Untuk Para Penulis Aneh

“Do not pray for an easy life. Pray for the strength to endure a difficult one.” Bruce Lee

Yang gue maksud dengan penulis aneh: mereka yang ngerasa terpinggirkan karena tulisannya dinilai nggak sesuai ama tuntutan pasar sehingga susah dijual. Jumlahnya nggak sedikit. Banyak. Sebulan terakhir beberapa temen, sesama penulis muda, ngobrol tentang itu ama gue, mungkin karena ngerasa ada persamaan nasib. Semuanya ngeluh.

Tapi sebenernya apa itu situasi baru di industri buku? Apa kasus yang dialami para penulis aneh itu begitu spesial sampe layak direspons dengan negatif dan setengah putus asa?

Untuk Para Penulis Aneh | Controversy

Kenyataannya, banyak orang dari industri beda-beda, dari jaman ke jaman, frustrasi dengan apa yang mereka lihat di industri mereka. Ferdinand Porsche bilang gini, “In the beginning I looked around and, not finding the car of my dream, decided to build it myself.” Gue tentu nggak perlu jelasin Porsche mobil kayak apa dan berapa kisaran harganya.

Larry Page dan Sergey Brin nggak puas dengan mesin pencari saat itu, mikir inbound links adalah indikator terbaik untuk memprioritaskan hasil pencarian, dan mereka bikin Google. Hari ini kultur kita nggak bisa dilepasin dari Google. Tanpa Google, kita mundur satu babak dalam sejarah.

Contoh yang lebih ekstrem? Tahun 70-an, sebagian besar orang nggak biasa, mungkin nggak ngerti, dengan telepon portabel. Semua telepon dihubungkan ke satu tempat—meja misalnya—dengan kabel, nggak bisa dibawa ke mana-mana. Martin Cooper nggak puas dengan itu. Maka dia dan orang-orang Motorola bikin telepon portabel. Sekarang lihat telepon secanggih apa yang ada di kantong atau tas lo.

Orang-orang hebat itu, sama kayak para penulis aneh Indonesia jaman sekarang, pasti awalnya juga ngeluh. Nggak apa-apa, itu bagus. Tapi mereka nggak berhenti di situ. Mereka bikin perubahan.

“When something cannot be done, do it. If you don’t do it, it doesn’t exist.” Paul Arden

Penerbit-penerbit jelas cenderung mempertahankan status quo. Itu bukan berita baru. Mereka harus bikin duit untuk bisa terus nerbitin karya-karya para penulis. Tapi kalo lo punya cara untuk menjual karya aneh lo dan memutarbalikkan status quo, mereka akan dengan senang hati bekerjasama. Kenapa? Karena pada akhirnya semuanya tentang duit. Ini industri. Terikat faktor-faktor ekonomi.

Artinya, daripada ngeluh dan putus asa, mendingan lo mikir gimana cara menjual karya aneh lo dan hancurin status quo, Ada banyak hal yang mesti lo lakuin. Lo mesti bangun infrastruktur untuk penyebaran ide lo. Lo mesti poles ide lo sampe semengkilap mungkin. Lo mesti pengaruhin orang lain—kalo bisa seratus demi seratus, tapi sering kali satu demi satu.

Itu melelahkan, tapi layak dilakukan. Karena segala sesuatu yang menghancurkan status quo punya peluang untuk nguasain pasar, untuk mimpin. Kayak Google, kayak Porsche. Atau kayak Laskar Pelangi. Gue akan nutup artikel ini dengan salah satu kutipan favorit gue:

“Some of us have great runways already built for us. If you have one, take off. But if you don’t have one, realize it is your responsibility to grab a shovel and build one for yourself and for those who will follow after you.” Amelia Earhart

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

6 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *