Periklanan adalah Sejarah

Sederhana aja:

Awalnya pemasaran adalah perkara demonstrasi—atau showing. Seorang penjual di sebuah desa nunjukin kualitas produknya dan para penonton, yang liat sendiri dengan mata kepala mereka, mempercayainya.

Karena produk itu emang bagus, orang-orang ngomongin itu dan gaungnya terdengar sampe desa-desa lain. Pada titik itu, pemasaran jadi perkara bicara—atau telling—dan terciptalah ruang buat beriklan. Di dunia modern, kalo si penjual ambisius, dia akan keluarin dana besar buat beriklan di media massa dan menjangkau orang-orang di tempat jauh tanpa dia sendiri harus dateng untuk demonstrasiin kualitas produknya. 

Periklanan adalah Sejarah | Controversy

Tapi pada era internet, keterhubungan digital orang-orang sedunia membuat jarak antara ‘desa-desa’ itu nggak relevan lagi. Perusahaan bisa aja gunain media massa sebagai corong pesan-pesannya, tapi ada ribuan ulasan dari orang-orang dari berbagai belahan dunia yang dihubungkan oleh internet, sehingga kebenaran atau kengacoan pesan itu bisa diketahui dalam sekejap. Pemasaran balik lagi jadi perkara showing karena kita semua pada dasarnya satu desa. Keadaan itulah yang oleh Marshall McLuhan disebut global village.

Apa itu berarti periklanan sebaiknya dilupain aja?

Baru-baru ini gue ngobrol ama adik gue yang sebentar lagi lulus SMA. Dia tertarik untuk berbisnis dan pengen kuliah ekonomi. Gue kasih pendapat gue ke dia: kalo tujuannya bisnis, kuliah komunikasi aja dan, ketika penjurusan, ambil periklanan. Komunikasi itu tentang memahami manusia dan periklanan (atau pemasaran) itu tentang manfaatin titik-titik ‘halus’ mereka untuk kepentingan penyebaran ide.

Itu mungkin terdengar kontradiktif dengan paragraf-paragraf awal yang gue tulis, tapi periklanan, sebagaimana hal-hal lainnya yang udah jadi sejarah, tetep penting untuk dipelajari karena kita nggak mencapai tahap ini begitu aja. Ada proses yang panjang. Ada hal-hal yang memicu perubahan dan inovasi. Ada momen-momen yang menghasilkan titik balik. Kita perlu tau semua itu supaya beroleh gambaran besar tentang apa yang terjadi sekarang ini. Supaya pemahaman kita nggak cuma kulit.

Periklanan adalah sejarah. Mempraktikkannya sama kayak ngirim macan ompong bertarung. Tapi mempelajarinya membuat macan yang baru punya taring ekstra.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

  1. tapi kalo soal ‘ke desa’ rasanya masih relevan kok iklan2 manual itu, tapi ya memang alurnya tak lagi seribet dulu, lewat internet, bahan iklan mungkin bisa cepet sampai ke penyalur perantara sebelum sampai ke pelosok, tapi tetap saja, seringkali iklan manual tetep lebih menarik,

    paling tidak menurutku ehehe

    1. Maksudnya desa secara harfiah? Pada dasarnya, tempat mana pun yang belum tersambung ke internet, atau infrastruktur internetnya masih jelek, memang belum gabung dengan desa global. Karena tanpa internet, kita semua kayak dulu: terpisah-pisah, segalanya butuh waktu (dan itu celah buat beriklan).

      Yang saya maksud dengan periklanan adalah sejarah sebenernya adalah periklanan konvensional, bukan segala bentuk iklan akan punah. Semuanya, menurut saya, akan berubah bentuk, bertransformasi ngikutin zaman. Gitu sih 😀

      1. Kalo ngeliatn kondisi desa2 di kabupaten sayabsih. Sepertinya iklan konvensional bakal masih awet dalam waktu yg relatif lama

        Selain itu, menurutku di satu sisi iklan kyk gitu semacam buku, masih menarik dibanding versi digital 😀

        1. Yang saya maksud gini Om: iklan digital pun, seperti iklan konvensional, sering kali gak efektif. Makanya begitu Google muncul dengan homepage bersih, semua orang beralih dari Yahoo. Tapi di Google sendiri bukannya gak ada iklan. Ada adwords, tapi selalu relevan dengan hasil pencarian, jadinya efektif.

          Periklanan yang konvensional–salah satu aspeknya adalah cara kita melakukannya–itulah yang akan berubah, atau malah hilang sama sekali. Karena dengan budget yang sama, tentu kita pengen melakukannya dengan efektif dan hasil yang optimal hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *