Agen Penerbitan dan Kenapa Penulis (Nggak) Butuh Mereka

Apa itu agen penerbitan—atau literary agent?

Gampangnya gini: agen penerbitan nanganin hal-hal bisnis yang libatin penulis. Dia wakilin penulis dan karya tulisnya ke penerbit. Dia lakuin negosiasi kontrak, bikin rencana pemasaran bareng penerbit, dan lain-lain.

Bayangin manajer seorang penyanyi. Nah, kayak gitu. Manajer ngurusin hal-hal bisnis si penyanyi supaya si penyanyi bisa fokus nyanyi dan ningkatin diri. Agen penerbitan ngurusin hal-hal bisnis si penulis supaya si penulis bisa total lakuin sesuatu yang adalah keahliannya: nulis.

Agen Penerbitan dan Kenapa Penulis (Nggak) Butuh Mereka

Di negara kayak Amerika dan Inggris, lembaga penerbitan besar semacam Harper Collins atau Penguin nggak nerima pengajuan naskah langsung dari penulis. Penulis yang berminat kirim naskah ke mereka berasal dari berbagai negara. Tanpa agen, bayangin berapa banyak naskah yang mesti mereka cek tiap hari?

Di sinilah peran agen jadi penting. Penerbit-penerbit besar itu ngandelin agen-agen kepercayaan mereka untuk nemuin naskah-naskah terbaik. Dalam perkembangannya, sering kali agen mesti lakuin pra-penyuntingan. Misalnya ada cerita keren tapi tata bahasanya berantakan. Agen akan, bareng penulisnya, rapiin tulisan itu sampe layak diajuin ke penerbit, dan baru beneran diajuin.

“Agen naskah sangat membantu kami, para editor, karena mereka sudah lebih dulu mempelajari sekian banyak naskah, dan mungkin bahkan sudah menyunting beberapa di antaranya bersama pengarang bersangkutan. Saya tidak lagi dapat membayangkan kerja penerbitan tanpa agen naskah. Menemukan pengarang berbakat, khususnya dari luar negeri, menurut saya akan jauh lebih sulit tanpa mereka.”Friederike Achilles, editor di Bastei Lübbe, salah satu penerbit buku terbesar di Jerman.

Gimana dengan di negara-negara yang persaingannya lebih rendah? Kita ambil contoh Singapura. Di sana penerbit dapet kiriman naskah jauh lebih sedikit daripada di, katakanlah, Amerika dan Inggris. Karena itu, sebagian besar penerbit nggak ngeliat jasa agen penerbitan sebagai kebutuhan. Malah penerbit sebenernya kurang suka agen karena menambah pihak yang terlibat dan banyak campur tangan dalam pemasaran. Contoh, buku yang dipegang si agen kurang laku dan penerbit pengen alihin dana promosi ke buku lain, bakal ribet. Dalam hal ini, bukannya simbiosis mutualisme kayak di dunia sastra barat, jasa agen enaknya buat penulis aja, nggak buat penerbit.

Gimana dengan di Indonesia? Sekitar setaun lalu gue ngobrol dengan beberapa temen penulis dan editor. Mereka semua, lucunya, berpendapat sama: dunia sastra Indonesia belum maju, infrastrukturnya belum terbangun baik, makanya agen penerbitan nyaris nggak ada. Tapi apa bener begitu?

Kalo menurut gue, agen penerbitan nyaris nggak ada karena kita emang nggak butuh. Kalo jumlahnya banyak, bakal jadi kayak di Singapura. Lagi pula, di Indonesia jualan tiga ribu eksemplar buku aja susah. Bayaran agen, yang diambil dari keuntungan penjualan buku (dengan persentase yang lebih rendah daripada penulis), bakal kecil banget. Nggak berarti.

Dalam konteks ini, agen penerbitan itu kayak pemanas ruangan. Semua rumah di negara-negara barat punya itu supaya penghuninya bisa lewatin musim dingin dengan hangat. Tapi kita nggak punya—bukan karena nggak maju, tapi karena nggak butuh.

Dari sisi penulis, penerbit-penerbit sini juga bisa dikontak langsung, bisa diajak rapat, cukup fleksibel dalam negosiasi, dan cair dalam hubungannya dengan penulis. Jadwal promo penulis relatif nggak padat. Rencana pemasarannya nggak rumit. Jadi, kenapa kita harus punya agen penerbitan?

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

3 comments

    1. Menurut saya sih sebenernya kita bisa aja punya agen penerbitan, tapi sistemnya kita buat sendiri supaya menguntungkan buat semua pihak, jangan ikut-ikut sistem yang udah ada di Amerika atau Inggris karena nggak relevan

    2. Saya suka menulis, sy banyak menulis. Sy suka cerita misteri, plot dan kejahatan yg susah dtebak. Sy ingin mendapat kesempatan menulis sebuah cerita berikut script nya. Bab 1 bisa probono untuk menilai kemampuan sy. How is that sound? Sy harap ada yg berminat memberikan sy kesempatan itu. Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *