Bagaimana Cara Berhenti Merokok dan Menulis dengan Kesetanan

Satu hal yang mesti disadari para perokok yang pengen berhenti adalah nggak ada orang berhenti total dari merokok dalam sekali percobaan. Biasanya berkali-kali—empat, lima, tujuh—karena berhenti merokok emang susah. Nggak hanya tubuh kita yang kecanduan, tapi juga pikiran dan psikis. Contoh, pas stres, kita langsung cari rokok.

Gue udah berhenti ngerokok empat kali. Pernah setahun, setengah tahun, sebulan, dan sekarang lagi percobaan keempat. Apa target gue? Berenti seumur hidup? Nggak. Gue masih pengen ngerokok suatu hari nanti. Soalnya ngerokok enak. Tapi untuk sekarang, pendekatan gue sama kayak pendekatan berhenti para alkoholik: one day at a time.

Bagaimana cara berhenti merokok

“Anyone can fight the battles of just one day. It is only when you and I add the battles of those two awful eternities, yesterday and tomorrow, that we break down. It is not the experience of today that drives us mad. It is the remorse or bitterness for something that happenned yesterday or the dread of what tomorrow may bring. Let us therefore do our best to live but one day at a time.” Richard Walker, Twenty-Four Hours A Day

Pengalaman gue, yang paling susah selalu hari pertama. Karena dari yang biasanya ngerokok sejam sekali (atau dua kali), mendadak nggak ngerokok sama sekali. Bikinlah sepuluh cangkir kopi. Atau beli sekardus permen. Lo nggak akan kena diabetes kalo cuma lakuin itu satu-dua minggu. Percaya gue: kalo lo berhasil lewatin hari pertama tanpa rokok, hari kedua lo bakal bangun tidur dengan hati bahagia.

Trik lain adalah praktikkanlah filosofi tato. Lo pernah ditato? Kalo nggak pernah, filosofi tato itu kira-kira gini: don’t fight it. Kalo lo berusaha ngelawan rasa sakitnya—misalnya lo ngomong ‘gue bisa laluin ini’ atau ‘gue kuat’ atau segala bullshit lainnya—justru makin kerasa sakit. Terima aja. Terima kalo ditato emang sakit. Terima kalo lo sebenernya pengen ngerokok tapi memilih untuk nggak.

Pertama, energi yang lo keluarin lebih sedikit kalo lo terima, jadi bertahannya juga lebih lama. Kedua, kalo lo terima, pikiran lo jadi nggak terpusat ke sesuatu yang justru mesti lo lupain: rokok.

Dan setelah gue pikir-pikir, ternyata dalam menulis pun gue pake pendekatan yang sama. One day at a time dan filosofi tato. Semua penulis profesional gue yakin juga gitu. Kalo kita memulai dengan pikiran kita mesti duduk di satu ruangan sepanjang hari selama setengah taun atau setaun, bikin tiga-empat draf, masuk proses editing, dan seterusnya, gue jamin: jangankan satu novel, satu kalimat aja nggak bakal ditulis.

One day at a time. Kasih yang terbaik pada hari itu. Besok urusan lain. Itu hidup. Matahari terbit, matahari terbenam. Ritme. Jangan rusak ritme itu. Ritme yang stabil lebih gampang di-maintain daripada tanpa ritme alias nggak beraturan. Manfaatin momentum untuk terus ngerjain proyek lo dengan konsisten, one day at a time.

Filosofi tato. Nulis emang ngebosenin. Seisi dunia juga tau. Ada saatnya lo ngerasa semangat karena jatuh cinta dengan karakter lo atau ceritanya lagi di bagian yang seru, tapi ada saatnya juga—jujur aja: sering—lo ngerasa bosen. Terima itu. Rayain. Setiap hari kita harus ngerayain betapa membosankannya aktivitas menulis. Gimana ngerayainnya? Dengan terus menulis.

Dua hal itu adalah rahasia di balik segala sesuatu yang dibangun dengan kesetanan. Kalo lo pengen berenti ngerokok, jangan mengeluhkan kesulitan-kesulitan yang lo hadapi. Kalo lo pengen kelarin sebuah novel, jangan mengeluhkan waktu pengerjaannya yang lama dan betapa membosankannya hari-hari lo. Mengeluh itu untuk anak kecil. Tutup mulut lo dan lakuin apa yang perlu dilakuin.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

10 comments

  1. don’t fight it, seperti halnya menerima takdir? 😀

    eniwei, itu ya seperti komen di tulisan sebelumnya, intinya seperti berusaha menikmati luka #tsah

    1. Hmm, saya sih sebetulnya gak percaya takdir 😛 Tapi maksud saya itu kayak meditasi. Kita gatel, misalnya, tapi gak kita garuk. Kita terima aja bahwa kita gatel (make peace with the gatel halah)..

  2. Berusaha menikmati luka, kayak nya jalan terbaik dari pada terus mengeluh. Dan alhamdulillah gw dah mulai bisa berhenti merokok meskipun masih sebatang dua batang dalam seminggu kalo lagi pada ngumpul hehehe

  3. Aku belasan kali nyobak berhenti, en alhamdulillah dalam tiga taun terakhir ini ngga sampek ngabisin 3 bungkus rokok.. 😛 Pernah pas lagi stress ya abis 2 bungkus, abis itu lupa lagi.. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *