Buku Laku atau Buku Bagus?

Gue inget, sekitar setahun yang lalu, dalam sebuah percakapan Twitter dengan entah siapa, Dewi Lestari—atau Dee—bilang dia lebih milih nulis buku yang laku daripada yang menang penghargaan. Alesannya, dia udah pernah menang penghargaan.

Alesan yang sangat masuk akal.

Dewi Lestari adalah penulis besar. Dia nggak perlu buktiin apa-apa lagi. Kalopun lo datengin dia dan bilang dia payah, paling lo ditraktir kopi dan dikasih ongkos taksi pulang supaya nggak kehujanan. Bisa dibilang, apa pun pendapat lo tentang dia nggak ngaruh. Dia tau siapa dirinya.

Tapi gimana dengan kita yang nggak atau belum sehebat dia?

Buku Laku atau Buku Bagus?

Ada dua macam buku laku: buku yang laku karena bagus dan buku yang laku padahal jelek tapi penulisnya terkenal. Sedangkan buku yang berpotensi dapet penghargaan—kita bilang aja buku bagus—nggak selalu laku.

Seniman sejati akan mentingin kualitas. Dia percaya pada akhirnya black forest akan menang dari rainbow cake. Itu bener. Tapi dia lupa sesuatu: saat ini dia bisa aja black forest yang salah racik, perlu banyak penyempurnaan, tapi menilai dirinya terlalu tinggi. Pada titik ekstrem, kalo dia kekanak-kanakan dan anti-kritik, dia akan bilang dia nulis untuk dirinya sendiri. (Kalo bener begitu, ngapain kirim naskahnya ke penerbit?)

Penulis yang rasional, tanpa sepenuhnya ngorbanin kualitas, akan bikin karya yang datengin sorotan dulu. Dia tau, untuk mencapai sesuatu yang fantastis, dia mesti nyingkirin pikiran-pikiran fantastis. Dia mesti mikir praktis. Karier menulisnya panjang. Dia bisa bikin karya bagus kapan dan berapa pun yang dia mau setelah dapet sorotan.

Bahkan Haruki Murakami nulis Norwegian Wood karena alesan strategis. Dia mau mendobrak ke mainstream supaya buku-buku anehnya dapet pembaca lebih luas. Dan kita tau siapa dia sekarang: legenda hidup.

Penulis baru—termasuk gue sendiri—sebaiknya rendah hati. Sorotan adalah yang utama. Karya bagus yang nggak laku karena nggak tersorot itu kayak Michael Jackson moonwalk di kamarnya sendiri. Percuma.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

      1. ya exellence disin menurutku toh relatif dalam ‘ukuran2’ tertentu, menurutku semua usaha yg sungguh2 akan menghasilkan sesuatu yg excellent, dan tentu ukuran utk tiap orang beda2 #bahasakuribet 😐

  1. Kalok di awal, aku liat sekarang banyak calon penulis yang berusaha ngikutin gaya ceritanya Raditya Dika. Dan mereka banyak ditolak karena uda terlalu mainstream. :/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *