Alasan Para Penulis Menulis

Hanny Kusumawati adalah salah satu blogger Indonesia favorit gue. Ada dua alasan. Pertama, karena dia bagus—bagusnya gimana lo cek aja sendiri, nggak perlu dijelasin, karena sering kali saat kita coba jelasin sesuatu yang bagus, penjelasan kita malah mempersempit kenyataan yang sebenarnya. Kedua, karena gue nggak bisa kayak dia—bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena tulisan dia mensyaratkan sentimentalitas tingkat tinggi dan gue nggak seromantis itu.

Alasan Para Penulis Menulis | Controversy

Pada entri ini Hanny menggambarkan dengan luar biasa alasan dia menulis. Dia kasih sekitar seribu dua alasan—seperti biasa, semuanya berkaitan dengan hal-hal sentimental—tapi semuanya mengarah pada satu hal, yang nanti dia bilang di akhir tulisan.

I write because sometimes it’s just too complicated to tell everything to anyone. I write because in my darkest days, I do not even feel like seeing anyone–let alone talking to them. I write because I think people won’t understand. I write because I don’t think I can fully trust anyone. I write because I think people won’t be so nice or approving. I write because I think people would try too hard to be nice and approving.”

Pada bagian lain, dia bilang gini:

“I write because in my teenage years, I learned that my knuckles would hurt if I punch the wall. That instead of getting sympathy, my parents would simply scold me for breaking things or throwing my stuff away. That to swear and curse from the top of my lungs, I needed to go to a jungle or a mountain so nobody would hear me, but I couldn’t travel that far. That cutting myself sounded like an intriguing idea to play with, but I could never get myself to do it. I write because at the time, I didn’t have whatever it takes to run away–both mentally and physically.

Dan kesimpulannya gini:

“Different people in all walks of life choose different outlets to cope with different kind of things. It just happens that I choose writing. And I’m thankful for writing, too, has chosen me.”

Keren, ya? Kalo gue yang nulis, pasti jadinya cuma satu atau dua kalimat yang kira-kira gini: Gue nulis karena ya seneng aja. Selebihnya bukan urusan lo.

Dalam buku Why I Write, George Orwell memaparkan empat alasan para penulis menulis. Kadarnya tentu nggak sama buat tiap penulis, tapi biasanya empat hal itu ada.

Pertama, ego. Keinginan untuk terlihat pintar, dibicarakan orang, dan diingat setelah mati. Itu alasan yang juga dimiliki para ilmuwan, seniman, politisi, pengacara, dan pengusaha. Penulis serius adalah orang yang lebih sombong dan egois daripada jurnalis, tapi lebih nggak tertarik dengan uang.

Kedua, antusiasme terhadap keindahan. Hasrat untuk berbagi pengalaman yang dirasa berharga dan nggak boleh dilewatkan. Kenikmatan menciptakan prosa yang bagus atau cerita yang ritmenya asik.

Ketiga, dorongan rasa sejarah. Keinginan untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya, memahami situasi seakurat mungkin.

Keempat, tujuan politis. Hasrat untuk mendorong dunia ke arah tertentu, menyuarakan ide banyak orang tentang masyarakat seperti apa yang mesti diperjuangkan. Nggak ada buku yang bebas dari motif politis. Bahkan pendapat bahwa seni seharusnya nggak dicampur aduk dengan politik pun adalah sikap politis.

Charles Bukowski punya pandangannya sendiri:

“I write because it comes out—and then to get paid for it afterwards. I told somebody, at some time, that writing is like going to bed with a beautiful woman and afterwards she gets up, goes to her purse and gives me a handful of money. I’ll take it.”

Dalam novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami, si tokoh utama, Toru Watanabe, menulis tentang masa kuliahnya. Dan dia bilang gini tentang alasan dia menulis:

“…which is why I’m writing this book. To think. To understand. It just happens to be the way I’m made. I have to write things down to feel I fully comprehend them.”

Kalo lo tanya gue, alasan sebenarnya seorang penulis menulis hanya diketahui dirinya sendiri. Nulis emang bisa datengin cukup uang kalo lo sukses. Tapi sebagian besar penulis itu medioker, gagal, atau belum sukses—dan mereka tetep aja nulis. Kenapa? Mungkin mereka cuma gila aja.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

6 comments

  1. Kalok aku mungkin lebih ke ego, pengen dikenal dan punya banyak kenalan. Mungkin karena basic anak tunggal yang kesulitan berteman di dunia nyata. Banyak blogger muda kurang pengalaman zaman sekarang yang mengagung-agungkan penulis dan ingin seperti ia, namun tak cukup gila dan terlalu sering cari muka. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *