Kreativitas Telah Dikondisikan Begitu Rupa sehingga Kita Mesti Mendobraknya

Salah satu band kesukaan gue adalah Toe, band instrumental dan eksperimental asal Jepang. Gue emang punya apresiasi tinggi terhadap segala sesuatu yang eksperimental. Buat gue, itulah pendekatan terbaik dalam penciptaan karya seni. Singkatnya, kalo seniman berenti bereksperimen, terus di mana letak seninya?

Kalo lo ngerti musik dan liat penampilan Toe di atas, lo pasti nangkep ada perbedaan mendasar pada musik mereka. Di musik, umumnya drum dan bas bermain stabil, bertindak sebagai dasar (atau pengawal), sementara gitar dan kibor lebih playful, menjangkau ke sana-sini, menghadirkan bermacam bunyi untuk ngasih warna-warna tertentu.

Toe ngasih sesuatu yang bertolak belakang dari itu. Gitar, kibor, dan juga bas bertindak sebagai dasar bagi drum untuk main dengan bebas. Si penabuh drum boleh main ‘sesuka hati’ selama masih di dalam koridor yang dibentuk gitar, kibor, dan bas. Itu ide yang sederhana, tapi kenapa cuma mereka yang kepikiran? Atau, kenapa cuma mereka yang berani melakukannya—at least pada awalnya?

Kalo lo denger lagu-lagu mereka versi rekaman, lo akan nangkep satu perbedaan lagi. Hanya ada sedikit mic ditaruh di sekitar drum sehingga suara masing-masing komponen—hi-hat, snare, cymbal, dan seterusnya—kayak nyampur aja gitu. Itu teknik yang (nyaris) nggak dipake siapa pun, karena emang nggak konvensional, bahkan ‘salah’. Tapi musik Toe asik-asik aja—asik banget, malah.

Kreativitas Telah Dikondisikan Begitu Rupa sehingga Kita Mesti Mendobraknya | Controversy

Lo pernah baca The Miner? Itu novel eksperimental karya penulis klasik Jepang, Natsume Soseki. Gue sebenernya nggak suka karya-karya dia yang lain karena sebagaimana tulisan fiksi pada jaman itu, ceritanya cuma seputar drama keluarga, cinta, perselingkuhan, dan konfliknya jadul dan sama sekali nggak menarik buat orang jaman sekarang. Tapi The Miner adalah salah satu novel favorit gue.

Ini alesannya:

Sampe hari ini, umumnya editor selalu minta cerita yang padat aksi dari penulis. Tiap adegan juga mesti bangun-membangun untuk mencapai suatu kesimpulan. Soseki pake pendekatan yang bertolak belakang dari itu. Delapan puluh persen cerita The Miner terjadi di dalam diri si narator—pikiran-pikirannya, perenungannya, konflik batinnya, dan seterusnya—dan hampir semua adegan nggak mengarah ke mana-mana. Kedengerannya aneh, emang. Makanya lo mesti baca. Keren banget.

Conditioning terjadi hampir dalam segala area kehidupan. Dari lahir kita dikondisikan untuk jadi orang dengan kepribadian dan nilai-nilai tertentu. Kalo kita lahir di tengah masyarakat yang berbeda, conditioning-nya beda lagi. Karya kreatif juga gitu. Semua ada konvensinya. Kalo lo bosen dengan itu, kalo lo terlalu liar untuk tunduk, yang perlu lo lakuin cuma satu: buat segala sesuatu bertolak belakang dari conditioning itu, dari konvensi.

LinkedInShare

3 comments

  1. aku jd teringat risetku sekarang, sepertinya seperti Toe di atas, jika biasanya membangun hipotesis berdasarkan teori-teori yg ada, sekarang bikin kebalikannya, bikin teori dan ngebahas belakangan, iya bukan hal baru sekali sih, tapi menarik, serasa seniman, dan ya ya ini sekaligus curcol di tempat yang salah kayaknya hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *