Bayangkan Jika Pembaca Dilihat dengan Cara yang Sama dengan Perokok dan Pemabuk

Poin artikel ini sama dengan iniwe need to make books cool again—tapi gue pengen lebih praktis di sini, bukan berorasi dengan bunga-bunga kayak Mario Teguh atau Prabowo.

Indonesia ini berpenduduk kurang-lebih 250 juta jiwa, tapi buku yang cetakan pertamanya abis, yang jumlahnya cuma tiga ribu eksemplar, udah dianggep sukses. Pernah ada orang bilang ke gue, di sini tingkat kemiskinannya juga tinggi. Tapi jelas itu terlalu melebar dan nggak nyambung. Jakarta, kota yang taraf hidup penduduknya relatif baik, dihuni hampir sepuluh juta orang. Itu jumlah yang lebih dari cukup buat bikin buku bagus cetak ulang berkali-kali, kan? Harusnya.

Bayangkan Jika Pembaca Dilihat dengan Cara yang Sama dengan Perokok dan Pemabuk | Controversy

Sebagai penulis dan pembaca, gue pengen perubahan. Nggak perlu dipertanyakan kalo masyarakat yang membaca lebih baik daripada masyarakat yang nggak membaca. Bahkan membaca fiksi pun, di luar sadar kita, punya peran besar banget dalam membentuk kecerdasan dan kepribadian kita.

Jadi, apa yang bisa kita lakuin untuk bikin (membaca) buku dianggep keren lagi?

  1. Bawa buku ke mana-mana

Kayak perokok bawa rokok ke mana-mana, bawalah buku ke mana-mana. Kayak perokok ngerokok di mana-mana, bacalah buku lo di mana-mana—pas lagi nunggu orang, pas lagi di bus, terserah lo aja. Makin banyak dan makin sering orang lakuin ini, makin bagus.

Sering kali alesan sesuatu gagal menerobos ke budaya pop adalah kurangnya duta, kurangnya messenger. Padahal budaya pop itu penting. Akhirnya sepanjang jaman sesuatu itu cuma ada di pinggir-pinggir aja. Nggak pernah menyebar. Menyedihkan. Apalagi kalo itu sesuatu yang baik.

  1. Sebagai pembaca, lo sendiri mesti keren

Kenapa banyak orang ngerokok? Apa karena rokok itu enak? Semua perokok pasti setuju bahwa pertama kali coba, rokok itu nggak enak banget. Tapi mereka penasaran dan terus nyoba sampe akhirnya kecanduan. Pertanyaannya: kenapa orang segitu penasarannya sampe nyoba terus?

Pas pertama kali lo ngerokok, artinya dulu pas lo remaja, gue yakin seratus persen lo mikir ngerokok itu keren. Pentolan di sekolah lo ngerokok semua. Anak band ngerokok. Murid-murid yang punya keingintahuan dan pergaulan luas ngerokok. Cuma mereka yang culun yang nggak ngerokok. Lo mesti ngerokok biar nggak culun.

Begitu masa remaja lo lewat dan masuk masa 20 dan 30-an, tetep aja orang-orang yang dianggep keren itu—aktor, sutradara, penulis, musisi, dan lain-lain—ngerokok. Orang pengen jadi keren kayak mereka. Kalo kita sebagai pembaca keren, atau kalau pembaca diasosiasikan dengan hal-hal keren (sebagaimana yang terjadi pada perokok), tentu lebih banyak orang pengen jadi pembaca.

  1. Pamerin buku-buku lo dan pengetahuan lo tentang buku di internet

Orang sering unggah foto di bar dan klub malam, dengan gelas-gelas atau botol-botol minuman di tangan, ke akun media sosial mereka. Mereka ngerasa itu asik, sosial, dan kultural, makanya mereka lakuin itu. Kalo mereka cuma lagi boker, tentu nggak akan bikin foto dan diunggah.

Bukankah baca buku juga asik, bisa jadi pengalaman sosial, dan kultural? Bukankah baca buku sama kerennya dengan nongkrong di bar dan pesta di klub malam? Kalo iya, sering-seringlah pamerin koleksi buku lo di internet, buatlah blog buku, tulislah artikel tentang buku, ulaslah buku-buku yang menurut lo menarik, dan seterusnya.

Bayangkan jika pembaca dilihat dengan cara yang sama dengan perokok dan pemabuk. Pasti youth culture kita keren banget—nggak hanya akan jadi lebih berwarna, tapi juga lebih elegan.

 

Gambar diambil dari sini dan sini.

LinkedInShare

7 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *