Cuma Orang Gila yang Mau Jadi Penulis

Gue sering ngerasa menulis itu kayak berjudi dengan waktu dan keberuntungan. Gue yakin banyak penulis lain yang ngerasa gitu, terutama mereka yang belum besar, dan kadang capek dan pengen ninggalin semuanya.

Cuma Orang Gila yang Mau Jadi Penulis | Controversy

Kenapa berjudi dengan waktu? Kalo lo penulis profesional, coba pikir berapa banyak waktu yang lo pakai buat nulis dalam sehari dan berapa banyak bayaran yang lo peroleh. Waktu sebanyak itu, kalo digunain untuk hal lain (misalnya untuk bangun usaha), mungkin akan ngasih lo pendapatan lebih besar, setidaknya prospek untuk itu. Pendeknya, menulis itu makan begitu banyak waktu tanpa nyediain (prospek) penghasilan yang jelas.

Kenapa berjudi dengan keberuntungan? Karena keberhasilan dan kegagalan lo sulit diprediksi. Saat lo jadi penulis, lo nggak kerja di dalam struktur di mana kalo kinerja lo bagus, lo akan dipromosi dan naik gaji. Kesuksesan sebagai penulis sangat bergantung pada kemampuan analitis, kemampuan membaca permainan, dan insight lo (walaupun ini bukan kasus spesial karena dalam dunia usaha juga gitu).

Gue rasa penulis-penulis besar dunia pun, sebelum jadi besar, nggak pernah bener-bener bisa yakin dengan masa depan mereka. Naskah Carrie karya Stephen King ditolak belasan kali oleh penerbit. Salah satu surat penolakan itu berbunyi gini: “We are not interested in science fiction which deals with negative utopias. They do not sell.”  Selama ditolak-tolakin itu, Stephen King kerja di sebuah SMU sebagai tukang bersih-bersih toilet.

Naskah Lord of the Flies karya William Golding ditolak 20 kali oleh penerbit. Salah satu surat yang dia terima mendeskripsikan karyanya kayak gini: an absurd and uninteresting fantasy which is rubbish and dull. Bayangin berapa tahun waktu yang dilalui William Golding untuk nulis naskahnya, ngirim, ditolak, revisi, ngirim, ditolak, revisi, ngirim, dito—

Naskah Lust for Life karya Irving Stone ditolak 16 kali dan dibilang gini: a long, dull novel about an artist. Bayangin juga berapa lama waktu yang dia laluin sampe akhirnya naskah itu terbit. Bayangin gimana kalo perjudiannya dengan keberuntungan gagal.

Naskah pertama E.E. Cummings, The Enormous Room, ditolak oleh 15 penerbit. Dia akhirnya milih untuk self-publish dan di kemudian hari buku itu dianggap masterpiece of modern poetry. Yang menarik, dia dedikasiin buku itu untuk kelima belas penerbit yang nolak dia.

Masih banyak lagi kasus serupa yang menimpa para penulis besar. Justru biasanya penulis-penulis itu jadi besar karena kengototan mereka. Barangkali bagi kita yang lagi berjuang dan mulai putus asa, ada baiknya kita liat apa aja yang udah dilalui penulis-penulis dunia itu. Mereka berjudi dengan waktu, dengan keberuntungan, dan menang. Apa kita udah segila mereka?

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

12 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *