Berikan Kami Toko Buku Senyaman Surga

Tim Waterstone membuka toko buku pertamanya pada 1982, setelah dipecat dari W.H. Smith. Dia adalah pencinta buku dan lewat tokonya dia pengen berbagi itu dengan sebanyak-banyaknya orang.

Berikan Kami Toko Buku Senyaman Surga | Controversy

Toko Buku Waterstones sekarang

 

Para pengunjungnya dipersilakan, bahkan dianjurkan, buat berlama-lama, liat-liat, dan cari-cari buku yang bener-bener mereka suka. Waterstone bahkan sediain sofa-sofa sehingga, kalo mau, mereka bisa baca di situ dengan enak.

Nggak ada siapa pun atau apa pun yang menghentikan mereka dari membaca selama yang mereka mau. Walau begitu, pada praktiknya, kebanyakan dari mereka akhirnya selalu beli. Waterstone berpendapat, yang namanya pembaca buku sejati pasti senang kalo koleksi pribadi mereka tambah. Membiarkan orang-orang berlama-lama baca di tokonya nggak akan bikin penjualan rendah gara-gara mereka jadi ogah rugi.

Staf dia juga dipilih berdasarkan cinta mereka pada buku dan pengetahuan mereka tentang jenis-jenis buku secara spesifik, karena mereka diharapkan untuk bisa nyambung ama pengunjung, bahkan ngasih rekomendasi yang terpercaya.

Gue pernah pergi ke toko buku sejenis di Singapura. Namanya Borders—lo pasti tau. Interiornya nyaman banget. Rak-rak kayu, lantai berkarpet, banyak sofa, dan nggak satu pun buku diplastikin. Di sana-sini gue liat orang baca—di sofa, juga di lantai karpet sambil senderan di rak-rak. Singkatnya, itu tempat yang mungkin lebih nyaman daripada kamar tidur lo di rumah.

Pas gue ambil satu buku dan mau bayar di kasir, antreannya itu panjang banget, lebih panjang dari antrean yang pernah gue liat di toko buku mana pun di Indonesia.

Gue jadi mikir, jangan-jangan salah satu penyebab minat baca yang rendah di negara kita ini adalah toko buku sendiri menampilkan diri sebagai lembaga yang dingin, kaku, dan nggak ramah. Juga nggak keren, nggak hip, semacam kurang imajinasi, sehingga orang nggak ngerasa dateng ke tempat asik saat ke toko buku.

Tapi di sisi lain, barangkali toko buku juga mikir kalo mereka sediain tempat yang nyaman, bisa-bisa orang-orang jadi pada ogah rugi, dan jualan buku, yang udah susah, jadi makin susah. Ini permasalahan sepelik mana yang lebih dulu: telur atau ayam.

Apa solusi terbaik? Menurut gue, manusia itu nggak susah. Kalo lo pengen nyebarin ketakutan atau naikin tingkat kriminalitas di satu daerah, bikin aja daerah itu jadi kotor, kumuh, banyak coretan di tembok. Nanti orang-orang takut sendiri. Tingkat kriminalitas naik.

Kalo lo pengen menciptakan masyarakat yang baik, desain dulu tempat tinggal mereka jadi tempat tinggal yang baik, bersih, nyaman, dan teduh. Nanti mereka membaik sendiri. Kalo lo pengen ningkatin minat baca masyarakat, nah lo terusin aja sendiri. Lo pasti udah tau jawabannya. (Segala sesuatu itu didesain.)

LinkedInShare

8 comments

  1. And Or Bookstore, tempat kerjaku dulu, modelnya begini juga nih… tapi bukannya pada baca-baca, generasi muda kita mah malah lebih suka foto-foto di sana berhubung tempatnya terlalu bernuansa ‘ruang tamu’ yang nyaman =))

  2. Aku inget pernah diusir sama karyawan Gr*med gegara baca buku di sana.. Ngga tau salahnya apa.. Abis itu ngerasa sakit hati banget en carik cabang laennya tiap kali belik.. Hahah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *