Kita Semua adalah Pencerita

Entah karena pernah nonton filmnya atau baca Odyssey karya Homer (yang bisa diunduh di sini), lo semua pasti tau cerita perang Troy. Itu perang antara Yunani dan Troy, yang dipercaya terjadi pada 1194 sampe 1184 BC.

Jalan ceritanya cukup sederhana. Perang itu udah berlangsung sepuluh tahun dan nggak ada tanda-tanda bakal berakhir atau siapa pemenang dan pecundangnya. Mungkin gara-gara bosen, kubu Yunani merancang strategi licik. Mereka bangun seekor kuda kayu raksasa dan ngumpetin prajurit-prajurit terbaiknya di dalamnya. Sebagian besar prajurit lainnya berlayar pergi, pura-pura pulang kampung, dan ninggalin kuda monumental itu di pantai.

Kita Semua adalah Pencerita | Controversy

Kemudian para prajurit Troy nemuin kuda itu dan mengaraknya ke dalam kota sebagai simbol kemenangan. Seluruh rakyat Troy berpesta ngerayain akhir konflik satu dekade itu. Mereka dekorasi kota dan kuil-kuil pemujaan untuk para dewa, minum anggur, dan menari-nari.

Tapi malamnya, saat semua orang tidur dan teler karena mabok, para prajurit Yunani keluar dari persembunyian. Mereka bunuh pasukan penjaga Troy dan buka gerbang kota supaya para prajurit Yunani lainnya, yang udah balik lagi, bisa masuk dan bantu.

Selama satu dekade, Troy nggak bisa ditembus, apalagi ditaklukkan, dari luar. Tapi mereka nggak berdaya diserang dari dalem. Kota mereka dihancurkan dan berakhirlah Perang Troy. Kurang-lebih gitu ceritanya.

Selama ribuan tahun, cerita itu disampein secara lisan, baik dibacain dalam bentuk puisi atau dinyanyikan dalam iringan musik. Mirip reality show masa kini, cerita itu penuh kejutan, drama, percintaan, dan aksi. Tapi di balik semua itu, ada pesan yang coba disampein ke pendengar: jangan pernah percaya musuh lo, bahkan saat dia terlihat bersahabat.

Tapi coba lo pikir lebih jauh: kalo Homer cuma pengen nyampein pesan itu, bukankah dia bisa ngomong langsung tepat sasaran aja? Kenapa dia harus bikin buku puisi yang berisi entah ratusan atau ribuan baris itu?

Alesannya simpel: manusia nggak berpikir dalam bentuk informasi. Kita berpikir dalam bentuk narasi. Bahkan saat kita diam, kita selalu bernarasi di dalam pikiran kita. Kita ngarang cerita-cerita yang sering kali lebay. Informasi yang efektif selalu dibungkus cerita, nggak pernah disajiin mentah-mentah.

Sekitar lima tahun lalu, gue pernah ikut kelas copywriting. Saat itu pengajarnya bilang gini: yang bikin seseorang atau sesuatu menarik adalah cerita-cerita yang mengelilinginya. Dia kasih contoh Ariel Noahβ€”saat itu mungkin masih Ariel Peterpan, entahlah. Dia bilang, Ariel bukan laki-laki terganteng di Indonesia, bukan penyanyi atau pencipta lagu terbaik, bukan juga sosok yang karismatik secara alami. Dia menarik karena cerita-cerita yang mengelilinginya. Kalo dia tukang bakmi, dia akan tetep ganteng, tapi nggak akan digila-gilai para perempuan se-Indonesia dan juga negara-negara tetangga.

Kita semua, suka nggak suka, adalah pencerita dan bergerak dalam β€˜bisnis’ storytelling. Katakanlah lo itu editor buku. Terus kenapa? Itu cuma sekeping informasi dan ada banyak editor buku di dunia ini. Lo jago? Itu kepingan informasi lain dan yang jago juga banyak. Cerita yang lo sajikan dan kelihaian lo memainkan cara berpikir referensial kitalah yang membuat lo menang.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

8 comments

  1. contoh nyata yg sekarang saya sedang amati ttg kepiawaian seseorang bercerita adalah penampilan indra frimawan di stand up comedy indonesia 5, canggih cara berceritanya, dan punya gaya menurut saya.. πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *