Tanpa Model Bisnis, Penulis adalah Mayat Hidup

“I must create a system or be enslaved by another man’s.” William Blake

Tanpa Model Bisnis, Penulis adalah Mayat Hidup | Controversy

Tentu saja itu nggak hanya berlaku buat penulis, tapi juga pengusaha dan segala jenis kerjaan profesional independen secara umum. Penerjemah, editor lepas, musisi (terutama musisi indie), desainer grafis dan ilustrator lepas, tukang jahit, dan seterusnya.

Tapi satu hal sering terjadi: saat gue datengin orang-orang itu dan tanya gimana model bisnis mereka, mereka antara nggak tau, nggak mikirin itu, atau jawab muter-muter tapi intinya cuma tiga kata: ya gitu deh. Mereka lakuin kerjaan mereka dengan mentalitas pekerja serabutan. Kenapa? Bukankah merancang model bisnis itu esensial untuk kemajuan dalam kerjaan profesional independen?

Tahun 80-an di Amerika ada band indie rock terkenal bernama The Minutemen. Ini kata Mike Watt, basis-vokalis mereka, tentang model bisnis bandnya secara garis besar:

“Where we had the most control was at the gigs. So the idea was to get people to the gig. We had divided the whole world into two categories: there was flyers and there was the gig. You’re either doing the gig, which is like one hour of your life, or everything else to get people to the gig. Interviews were flyers, videos were flyers, even records were flyers. We didn’t tour to promote records; we made records to promote the tours, because the gig was where you could make the money.”

Karena model bisnis mereka jelas, langkah-langkah mereka pun jelas. Mereka banyak neken budget buat selebaran, rekaman, dan lain-lain, dan agak lebih royal saat manggung. Salah satu contoh: mereka cuma keluarin $1100 buat rekaman Double Nickels on the Dime, album dobel mereka. Itu jumlah yang kecil untuk standar rekaman di Amerika. Bahkan di Indonesia musisi pop ngabisin jauh lebih banyak duit buat bikin album.

Kita bandingin model bisnis mereka ama band-band pop mendunia. Band-band pop itu bikin duit yang luar biasa banyak dari penjualan album (karena emang dijual di seluruh dunia). Kebalikan dari The Minutemen, mereka justru royal dalam produksi album. Mereka nggak bikin album buat promosiin tur; mereka bikin tur untuk promosiin album. Mereka tetep punya budget besar buat tur, tapi itu jumlah yang nggak seberapa dibanding yang mereka dapet dari album.

Itulah pentingnya merancang model bisnis terbaik buat kerjaan kita. Band kayak The Minutemen, kalo nggak ngerti model bisnis atau pake model bisnis band-band pop, bakal bangkrut dan bubar dalam sekejap.

Dalam dunia tulis-menulis, kadang orang nganggep penulis yang punya pendekatan bisnis itu nggak murni lagi dan kualitas karyanya diragukan. Padahal apa hubungannya? Segala sesuatu itu bisa dan mesti disiasati.

Haruki Murakami, penulis legendaris yang masih hidup asal Jepang, adalah orang yang ngerti bisnis. Awalnya dia pengen jadi penulis cult dan terus bikin buku-buku surealis, tapi di tengah jalan dia pengen masuk ke mainstream dan bikin Norwegian Wood, novel popnya. Abis masuk mainstream dan dapet banyak pembaca, dia balik lagi ke gaya aslinya.

Ciptain model bisnis dan punya rencana bisnis itu penting, apalagi kalo kita pengen bergerak dalam sistem kita sendiri, bukan gabung dalam sistem orang lain, dan nggak mati kelaparan. Segala sesuatu punya batasan-batasannya sendiri, tapi apa pun itu, selalu ada cara untuk menyiasatinya. Salah satunya adalah dengan jamming econo (akan gue bahas di entri selanjutnya).

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

7 comments

  1. Aku inget video klip AgnezMo yang disutradarai Dimas Djay yang ngeluarin biaya 300 juta rupiah di zaman SMA dulu.. Entah karena budget dia berlimpah ya, makanya terkesan total en abis-abisan..

    1. Aku gak tau sih apa target dia dari langkah yang dia ambil itu. Soalnya kalo pada akhirnya hanya dijual di Indonesia, terkesan gak perlu. Tapi tentu dia udah mikirin semuanya dari sisi bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *