Ketika Popularitas Pribadi Dinilai Terlalu Tinggi

Siapa pun yang ke toko buku belakangan ini pasti menyadari satu hal: sastra Twitter mulai kehilangan kilaunya. Nggak banyak lagi buku tulisan selebtwit. Nggak ada lagi buku berlogo burung Twitter. Nggak ada lagi buku berisi status atau pengalaman yang pernah dibagi via media sosial itu.

Ketika Popularitas Pribadi Dinilai Terlalu TInggi | Controversy

Cara toko buku menata buku-buku juga sepertinya udah balik ke jaman sebelum era internet. Buku-buku dengan kualitas terbaik dapat posisi pajang yang bagus. Buku-buku dengan kualitas diragukan, nggak peduli sepopuler apa pun penulisnya di internet, dipajang di tempat-tempat yang diragukan keberadaannya.

Bukannya gue nggak seneng dengan era internet; justru gue seneng banget. Gue cuma nggak sreg saat internet, dalam konteks perbukuan, disalahgunakan. Twitter jelas salah satu alat yang efektif untuk bangun komunitas dan jaringan. Tapi ketika Twitter dijadiin genre, lalu diterangi lampu sorot, kualitas buku pasti menurun.

Sastra Twitter secara alami akan cepat berlalu. Buku-buku Twitter mungkin tinggi penjualannya pada awalnya—namanya juga barang baru—tapi begitu pembaca terbiasa dengan itu, pasti anjlok (karena emang nggak berdaya saing).

Kenyataannya, sekitar delapan-sembilan bulan lalu, toko buku mengubah kebijakan mereka. Mereka mutusin untuk nyediain 60% ruang untuk jualan stationary dan hanya 40% buat buku. Kenapa? Karena buku, yang saat itu masih rame dengan karya-karya meragukan, jelek penjualannya. Efeknya, sejumlah penerbit tutup karena kesulitan bersaing dalam ruang yang dipersempit.

Ada pendapat yang menyatakan selebtwit jadi susah jualan karena pada akhirnya pembaca akan liat kualitas karyanya. Twitter itu cuma untuk bikin kehebohan, cari perhatian. Menurut gue, itu baru setengah bener. Masalah yang sebenernya lebih dalam dari itu.

Para selebtwit mungkin awalnya emang nggak berencana bikin buku, sehingga nggak bangun fan base yang fokusnya adalah pembaca. Mereka hanya pengen menjaring followers sebanyak-banyaknya—pembaca atau bukan, nggak peduli.

Teorinya, kalo lo penulis, lebih baik di-follow seribu pembaca daripada sepuluh ribu, katakanlah, pemain bola. Karena pembaca adalah orang-orang yang beli buku, yang artinya lebih mungkin beli buku lo, jadi pembaca setia lo, dan rekomendasiin karya lo ke temen-temen mereka. Pemain bola mana peduli ama gituan.

Bayangin seboks pop corn. Jualan pop corn di bioskop jelas seratus kali lipat lebih gampang daripada di supermarket. Kenapa? Karena lo jualan ke kerumunan yang tepat, ke orang-orang yang udah in the mood untuk beli pop corn. Kalo pop corn lo dijual di supermarket, jangan berharap banyak. Nggak ada orang di dunia ini pergi ke supermarket buat beli pop corn.

Poinnya, di industri buku Indonesia sebelum ini, popularitas pribadi dinilai terlalu tinggi, sementara popularitas yang relevan, yang jauh lebih penting, dinilai terlalu rendah. Banyak penulis berdaya saing tinggi, tapi panggung justru dikasih kepada mereka yang berdaya saing rendah. Untungnya, kesadaran itu datang dalam waktu relatif cepat, sehingga penulis yang benar-benar mampu nggak perlu karatan nunggu.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

2 comments

  1. Ini perdebatan kita waktu itu :)) Eh, diskusi, bukan debat. Popularitas emang bukan penentu, tapi bukan berarti gak ada andilnya.
    Tapi emang sih, hanya karena elo terkenal, belum tentu karya lo berkualitas dan laku. Ibaratnya kayak cover buku yang keren, tapi isinya jelek. Orang bisa aja beli karena kecele ama desain covernya. Tapi begitu dia tahu isinya jelek, dia pasti ngomong ke orang2 lain, dan besok-besok dia gak akan beli buku yang penulisnya orang itu lagi.

    Pada akhirnya kualitas menentukan.

    1. Iya, makanya gue bilang popularitas pribadi dinilai terlalu tinggi, bukannya gak ngaruh. Itu strategi jangka pendek yang bagus, manfaatin popularitas pribadi, tapi jelas untuk jangka panjang kita mesti kasih tunjuk gigi kita halah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *