Ini Studio Terbuka, bukan Alat Promosi

Tentu saja, walaupun ini era internet, mengelola sebuah blog bukan keharusan bagi penulis muda, baru, atau calon penulis. Yang harus itu nggak ada. Beberapa temen penulis pernah bilang ke gue bahwa dulu mereka punya blog, tapi nggak bekerja sesuai ekspektasi, jadi mereka berhenti. Dan tanggapan gue selalu: nggak apa-apa, itu bukan satu-satunya jalan, dan pada dasarnya kita hanya perlu lakuin apa yang bekerja buat kita.

Tapi setelah gue pikir lebih lanjut, mungkin yang mereka alami bukannya ngeblog nggak bekerja buat mereka, melainkan mereka punya ekspektasi yang keliru. Contoh: kalo lo baru ngeblog dua-tiga bulan, jelas lo nggak bisa ngarepin penjualan buku tiga ribu eksemplar. Itu juga bukan tujuan ngeblog.

Ini Studio Terbuka, bukan Alat Promosi | Controversy

“If you treat the web as a promotion tool, then it’s a chore. But if you treat it as a platform, if you say, ‘I’m not using Instagram to promote, I’m just using it to show what I’m doing, I’m just showing my sketches and I’m opening my studio to you,’ that’s not really promotion. You’re just flipping the idea of a studio visit inside-out.” Rafael Rozendaal

Sebagai penulis, blog adalah ruang kerja online lo. Lo bisa kasih tunjuk apa yang lo lakuin, berbagi pandangan tentang industri lo, curahin pikiran-pikiran lo tentang berbagai hal, dan pamerin koleksi ‘buku-buku’ lo. Pengunjung bebas lihat-lihat, baca-baca, berinteraksi ama lo, dan membuat penilaian tentang diri lo sebagai penulis atau apa aja terserah.

Lo boleh aja sesekali promosi, tapi kalo lo promosi melulu di ruang kerja lo sendiri, lo lagi ciptain suasana nggak nyaman dan kesan buruk. Bayangin lo masuk ke ruang kerja satu penulis dan isinya cuma buku-buku karangan dia sendiri. Lo pasti mikir, udah gila ini orang.

Artinya, sebagai penulis, kita mesti punya ekspektasi yang tepat saat ngeblog. Lihat blog sebagai studio terbuka, bukan alat promosi. Dan layaknya sebuah studio, lo akan tetap kerja di situ, kan—dengan atau tanpa karya baru untuk diceritain?

Perkara itu ngaruh atau nggak terhadap penjualan buku lo, itu tergantung gimana lo melakukannya. Kalo pengunjung blog lo memperoleh kebahagiaan dan nilai dari apa yang lo lakuin, masa sih dia nggak dukung lo untuk terus berkarya?

Kemarin malam temen gue dari Amerika nanya, “How do you motivate yourself to write a blog post every day?” Gue jawab gini, “Well, it’s only from Monday to Friday, not every day. And I don’t motivate myself. It’s just something I do.”

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

5 comments

  1. “Kalo pengunjung blog lo memperoleh kebahagiaan dan nilai dari apa yang lo lakuin, masa sih dia nggak dukung lo untuk terus berkarya?”

    Remind me of Amanda Palmer. Setelah puluhan tahun dalam dunia musik dan punya fanbase yang solid, ketika akhirnya dia mencoba menulis, pendukungnya dengan senang hati membelinya. Walau tentu saja, selain karena fanbase, bukunya sendiri katanya sangat personal. Gue rasa kalau udah begitu bukan soal sekedar mendukung karya, tapi karena sudah “terkoneksi” dengan orang yang mereka idolakan.

    Kalau di sini, gue rasa agak susah kalau hanya dengan modal blog, mengharapkan dukungan untuk berkarya. Dukung, sih, dukung berkaryanya doang. Tapi nggak dukung dengan beneran membeli karyanya. Karena temen sendiri aja suka minta jatah gratisan 😀

    1. Blog itu kan hanya satu dari banyak alat, bukan satu-satunya alat. Orang seni, misalnya, gak akan maju-maju kalo kerjanya cuma buka studionya untuk umum. Dia kan bisa juga bikin pameran, gabung di komunitas-komunitas seni, terlibat atau bahkan mempelopori sebuah gerakan, dll.

      Soal karyanya dibeli atau nggak, akan selalu ada orang yang beli dan nggak. Perbedaan di negara yang minat seninya tinggi dan rendah cuma persentase orang yang beli, minjem, dan gak peduli—dan itu berkorelasi langsung ama conversion rate upaya si seniman. Misalnya, dengan usaha dan strategi yang sama, di negara yang minat seninya tinggi mungkin si seniman udah bisa jual sepuluh lukisan, sedangkan di negara yang minat seninya rendah cuma satu. It’s all about the math and choosing the right tactics.

  2. Iya, El.. Blog jangan terlalu dipakek buat promosi yak. Aku sebagai pembaca biasa sih bakalan males kalok nemu blog yang isinya promo sana sini.. Pengennya baca sesuatu yang bener-bener orisinil. Ditulis karena tulus. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *