akhirnya bertransforjadi jd seniman street art, yang karyanya dihargai, menurutku itu lebih2 adalah reproduksi karya2 yang lain, kumpulan dari ide-ide dari apa yang dilihatnya sepanjang merekam perjalanan para street artist, dan endingnya sukses.

    aku pikir, semua yg terkait karya seni adalah kreatifitas tanpa batas, cuma soal teika itu soal harga diri, yang harus dibayar suatu saat hehe, bahkan karya akhir tahap sekolah, semacam skripsi, itupun tak lebih dari kompilasi karya orang lain, yang terangkum dalam tinjauan & daftar pustaka. apakah mereka benar-benar minta ijin sama yang punya teori dan pemiikiran yang dikutip? ya jalan tengahnya mencantumkan sumber, itupun kadang kutipan dalam kutipan *lah malah pembahasannya melebar*

    dan ujug-ujug aku malah kepikiran, kenapa tidak semacam banksy dan thierry guetta itu, kau dan Lea sekalian kolaborasi, minta tolong miss Lea kalau pas lagi iseng gitu daripada bengong mending bikin gambar apa saja, trus upload disini, sebagai ya semacam featurung image atau apalah dari tulisan. itu mesti keren! (aku dulu malah kepikiran bikin cerita dari gambar2nya lea, tapi argh kebanyakan ide yang belum/tak dieksekusi, malu2in! haha)

    1. Dulu saya ama Lea emang pernah iseng ide Lea bikin gambar untuk sebagian puisi saya, tapi gak pernah kejadian ampe sekarang hehe…. Iya, soal orisinalitas itu rumit, serba abu-abu. Buat saya, hanya ada sedikit cara untuk mengeksklusifkan suatu ide, antara lain membukukan atau memfilmkannya. Saya kan gak mungkin bilang Batman itu karakter fiksi ciptaan saya, misalnya. Di luar itu, ide sebaiknya kita balikin ke dunia dengan cuma-cuma, toh kita dapetnya cuma-cuma juga. 😀

      1. dulu malah pernah dibuatin gambar sama lea trus gue buat tulisan… pas dibaca lagi, kok critanya gitu ? hahahaha, maap ya le….

    2. Aku hampir gak pernah bengong eh Om :))))) Ada aja melulu yang dikerjain.
      Tapi emang pernah ada ide buat bantuin Elia bikin illustrasi puisi. Sayangnya sampai saat ini belum ada puisi yang disetor Elia :p

  2. Kalo batasan untuk disebut jiplak lagu konon kemiripan nada sejumlah 8 ketukan ya…. Kalau seni lain ada gak?

    1. Kayaknya gitu, Ndry. Lagu kebetulan gampang diukur jiplak atau nggaknya. Tapi kalo novel, misalnya, bisa aja satu novel punya 50 adegan yang sama dengan novel lainnya, tapi kalo ceritanya secara keseluruhan beda, itu gak masalah. Karena itu kan cerita kehidupan–semua orang pernah ngobrol di kafe, duduk di kereta, dll. Film Inception, misalnya, punya cukup banyak adegan yang sama dengan anime Jepang berjudul Paprika. Ide dasarnya juga mirip, tapi dikembangin, dibikin lebih kompleks, dan ditambah-kurangin ini-itu. Gak masalah. Every artist–all of us sebenernya–steals. 😀

  3. Sama kayak menggambar. Aku pernah bikin sketsa yang aku aplot di blog, dan ternyata ditiru sama instagrammers meski ngga 100% mirip. 😀

    Yakin aja sik apa yang uda jadi milik internet tuh uda bukan punya kita lagi. Jadi wajar kalok bakalan dijiplak atau bahkan dicuri. Antara bangga sama ngenes. Hahah 😛

      1. Berarti gue tua (-____-)

        Tapi nggak juga sih. Perkara kopas/plagiarisme dll harus dibedain dulu. Komentar gue di postingan lo kan kaitannya sama puisi yang dikopas habis2an dalam twit dan diakui sebagai hasil karya seseorang padahal jelas-jelas bukan. Bukan sekedar “kopas” in general.

        Di dunia ini, ide itu banyak banget yang mirip, nggak bisa juga langsung nuduh kopas kecuali jelas-jelas “mencuri” dan mengklaim konten org lain tanpa ada proses editing/modifikasi. Nah, kalau yang kayak gitu, beda lagi, lah. Orisinalitas adalah konsep yang paling absurd di jaman sekarang.

        Tapi… gak mungkin kan orang ujug-ujug jual memindahkan konten isi novel Amba ke blog, misalnya, sambil bilang “Ini karya saya.”?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *