Keputusan Terburuk dalam Hidup

“Those who lack courage will always find a philosophy to justify it.” Albert Camus

Pada artikel Cuma Orang Gila yang Mau Jadi Penulis, gue cerita tentang naskah Carrie karya Stephen King yang ditolak belasan kali oleh penerbit, naskah Lord of the Flies karya William Golding yang ditolak 20 kali, naskah Lust for Life karya Irving Stone yang ditolak 16 kali, dan seterusnya. Penulis-penulis itu nggak pernah berhenti. Mereka revisi, ajuin lagi, ditolak lagi, revisi lagi, ajuin lagi, gitu-gitu terus sampe diterima.

Tapi terlepas dari contoh-contoh hebat itu, banyak orang di sekitar gue berhenti dan mutusin pindah bidang, terus pindah bidang lagi—pindah-pindah melulu. Kita semua dianjurkan untuk nggak pernah menyerah, tapi ada satu masalah: anjuran itu selalu bersifat filosofis, padahal nggak semua orang suka filosofi. Hasilnya: nggak ngefek.

Keputusan Terburuk dalam Hidup | Controversy

Peluang kita dalam segala situasi sebenernya bisa dianalisis secara masuk akal dan membumi. Lo pasti pernah denger teori expected value—atau dikenal juga dengan EV atau mean. Lo belajar itu pas SMA. Juga pas kuliah di mata kuliah statistik.

Dengan bahasa yang nggak matematis supaya nggak bingung—maksudnya gue yang nggak bingung—gue coba kasih contoh. Lo ngocok dadu. Angka yang mungkin keluar adalah antara 1 sampe 6. Peluang masing-masing angka untuk keluar adalah 1/6. Kalo lo cuma ngocok tiga kali, angka yang keluar bisa aja 6 terus. Itu namanya keberuntungan pemula. Kalo lo apes, ya 1 terus.

Tapi kalo lo ngocok katakanlah lima puluh kali, angka rata-rata lo nggak akan jauh-jauh dari 3,5. Kenapa? Karena pada dasarnya tiap angka punya peluang keluar yang sama: 1/6. Cara ngitungnya gini:

Itu teori expected value.

Itu cuma berlaku untuk hal-hal yang acak, emang, di mana nggak banyak faktor terlibat. Dan lo bisa berargumen bahwa dalam hidup ada faktor-faktor lain yang terlibat. Itu bener. Tapi bukankah kalo lo baru nyoba sesuatu, dengan keahlian yang nyaris nol, itu juga bisa dibilang hal acak?

Dengan analogi lempar dadu, gue bisa bilang bahwa orang-orang yang berhenti saat baru beberapa kali nyoba adalah mereka yang lemparan-lemparan awalnya ngeluarin angka 1 atau 2. Mereka ngerasa nggak berbakat di bidang itu, nggak kayak orang-orang yang lemparan awalnya ngeluarin angka 5 atau 6. Itu kesimpulan yang salah total.

Kenyataannya, orang-orang berangka besar itu, kalo terus melempar tanpa ningkatin diri sehingga semuanya masih bersifat untung-untungan, akan dapet juga angka 1, 2, 3, dan 4. Di sisi lain, orang-orang berangka kecil, kalo terus melempar, bakal dapet angka-angka besar (walaupun permainannya akan stagnan aja di situ, di 1-6, nggak akan pernah jadi 6-12). Itu kepastian.

Lo mungkin akan berdalih dengan bilang hidup ini bukan matematika, bukan ilmu pasti. Siapa bilang? Kalo emang nggak ada hal yang bisa diukur dan dipastikan dalam hidup, maka bisnis casino adalah bisnis terbodoh di dunia. Semua yang terjadi di casino dirancang dengan teori yang mirip-mirip dengan ini—bedanya, teorinya memastikan keuntungan pemilik casino.

Inti dari tulisan ini adalah jangan berhenti, jangan ngarang-ngarang filosofi untuk membenarkan tindakan lo yang merupakan reaksi atas nasib buruk yang acak. Terus coba, terus belajar, dan tingkatin level permainan lo. Menyerah pada nasib acak yang sementara adalah keputusan terburuk dalam hidup.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *