Benarkah Penerbit Mencari Kebaruan dari Naskah Para Penulis?

Sebenernya jawabannya jelas banget: nggak. Kebaruan berarti risiko. Industri buku, sebagaimana industri apa pun di dunia, terikat oleh faktor-faktor ekonomi. Jadi, sangatlah wajar kalo penerbit berusaha meminimalisasi risiko.

Mereka nggak mau rugiā€”juga nggak boleh bangkrut supaya karier kita, para penulis, bisa tetep jalan. Mereka lebih suka yang pasti-pasti aja, yang bisa diukur, yang gampang diprediksi supaya bisnis mereka lancar. Penulis sering mengeluhkan itu karena itu berarti pembatasan pada kreativitas kita, tapi sekali lagi gue bilang: kelancaran bisnis mereka juga berarti kelancaran karier kita.

Benarkah Penerbit Mencari Kebaruan dari Naskah Para Penulis? | Controversy

Terus, apa yang bisa dilakukan penulis kalo naskahnya menyediakan kebaruan?

Ketika Peter Boizot mendirikan PizzaExpress pada 1965, pizza adalah sesuatu yang nggak pernah terdengar di luar Italia. Nggak ada satu pun restoran pizza di London, di mana PizzaExpress berawal.

Boizot mikir gimana cara menarik minat orang-orang yang mungkin menganggap tempatnya kayak tempat alien itu. Dia mutusin untuk ngasih nilai tambah: dia sediain tempat buat band-band jazz manggung (banyak musisi jazz yang terkenal di kemudian hari memulai karier mereka dari PizzaExpress di Soho).

Dengan lakuin itu Boizot menarik minat orang-orang nyeni yang terbuka ama hal-hal baru. Mereka mungkin awalnya datang buat nonton live music, tapi tentu mereka mesti pesan makanan, paling nggak minuman, dan ternyata besoknya mereka balik-balik lagi. Hari ini PizzaExpress nggak hanya punya live music, tapi juga pameran dan pertunjukan seni yang jenisnya beragam.

Sebagai penulis yang menyediakan kebaruan, gue yakin misi kita nggak sesulit misi PizzaExpress. Yang perlu kita lakuin mungkin adalah ngasih nilai tambah pada cerita kita yang menurut kita baru itu, untuk memancing minat jenis pembaca tertentu.

Kalo genre yang lo usung nggak populer, misalnya, untuk awal lo bisa kasih lima puluh persen muatan populer (atau setidaknya yang pembaca udah terbiasa) di cerita lo untuk menarik minat pembaca tertentu. Dengan begitu penerbit nggak ngambil risiko terlalu besar dan kemungkinan lo untuk meraih pembaca juga lebih besar. Itu strategi yang menguntungkan semua pihak, tentu saja.

Di dunia ini banyak penulis naif: mereka yang cuma peduli hasrat kreatif mereka sendiri, mereka yang nggak mau kompromi, nggak bisa dikritik, dan menilai diri terlalu tinggi. Orang-orang itu jelas nggak lihat keseluruhan gambar dan akan selalu dihambat kebutaan mereka sendiri. Lo nggak perlu nambahin jumlah mereka.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

7 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *