Tanpa Advocatus Diaboli (atau Morpheus), Semua Buku adalah Sampah

Sejak 1587 hingga 1983, Gereja Katolik nunjuk orang-orang tertentu untuk kasih argumen-argumen yang menentang kesucian (canonization) para kandidat santo. Mereka harus cari-cari kesalahan para kandidat supaya gereja nggak salah ngangkat orang jadi santo. Orang-orang itu disebut advocatus diaboli.

Dalam film The Matrix (1999) ada karakter bernama Morpheus, diperankan oleh Laurence Fishburn. Tugas Morpheus sebenarnya adalah menyampaikan kebenaran, atau kenyataan, tapi sebagaimana yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan yang dia sampein lebih banyak buruknya daripada bagusnya.

Tanpa Advocatus Diaboli (atau Morpheus), Semua Buku adalah Sampah | Controversy

Ada satu hal yang mau gue garisbawahi: manusia bertahan hidup karena sense of danger, bukan optimisme ataupun pesimisme. Optimisme bagus untuk ngasih lo kepercayaan diri, tapi sense of danger-lah yang bikin lo nggak mati nyemplung ke jurang—sedangkan pesimisme tentu nggak ada gunanya.

Advocatus diaboli dan Morpheus adalah orang-orang yang mempertajam sense of danger lo dalam situasi yang lagi lo jalanin, atau sesuatu yang lagi lo lakuin, dan seterusnya. Walaupun kadang nyebelin, orang-orang ini sebenernya penting banget untuk kemajuan lo. Apa lo tau siapa advocatus diaboli dalam hidup lo?

Dalam dunia kepenulisan, advocatus diaboli atau Morpheus biasanya diperanin oleh editor. Tapi menurut gue, kalo lo para penulis gantungin nasib atau kualitas karya lo di tangan editor, ayolah, lo bisa lebih baik. Bagus kalo lo dapat editor yang sungguh-sungguh. Kalo nggak?

Dalam proses penerbitan sebuah buku, editor adalah orang yang ditunjuk penerbit untuk ngasih lo pengarahan supaya karya lo lebih baik. Tapi biar gimanapun, editor adalah orang yang lo baru kenal. Lo nggak tau apa dia bener-bener peduli ama karya lo. Banyak editor yang berdedikasi, tapi lebih banyak lagi yang nggak dan oportunis—sama aja kayak penulis: lebih banyak yang nggak berdedikasi dan oportunis. (Pada dasarnya semua orang emang gitu, kan—yang paling kita peduliin adalah pertanyaan what’s in it for me?)

Itu artinya lo mesti punya Morpheus lo sendiri, dan peran itu bisa dijalanin pembaca pertama (yang jumlahnya sebaiknya lebih dari satu). Terdengar ribet? Mungkin, tapi jadi penulis emang nggak pernah hanya tentang menulis. Ada banyak hal lain yang mesti lo pertimbangin. Ini kriteria advocatus diaboli yang mesti lo punya:

  1. Punya kualifikasi

Dia mesti punya wawasan yang luas secara umum, kepekaan sastrawi, dan ketajaman analisis. Editor buku pertama gue, Pantai Kupu-kupu, punya ketiga hal itu. Dia tunjukin semua kekurangan naskah gue, bahkan sampe hal-hal yang nggak gue anggep kurang, dan kasih penjelasan yang begitu mendalam sampe nggak terbantahkan. Namanya Ninus Andarnuswari.

  1. Nggak ada hubungan spesial

Orang yang punya hubungan spesial ama lo cenderung nggak objektif. Perspektifnya nggak jauh beda dari lo karena saking pengennya dia lo maju. Bukannya lo nggak perlu dengerin dia; lo hanya perlu sadar dia nggak objektif.

  1. Awam

Ini kontradiktif dengan poin pertama, tapi emang gitu. Lo butuh orang lain yang awam buat kasih pendapat. Kenapa? Karena apa yang dilihat orang awam dari karya lo jauh beda dari orang yang punya pengetahuan teknis. Orang yang punya pengetahuan teknis akan seketika bikin kerangka di kepalanya saat baca karya lo, sedangkan orang awam umumnya hanya atau lebih peduli kenikmatan membaca. Lo bakal denger hal-hal yang luput dilihat orang yang punya kualifikasi dari dia.

 

Temukan advocatus diaboli lo. Lo nggak mau punya buku bagus yang banyak cacatnya. Buku lo nggak layak bernasib begitu. Buku lo bukan sampah.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

6 comments

    1. Oh intinya, dalam konteks ini, advocatus diaboli adalah orang yang nyatain kesalahan-kesalahan kita. Penulis, atau orang berprofesi apa pun, butuh advocatus diaboli. 🙂

  1. Buku kamu ada di toko buku biasa, El? Aku mau beli! 😀

    Nah iya.. Selama ini banyak yang ngerasa sah-sah aja ngelakuin ini itu. Ngga ada orang yang berani, atau peduli, buat ngasih tau kesalahan kita.. Syukur-syukur bisa sadar diri.. ._.

    1. Hei thanks yah.. Harusnya sih ada, tapi kalo sekarang aku gak tau deh, soalnya terbitnya udah setahun yang lalu.

      Karena kadang sulit mengakui kesalahan walaupun ada yang ngasih tau..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *