Hari-hari Buku Nasional

Kalo gue nganggep Hari Buku Nasional spesial, gue pasti bikin tulisan ini kemarin. Kalo gue nggak nganggep Hari Buku Nasional spesial, gue nggak akan bikin tulisan ini. Karena suatu alasan, itu spesial sekaligus nggak spesial buat gue.

Gue pernah bilang, salah satunya lewat tulisan ini, bahwa salah satu cara untuk ningkatin hasrat membaca masyarakat adalah pembaca mesti bawa buku ke mana-mana dan baca buku di mana-mana. Semua orang tau bahwa untuk nyebarin sebuah ide, ide itu harus terlihat di berbagai tempat dan situasi, nggak bisa terisolasi dan cuma jadi milik segelintir orang aja.

Hari-hari Buku Nasional | Controversy

Coca Cola ngerti itu. Mereka adalah perusahaan yang nempatin produk mereka di mana-mana dan dengan cara yang wah. Pada suatu masa, hampir semua film Amerika punya adegan yang nampilin Coca Cola di dalamnya, baik dalam bentuk kaleng (atau botol dan gelas) ataupun sekadar billboard di latar belakang. Mereka bahkan beli Columbia Pictures pada 1982. Sejak itu, mereka punya cengkeraman yang lebih kuat dalam banyak acara TV maupun film.

“Usually, if something’s going to make it, you’ll see that thread running throughout everything—through what they like on TV, what they want to invent, what they want to listen to, even the materials they want to wear. It’s everywhere. But if something doesn’t make it, you’ll only see it in one of those areas.” DeeDee Gordon

Pada artikel Jangan Setubuhi Perempuan Nggak Berwawasan, gue bilang bahwa salah satu tugas pembaca adalah membuat buku jadi keren lagi. Kalo bisa, jadi virus. Virus membaca. Tapi berapa banyak dari kita yang udah beneran coba lakuin itu?

Mungkin kita nggak terlalu peduli. Atau mungkin kita mikir itu misi mustahil. Tapi lo semua pasti pernah denger tentang Prinsip 80/20. Inti prinsip itu: hampir dalam segala situasi, 80% pekerjaan dilakukan oleh 20% partisipan.

Hampir dalam semua masyarakat, 80% tindak kriminal dilakukan oleh 20% orang kriminal (mereka ini yang mungkin kita bilang penjahat-penjahat besar), 80% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh 20% pengguna jalan, 80% bir diabisin 20% peminum (para alkoholik). Terusin aja.

Artinya, saat lo pengen membuat dampak, lo nggak perlu bergerak bersama mayoritas orang. Minoritas orang, dengan komitmen dan konsistensi, bisa membuat perbedaan. Itu bukan teori. Itu udah terbukti di berbagai bidang.

Percuma rayain Hari Buku Nasional kalo kita nggak punya niat untuk bikin perubahan. Nanti jadinya kayak Earth Hour: cuma lucu-lucuan, sejam matiin lampu tapi abis itu boros listrik sepanjang tahun. Apa artinya? Simbol. Kita nggak butuh lebih banyak simbol. Kita butuh lebih banyak aksi nyata.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

      1. hehe dari paragraf awal saya sudah seneng sih, cuma mesti bikin penasaran ini endingnya bakal gimana, dan selalu menarik, asem tenan kapan saya bisa nulis kyk gini haha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *