Hal Terpenting yang Wajib Diketahui Penulis Masa Kini

Hal terpenting yang wajib diketahui penulis masa kini

Sebelum era internet, ada jarak antara satu pembaca dan yang lain. Saat sebuah buku terbit dan kita pengen tau kualitasnya, cuma dua hal bisa kita lakuin: berharap ada temen kita yang baca supaya bisa ditanya atau berharap buku itu diulas di media massa. Dua-duanya butuh waktu. Dan biasanya kita nggak sabar dan meluncur aja ke toko buku untuk beli.

Pada era internet, jarak itu nggak ada lagi. Saat sebuah buku terbit dan kita pengen tau kualitasnya, ada Goodreads, ada ratusan—mungkin ribuan—blogger buku yang aktif. Penerbit jelas ngomong yang bagus-bagus, tapi kebenaran atau ketidakbenarannya bisa diketahui dalam sekejap.

Simpelnya gini, sebelum ada internet, kalo gue pernah ke Amsterdam dan lo nggak, gue bisa aja bohongin lo dengan bilang di sana warna langit hijau daun. Lo nggak bakal tau gue jujur atau ngibul kalo lo nggak punya temen yang pernah ke Amsterdam juga dan nggak ada ulasan di media massa tentang itu. Tapi sejak ada internet, lo tinggal googling. Kalo gue ngibul, lo bisa langsung skakmat gue.

Internet ngubah segalanya.

Promosi penerbit nggak efektif lagi. Komunitas pembaca mainin peranan penting. Itulah kenapa dalam beberapa taun terakhir, penulis baru yang bukunya sukses adalah mereka yang serius bangun fan base. Mereka bikin pembaca memihak mereka bahkan dari sebelum buku mereka diterbitin—mungkin malah dari sebelum ditulis. Begitu buku mereka terbit, pembaca bersuara, bikin hype, padahal belum baca.

Para penulis cerdas ini tau—atau mungkin kebetulan aja—bahwa sering kali kita mutusin beli sesuatu karena pertimbangan emosional, bukan rasional. Apa Starbucks kopi terenak? Nggak. Mahal pula. Tapi kenapa rame terus?

Pembaca-pembaca ini—yang terhubung secara digital—mungkin udah lama follow akun Twitter si penulis, baca blognya, liat video-videonya, dan ternyata sebagian orang yang mereka kenal juga gitu. Dari yang awalnya ketertarikan pribadi, jadi ketertarikan sosial, jadi pengalaman sosial. Ada unsur emosi di situ. Nggak heran si penulis sukses.

Kesimpulannya, hal pertama yang mesti dilakuin penulis muda masa kini nggak beda dari masa lalu: bikin karya sebaik-baiknya. Yang beda adalah hal kedua: bangun fan base sedini mungkin, dengan serius, karena saat ini kesuksesan sebuah buku sepenuhnya di tangan penulis, bukan penerbit.

 

Gambar diambil dari sini.

 

LinkedInShare

9 comments

  1. fenomena ini terbukti benar adanya saat kmaren si rhein fathia rajin promo novel terbarunya gloomy gift via twitter, facebook, pre ordernya sukses, jadi tak sabar menunggu cara promo novel situ yg terbaru nantinya 😀

    1. Kemaren-kemaren saya terlalu idealis. Ada banyak hal yang saya abaikan. Semoga yang berikutnya bisa sukses hehe..

  2. Iya yah. Kekuatan komunitas. Tapi kalok penerbit segede Gramedia, orang awam yang jadi target pembaca biasanya lebih ngaruh sih. Itu pun kalok sesuai selera.

  3. Benar juga tuh, sebuah komunitas. Rupa-rupa pun fan base justru memiliki peran lebih dibandingkan dengan promosi dari penerbit. Beberapa teman saya yang sudah berhasil menelurkan karya juga demikian getol dalam membangun komunitas seperti itu. Dan dengan cara itu juga karya mereka berhasil diperkenalkan

    1. Iya. Kecuali kita udah bernama besar, sia-sia ngarepin promosi dari penerbit. Bayangin berapa banyak buku yang diterbitin penerbit. Tentu dengan budget yang terbatas, penerbit akan prioritasin penulis yang lebih berdaya jual daripada penulis kecil. Lagi pula, emang udah seharusnya penulis kecil kerja lebih keras. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *