Titik Terlemah Musuh

“In war, the way is to avoid what is strong and to strike at what is weak.” –Sun Tzu

Gue selalu tertarik dengan orang-orang, apa pun bidang mereka, yang coba membuat inovasi agar mampu bersaing. Apalagi jika mereka menghadapi kompetisi yang keras, dengan lawan-lawan kelas berat. Kadang strategi mereka nggak jalan dan mereka kalah, tapi saat mereka menang, jalan ceritanya selalu keren.

Titik Terlemah Musuh | Controversy

Glamour adalah majalah yang ditujukan buat wanita karier usia 20-an. Saat mereka berdiri, pasar di Inggris untuk majalah perempuan udah penuh sesak. Ratusan majalah bersaing untuk merebut perhatian dua puluh juta perempuan Inggris, sehingga memulai sebuah majalah baru adalah ide yang ngocol dan kerjaan yang ekstra berat.

Selain itu, pasar yang dibidik Glamour adalah pasar yang selama empat puluh tahun terakhir didominasi Cosmopolitan. Itu juga pasar yang paling menarik buat sebagian besar majalah. Jadi, kalo Glamour cuma bikin semacam ‘tiruan’ Cosmopolitan, lupain aja, mereka bakal gulung tiker dalam sekejap.

Tapi mereka bikin sesuatu yang nggak terpikirkan saat itu. Majalah itu dirancang dengan ukuran yang bisa dengan mudah dimasukin ke dalam tas tangan (handbag). Artinya, Glamour gampang dibawa ke mana-mana, nggak ngerepotin, perempuan-perempuan itu jadi nggak punya barang ekstra untuk dipegang. Glamour juga bisa dibaca di kereta atau bus yang berjejalan orang. Kontennya sih sama aja ama Cosmopolitan—gosip selebriti, saran diet dan kesehatan, tips kecantikan, dan semacamnya—tapi ukuran yang unik itu bikin mereka mampu bersaing.

Itu cerita yang keren, kan? Mereka manfaatin kelemahan Cosmopolitan dan majalah-majalah sejenis—kelemahan yang bahkan nggak disadari majalah-majalah itu—dan manfaatin itu untuk ningkatin level ‘bertahan hidup’ mereka sekaligus ngasih nilai tambah ke pembaca dan calon pembaca.

Apa pun yang kita lakuin, kalo mau mikir, kita selalu bisa manfaatin kelemahan penguasa industri yang mau atau udah kita masukin, dan bikin inovasi. Jangan bersaing di area yang mereka kuat, apalagi kalo mereka bermodal besar dan kita pas-pasan.

Satu hal yang gue percaya: dunia ini bukan milik orang kaya; dunia milik orang kreatif. Dan pilihannya hanya dua: jadi kreatif atau jadi pembantu orang kreatif.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

5 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *