Ketika Semua Orang adalah (atau Dilihat sebagai) Media

Sederhana aja, kalo lo ada di internet, lo adalah media. Blog, Twitter, Facebook, Google+, Youtube, dan lain-lain adalah platform yang ngubah lo jadi media. Sama kayak pas lo ada di kantor—lo adalah pegawai, diliat sebagai pegawai, dan nggak ada orang peduli kepribadian lo yang asli. Itu urusan lo sendiri. Dan itu hanya diketahui orang-orang terdekat lo.

Gimana lo bertingkah sebagai media, itu terserah lo. Tapi media juga adalah dunia yang punya aturan mainnya sendiri. Itulah kenapa orang-orang yang nggak ngerti itu—mereka yang ngira mereka tetaplah diri mereka di platform-platform itu dan mesti diliat sebagai diri mereka—sering kecewa ama kelakuan temen-temen mereka. Gue nyebut orang-orang ini ‘santo’.

Ketika Semua Orang adalah (atau Dilihat sebagai) Media | Controversy

Apa yang bakal gue tulis mungkin nggak sejalan ama pikiran sebagian dari lo, tapi gue cuma membeberkan kenyataan. Sebagian besar orang pengen mengomersialkan diri mereka yang adalah media itu. Itulah kenapa mereka pengen jadi selebtwit, seleblog, selebgram, atau terserah deh. Artinya, sebagai media, mereka pengen bikin duit. Bisnis.

Apa produk utama mereka? Konten? Bahkan media massa besar nggak bikin banyak duit dengan jualan konten untuk dibeli pembaca. Produk utama mereka adalah lo. Mereka jualan audiens untuk ‘dibeli’ pengiklan. Konten cuma umpan untuk menjaring lo untuk kemudian dijual ke pengiklan.

Orang yang ngerti media akan memulai medianya dengan dua pertanyaan ini:

  1. Jenis pengiklan seperti apa yang mau gue pikat? (Tentu saja mereka pengen memikat pengiklan yang berduit, bukan yang indie dan terseok-seok.)
  2. Jenis audiens seperti apa yang menarik buat calon pengiklan dan mesti gue punya? (Setelah tau jawabannya, mereka bikin konten yang menarik buat jenis audiens itu dan kerja mati-matian untuk naikin jumlahnya, sebab makin besar audiens mereka, makin mahal tarif beriklan di media mereka atau tarif untuk pake mereka sebagai juru bicara.)

Setelah itu apa? Secara umum, media bukanlah lembaga independen. Media nggak lepas dari sistem kekuasaan dan kepentingan. Lo akan liat media-media itu, yang adalah temen-temen lo sendiri, ngomong hal-hal bullshit, mengampanyekan sesuatu yang dalam kehidupan nyata mereka tentang, dan mengomersialkan hal-hal yang nggak pantas dikomersialkan.

Setelah itu, ketika mereka jadi terlalu besar, mereka akan jadi penurut. Sebab menentang berarti mati. Ini terjadi di seluruh dunia: mereka yang menentang pemilik kekuasaan dibungkam. Orang-orang yang dengan lantang menentang dan bisa hidup bebas itu sebenernya nggak dianggep. Mereka nggak punya cukup sumber daya untuk membahayakan siapa-siapa. Dan menurut gue, ketika lo nggak punya cukup sumber daya, sebaiknya lo emang nggak usah berisik. Percuma. Serang saat lo pasti menang.

Dalam esainya yang berjudul What Makes Mainstream Media Mainstream, Noam Chomsky bilang, pada dasarnya, tujuan media massa besar adalah mengalihkan perhatian masyarakat dari hal-hal paling penting. Masyarakat sebaiknya nonton bola aja, ngikutin skandal seks selebriti, ngurusin tren fesyen terbaru—apa pun yang penting nggak penting, sebab hal-hal paling penting adalah urusan mereka yang punya dunia.

Gue adalah santo. Kadang gue ngerasa semua yang kita jalanin ini nggak ada poinnya. Kehidupan yang kita jalanin ini udah dirancang dengan terampil oleh sekelompok orang dari generasi ke generasi. Kadang gue mikir harusnya hidup ini nggak cuma begini, pasti ada yang lebih dari hidup ini. Tapi nggak, secerdas apa pun otak lo, lo nggak akan liat kemungkinan selain kita hanya jalanin hidup yang ditetapkan oleh manusia lain, yang punya akses dan kekuatan untuk itu.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

6 comments

  1. ini yg skarang kejadian di twitter, apa aja diiklanin, nggak tau sesuai apa nggak dengan konsep diri mereka, dan ya gimana lagi, sejauh ini saya cuma bisa muted #hashtag kalo sudah terlampau berisik ehehe

    1. Itu gak terelakkan sih di era media sosial, ketika semua orang adalah media. Dalam dunia penerbitan juga gitu kan: penulis pertama-tama dinilai dari jumlah dan jenis audiensnya dulu karena penulis dilihat sebagai media dan gak ada pilihan lain. Kalo penulis gak menjelma media di internet, dia gak punya daya jual. Jadi yaa… things change. Kita gak bisa juga masukin dunia ke dalam kapsul waktu supaya gak berubah. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *