Aset Terbesar Lo adalah Dunia di Dalam Kepala Lo

Artikel ini masih berhubungan dengan artikel gue yang berjudul Mungkin Karya Lo Emang Nggak Bernilai, yang ditanggapi Om Warm dengan Tentang Nilai dan Nilai.

Pada artikel itu gue ngomongin proses yang dilalui seseorang dan sesuatu dari tahap nggak bernilai sampe bernilai. Gue kasih contoh Vincent Van Gogh dan Youtube. Dalam kasus Van Gogh gue bilang, nggak ada yang berubah dari lukisan dia dari dulu sampe sekarang; yang berubah adalah apresiasi kita terhadap ide, dedikasi, dan kehidupannya. Sayangnya, jaman berkembang terlalu lama baginya, sehingga dia nggak pernah liat dan rasain apresiasi kita.

Itu nuntun gue kepada pertanyaan: apa apresiasi publik bisa dirancang—atau dipicu? Kalo bisa, gimana caranya? Apa hal utama yang harus kita lakuin sebagai seniman?

Aset Terbesar Lo adalah Dunia di Dalam Kepala Lo | Controversy

Pada 1912, Otto Frederick Rohwedder jual seluruh toko perhiasannya—jumlahnya ada tiga—karena yakin dia bisa ciptain mesin pengiris roti. Dia gunain uang itu untuk mendanai proses penelitian, pengembangan, dan pembuatan mesin itu.

Pada 1917, pabrik di mana dia ngerjain proyeknya itu kebakaran. Dia kehilangan cetak biru dan prototipe mesin yang udah dia kembangin bertahun-tahun. Karena butuh pendanaan lagi, proyeknya tertunda beberapa tahun sampe akhirnya diluncurin ke pasaran.

Apa yang terjadi? Proyek itu ide bagus, kan—ada alat yang bisa secara efisien bikin roti dari sepotong besar jadi irisan-irisan tipis? Yang terjadi adalah mesin Rohwedder gagal di pasaran. Nggak laku.

Baru pada 1930, ketika perusahaan roti bernama Continental Baking Company memperkenalkan roti iris Wonder Bread dan beriklan, yang diikuti perusahan-perusahaan roti besar lainnya, mesin Rohwedder menuai kesuksesan.

Cerita Rohwedder ini sebenernya mirip ama Van Gogh. Bedanya, Rohwedder lebih beruntung aja. Apresiasi publik terhadap hasil kerjanya datang pas dia masih hidup. Dia bisa liat dan rasain kontribusinya buat masyarakat.

Dalam kasus Rohwedder, yang mengubah jalan hidupnya adalah praktik periklanan besar-besaran, yang kemudian membentuk persepsi dan apresiasi publik. Dalam kasus Van Gogh, mungkin perubahan dalam dunia seni itu sendiri, yang kemudian digaungkan dan mempengaruhi penilaian banyak orang. Artinya, nilai seseorang atau sesuatu sangat bergantung pada apa yang kita percayai, apa yang ada di dalam kepala kita.

Bayangin kalo hari ini semua orang Amerika percaya nilai dolar akan jatuh dan nukerin uang mereka ke rupiah. Tentu saja nilai dolar bakal beneran jatuh dan rupiah menguat. Itulah kenapa gue selalu bilang, hampir segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dirancang, bukan alami (walaupun mungkin terasa alami bagi mereka yang nggak merancangnya).

Kalo kerjaan lo adalah ciptain sesuatu—mungkin lo seniman atau pengusaha—aset terbesar lo adalah dunia di dalam kepala lo. Setelah itu, tugas lo adalah gimana bikin dunia itu ada di dalam kepala orang lain juga—dengan kata lain, bikin ‘kesepakatan bersama’. Kalo lo punya dana besar buat bikin kampanye masif, bagus. Kalo nggak, lo bisa bergerilya secara digital maupun fisik. Nggak perlu ngeluh. Kita hidup di jaman yang paling ramah untuk para kreator.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

7 comments

  1. pernah diceritain suami tentang kisah mesin pemotong roti ini, buatku ini cerita menakjubkan. ide yang tak terpikirkan orang-orang walaupun menempuh jalan yang panjang tapi memang menjadi besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *