Filosofi Hidup Irit Ala Seniman

Orang-orang boring sulit mengerti ini: bagi para seniman, hidup mereka bukan tentang diri mereka lagi, melainkan tentang seni yang mereka ciptain. Orang-orang boring menekankan peningkatan kemampuan bertahan hidup seiring mereka mendewasa dan menua, karena tanggung jawab mereka pun tambah. Tapi bagi para seniman, dedikasi adalah yang utama. Yang lainnya harus ngikutin itu, nggak bisa ditawar.

“If you don’t take money, they can’t tell you what to do, kid.” Bill Cunningham

Filosofi Hidup Irit Ala Seniman

Lagi pula, konkretnya, apa sih bertahan hidup itu? Bertahan hidup itu cuma gini:

1. Hitung apa aja kebutuhan lo dalam sebulan

2. Hitung berapa duit yang lo perluin untuk itu

3. Pikir gimana dapetinnya

Ambil duit sesedikit mungkin dari orang lain. Kalo kebanyakan, nanti mereka jadi banyak nuntut dan lo terpaksa nurut. Kebebasan lo untuk berkarya adalah yang utama. Kalo hidup di kota besar makan duit terlalu besar, pindah ke kota kecil. Kalo hidup di kota kecil masih kemahalan, pindah ke desa. Lakuin apa pun untuk seni lo.

Contoh: Jakarta adalah kota yang mahal untuk tinggal. Jogja lebih murah. Bahkan Bali, nggak kayak asumsi banyak orang, lebih murah daripada Jakarta. Dan cari duit juga gampang di Bali, kalo lo punya imajinasi. Jadi kalo tinggal di Jakarta bikin lo mesti cari duit terus dan sedikit berkarya, ngapain terus di situ? Gerak. Lo bukan pohon.

Gue bikin artikel ini karena banyak seniman yang pada satu titik ngorbanin seni mereka demi tanggung jawab yang nggak harus mereka pikul. Padahal seniman sejati selalu berontak dan akan hadapin apa pun demi seninya.

“All creative people need something to rebel against. It’s what gives their lives excitement.”  Paul Arden

Ngirit emang bukan gaya hidup terkeren, tapi seberapa besar lo cinta seni lo? Suatu hari nanti, mungkin lo sukses dan bisa hidup lebih nyaman. Tapi kalaupun nggak, bukankah hidup yang berdedikasi lebih membanggakan daripada jenis hidup apa pun?

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

13 comments

  1. Ini semacam topik diskusi kita terus menerus. Seniman yang beneran itu, emang subyektif banget, dan pasti hedon juga (inspirasi butuh asupan hedon). Hidup cuma mikirin dirinya sendiri, makanya nggak perlu duit banyak. Ya kecuali seniman yg selalu butuh modal kayak pelukis, fotografer, dan videografer.
    Banyak yang akhirnya ngalah sama idealisme karena keluarga, anak, atau istri. Tapi nggak sedikit yang bisa ngejalanin dua-duanya, hidup sbg seniman dan sbg penyedia untuk keluarga. Jadi, kalau menurut gue, semua itu nggak bisa disamaratakan. Nggak ada yg lebih baik antara seniman yang individualis dan buruh kapitalis yang memberi makan keluarga. Semua baik dalam porsinya sendiri-sendiri. Menurut gueeee… :p

    1. Pendapat kita tentang inspirasi pun beda. Menurut gue, seniman itu gak butuh inspirasi. Kalo lo kerja tiap hari dengan konsisten dan maintain ritme itu kayak orang chain-smoking, inspirasi bukan sesuatu yang mesti dicari. Inspirasi ada di dalem lo. Inspirasi adalah lo.

      Jack Kerouac jalanin kehidupan yang hedon, tapi Marcel Proust nggak, Murakami nggak. Kata Anton Chekhov, penulis hanya perlu diem di kamarnya, ide-ide akan dengan sendirinya datengin dia. Orang-orang yang terlahir seniman itu sensible atau perseptif dan akan selalu punya karya terlepas dari gimana mereka jalanin hidupnya. It’s their curse.

      Gue emang gak bandingin seniman yang individualis dengan buruh kapitalis yang kasih makan keluarga. Bahkan kata ‘keluarga’ gak disebut sekali pun di tulisan di atas. Kalo gue mau bandingin, judul tulisannya pasti ‘Filosofi Gaya Hidup Seniman Individualis dan Buruh Kapitalis’ atau semacamnya. Hehe….

      1. Nggak setujuuu… nggak semua seniman sama. Kalo seniman visual nggak keluar dari kamar, lihat pameran, berbicara dengan banyak orang, melihat zaman, bergaul dengan sesama seniman visual, dia mati. Komikus2 Jepang misalnya, banyak dari mereka yg harus liburan sebulan penuh di luar negri setiap selesai bikin komik. Tujuannya biar dapet ide, biar fresh lagi, dan sekalian observasi untuk ide cerita selanjutnya. Tapi ya, sama kayak tiap orang punya karakter dan kemampuan menyerap informasi yang berbeda, emang satu solusi nggak bisa apply buat semua orang. Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri.

        1. Kan yang lo bilang di komentar sebelumnya hedon. Kalo liburan, liat pameran, ketemu orang, dan observasi (atau riset), itu sih gak termasuk hedon. Tiga hal terakhir malah termasuk kerjaan. Kalo seniman biasanya ngambil liburan lebih panjang, itu pun gak termasuk hedon karena kerjaan seniman emang lebih berat secara mental dan emosional dibanding kerjaan lain pada umumnya (at least menurut gue).

  2. Trus kamu tinggalnya di Bali? 😀

    Makanya aku mutusin buat pindah ke Jogja.. Aku mau belajar fokusin ke doddle en bikin sketsa, sama fotografi jugak sih.. Medan aja uda terlalu urban buat aku. Apalagi Jakarta ya.. Haaaaa.. Ngga ada seninyaaaa.. Bosyen. ._.

    1. Aku pernah tinggal di Bali 4 bulan, tapi sekarang lagi di Jogja. Dua-duanya enak, tapi kayaknya aku lebih seneng Bali. Kalo Jakarta sih emang cuma kota buat kerja. Nggak ada hal lain yang ditawarin 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *