Penulis Butuh Lebih dari Satu Pembaca Pertama

Tentu saja kita semua, para penulis muda, tau betapa pentingnya punya pembaca pertama. Saat kita berkutat dengan satu cerita selama berbulan-bulan, sulit bagi kita untuk menilai dengan objektif. Pertama, itu tulisan kita sendiri, jadi kita rada sensi. Kedua, kita udah terlalu dalam terserap ke dalam cerita, sehingga sudut pandang kita nggak ideal lagi.

Biasanya kita mikir punya satu pembaca pertama itu udah cukup asal dia kompeten. Kompetensi dia membuat dia punya ketajaman dan masukan-masukannya jadi bermutu. Tapi belakangan gue mikir permasalahannya nggak sesederhana itu. Satu pembaca pertama nggak dan nggak pernah cukup.

Penulis Butuh Lebih dari Satu Pembaca Pertama | Controversy

Jane Jacobs, penulis The Death and Life of Great American Cities (1961) dari Kanada, berpendapat bahwa keragaman itu sangat penting di area-area urban. Dia bilang variasi dan perbedaan bentuk serta tujuan bangunan di area yang sama—tempat-tempat tinggal yang harga sewanya tinggi dan rendah, tempat-tempat yang bertujuan komersial dan sosial, gudang dan studio seniman, dan seterusnya—akan menciptakan lingkungan yang bergairah, menyatukan berbagai jenis orang, dan menciptakan kemungkinan untuk pertemuan tanpa rencana serta pertukaran ide.

Jacobs menyebut Greenwich Village di New York sebagai contoh yang bagus untuk komunitas urban yang beragam dan berbaur sehingga kreatif dan bergairah. Sampai hari ini Greenwich Village dikenal sebagai ‘tempat berteduh’ para seniman, ibukota Bohemian, tempat lahir gerakan LGBT modern serta gerakan sastra The Beat Generation. New York University (NYU) juga terletak di lokasi itu.

Kita semua pasti sadar bahwa sebagai penulis muda, kita ‘terjebak’ di antara tiga generasi. Banyak posisi penting di industri buku dikuasai oleh generasi orangtua kita. Lo sendiri katakanlah berumur antara 25-30. Lalu ada banyak pembaca remaja. Kita semua punya perspektif dan standar berbeda dalam menilai suatu buku. Hal-hal yang kita cari dalam suatu karya tulis kreatif juga berlainan.

Gue dan editor buku pertama gue, misalnya, cuma beda umur keitung jari. Dia lebih tua sedikit dari gue, tapi banyak berkecimpung di industri yang dipenuhi orang-orang dari generasi orangtua gue. Sering kali gue nggak ngerti hal-hal yang menurut dia bagus karena menurut gue itu biasa banget, dan begitu pula sebaliknya. Tapi diskusi kita membuat gue bisa menilai karya gue dari dua perspektif berbeda. Gue jadi lebih kaya sebagai penilai dan sering terjadi bahwa akhirnya karya gue berubah ke arah yang nggak pernah gue sangka sebelumnya.

Menurut gue, idealnya penulis punya tiga pembaca pertama sebelum memasuki proses editing resmi dari penerbit: satu orang dari generasi orangtua lo, satu dari generasi lo, dan satu lagi dari generasi remaja yang masih segar. Hanya dengan begitu—dengan keragaman perspektif dan standar—lo bisa punya pemahaman menyeluruh tentang apa yang lo lakuin. Tulisan lo, yang katakanlah awalnya terasa kayak ibukota Bohemian, bisa aja tau-tau meluas ke area New York University dengan citarasa The Beat Generation yang bergairah dan kreatif sehingga cocok jadi tempat berteduh para seniman.

Bekerja dengan tiga pembaca pertama mungkin akan ngabisin lebih banyak waktu daripada dengan satu aja. Juga menyerap kapasitas mental yang lebih besar. Tapi itu layak dilakukan. Apalagi pembaca buku saat ini menuntut hal-hal inventif yang seolah berasal dari masa depan.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *