Tantangan terhadap Prakonsepsi

Tantangan terhadap Prakonsepsi | Controversy

Ada hal menarik yang dikatakan Frans Johansson lewat bukunya The Medici Effect. Pada salah satu bagian, dia jelasin tentang tendensi bawaan kita untuk berasumsi bahwa masa depan akan seperti masa lalu dan gimana ngakalinnya.

Otak kita, katanya, untuk alasan-alasan praktis, bekerja dengan prinsip asosiasi dan kita sulit mendobrak dan melampaui prinsip itu. Saat kita punya ide, otak kita akan lepasin serangkaian ide di kepala kita yang berhubungan dengan ide itu.

“We are more likely to make assumptions than maintain a mind that is open to all possibilities. The effect is subtle, but very powerful. By simply hearing a word or seeing an image, the mind unlocks a whole string of associated ideas, each one connecting to another.”

Kemudian dia bilang efek negatifnya:

“These chains of association are efficient—they help us to assess situations quickly and to take appropriate action—but they also carry costs. They inhibit our ability to think broadly. We do not question assumptions as readily; we jump to conclusions faster and create barriers to alternate ways of thinking about a particular situation.”

Menurut Johansson, salah satu teknik yang bisa kita gunain untuk lepasin diri dari asumsi otomatis itu, juga supaya kita bisa liat semua kemungkinan dalam sebuah situasi, adalah dengan merancang skenario yang persis berkebalikan dengan asumsi-asumsi itu.

Contoh: di mana-mana bank pengen dapet nasabah sebanyak-banyaknya. Tapi anggaplah  ada bank yang ngerasa udah cukup dengan jumlah nasabah yang mereka punya. Apa yang harus mereka lakuin untuk menjauhkan ketertarikan orang pada mereka? Apa yang harus mereka lakuin supaya nggak terlihat mencurigakan dan tetap punya nama baik walaupun nolakin semua orang?

Hal-hal kayak gitu jarang dipikirin karena itu di luar asumsi kita terkait hal-hal yang mungkin terjadi. Di luar sadar kita, itu membatasi pemahaman kita tentang sesuatu. Kita harus secara aktif menantang prakonsepsi kita tentang sesuatu (nggak berarti hasilnya harus selalu direalisasikan). Itu salah satu jalan menuju kreativitas. Itu poin Johansson.

Dan berhubung gue penulis, itu poin yang menurut gue keren.

Dalam dunia nyata, kita nggak bisa selalu realisasiin tantangan kita terhadap prakonsepsi karena kita berhubungan langsung dengan realitas orang lain dan mereka belum tentu segila kita. Tapi dalam dunia fiksi semuanya bebas. Kita bisa lakuin segala jenis eksplorasi dan orang bakal terima-terima aja karena itu cuma cerita.

Tantangan terhadap Prakonsepsi | Controversy

Ini yang bisa lo lakuin dalam penulisan kreatif:

Gimana kalo lo bikin novel beralur mundur? Gimana kalo lo bikin novel tanpa alur (artinya segala sesuatu yang terjadi nggak punya maksud apa-apa, nggak mengarah ke mana-mana)? Gimana kalo lo bikin novel tanpa ada sesuatu pun terjadi, atau sedikit banget yang terjadi (sebagian besar hal terjadi hanya di dalam diri si narator, seperti imajinasi, perenungan, dan segala macem)? Gimana kalo lo bikin novel tanpa karakterisasi (artinya, semua tokoh nggak dibatasi apa pun, bisa lakuin apa pun, absurd, di luar logika standar)?

Itulah pentingnya tantangan terhadap prakonsepsi. Itu nggak selalu datengin hasil yang menyenangkan, sih. Kalo lo penulis dan punya naskah semacam itu, kemungkinan besar akan ditolak karena editor penerbit (setidaknya editor yang kurang canggih), dengan segala prakonsepsi tentang berbagai hal di kepalanya, nggak ngerti. Tapi lo mesti jelasin gini ke dia: kalo sebuah gitar disetem dengan cara berbeda dari standar, bahkan Carlos Santana pun akan kembali jadi pemula. Gimana kalo kita semua belajar ulang?

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *