Sumber Frustrasi (dan Kepuasan) Para Kreator

Rasa frustrasi yang kerap menghinggapi para kreator selalu jadi topik yang menarik buat gue—gimana mereka perjuangin ide-ide mereka, gimana mereka gagal, gimana mereka bangkit, gagal lagi, sampe akhirnya menang atau tetep kalah. Banyak dari kita mesti laluin proses itu, dan itu bikin gue pengen mempelajari apa sih yang sebenernya bikin mereka puas dan apa yang bikin mereka frustrasi.

Sumber Frustrasi (dan Kepuasan) Para Kreator | Controversy

Bar di Hotel Phoenix

 

Chip Conley adalah pemilik banyak hotel di San Francisco. Hotel pertamanya, The Phoenix, berlokasi di lingkungan yang menurutnya nggak ideal buat hotel. Dia beli hotel itu, yang sebenernya lebih mirip motel, dengan harga murah banget.

Dari awal dia tau itu bukan hotel buat semua orang. Kenyataannya, dia mikir apa pun yang dia lakuin ke The Phoenix, sebagian besar orang tetep akan males nginep di situ. Tapi kemudian dia mikir itu bukan masalah. Kalo lo punya hotel yang kamarnya cuma 20-30, lo nggak butuh narik perhatian sebagian besar orang.

Conley merancang ulang hotel itu. Dia cat temboknya dengan warna-warna keren, taruh majalah-majalah yang hip di kamar-kamarnya, merenovasi kolam renangnya, dan ngundang musisi-musisi rock nginep di hotelnya.

Dalam hitungan bulan, rencananya berjalan. Orang-orang yang dia targetin dateng ke situ. Sampe hari ini The Phoenix dikenal sebagai hotel rock ‘n’ roll yang unik di San Francisco. Conley puas dengan itu. Dia emang nggak pernah nargetin publik dalam skala masif. Dia tau kekuatan dan kelemahannya, juga kesempatan yang (nggak) disediakan hotelnya, dan dia hidup dengan itu.

Gue sering denger temen-temen musisi mengeluhkan pasar yang sempit. Misalnya, musisi jazz atau blues bilang susah jualan di sini karena genre musik mereka nggak diminati, terus mereka iri pada musisi pop Melayu yang cetak banyak duit.

Awalnya gue bersimpati, tapi lama-lama gue pikir itu konyol. Ya jelas susahlah jualan jazz atau blues karena itu bukan jenis musik yang berakar secara kultural di sini. Ini bukan Amerika. Cuma orang-orang tertentu yang ngerti itu. Mereka harus belajar mencukupkan diri dengan pasar yang terbatas itu. Kalo pengen pasar yang lebih besar, mereka harus bertransformasi dari ikan sungai jadi ikan laut.

Baru-baru ini gue juga denger beberapa orang mengeluhkan kualitas novel fantasi Indonesia yang belum sebaik luar negeri. Ada yang bilang penulis Indonesia kurang imajinasi untuk nulis fantasi. Ada juga yang bilang pembacanyalah yang kurang imajinasi, sehingga penulis-penulis itu berhenti nulis fantasi dan beralih ke genre lain.

Tapi sejak kapan fantasi sejenis tulisan Neil Gaiman gitu populer di sini? Nggak pernah. Itu hanya dibaca orang-orang tertentu. Yang berakar secara kultural sekaligus digemari di sini adalah cerita-cerita takhayul, yang sebenernya nggak kalah fantastis dari cerita luar mana pun, dan itulah kenapa Ayu Utami terkenal. Itu juga kenapa genre horor rasa lokal lebih maju daripada genre fantasi ala barat dan penulis fantasi ala barat nggak maju-maju.

Sebagai kreator, salah satu penyebab utama frustrasi kita adalah ekspektasi yang nggak tepat—seperti ikan sungai memimpikan laut atau ikan laut memimpikan sungai. Kepuasan datang ketika lo selaras dengan habitat lo dan cukup cerdas untuk hidup dengan itu—sambil secara bertahap mengembangkannya.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

3 comments

    1. Hmm ya misalnya kalo kita berharap jadi penyanyi terpopuler di Indonesia, tapi genre yang kita mainin klasik–klasik bisa aja meledak di Italia, tapi gak di Indonesia. Buat musisi klasik, ekspektasi yang tepat ya mereka tetep bisa jadi besar di lingkungan mereka sendiri (atau sekalian ngadu nasib dan bersaing dengan orang-orang luar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *