Buku Bagus yang Jelek dan Buku Jelek yang Bagus

Gue akan ngajak lo mampir sebentar ke dunia ekonomi. Gue akan kasih dua skenario dan lo mesti pikirin jawaban lo.

Skenario A: Lo pengen beli celana jins yang bagus dan bermerek. Lo lagi di mal, masuk ke satu toko—katakanlah Levi’s—dan nemuin celana jins yang keren banget. Harga awalnya 600.000, tapi mungkin karena itu hari baik lo, didiskon jadi 300.000. Apa yang akan lo lakuin? Beli itu atau cari pilihan lain? (Pikir jawaban lo.)

Skenario B: Lo pengen beli celana jins yang bagus dan bermerek. Lo masuk ke toko Levi’s di sebuah mal dan nemuin celana jins yang keren banget. Sama kayak di Skenario A. Bedanya, harga awalnya 330.000 dan sekarang didiskon jadi 300.000. Apa yang akan lo lakuin? Beli itu atau cari pilihan lain? (Pikir jawaban lo.)

Buku Bagus yang Jelek dan Buku Jelek yang Bagus | Controversy

Kalo lo seperti kebanyakan orang, Skenario A kedengeran cukup bagus. Lo akan cenderung beli itu. Kalaupun lo mutusin liat-liat yang lain dulu, lo akan bilang hal-hal kayak gini di pikiran lo: “Itu jins keren banget dan diskon 50%. Jadi cuma 300.000. Kapan lagi Levi’s dikon sebesar itu?” Pada akhirnya lo mungkin bakal balik lagi dan beli karena takut itu diambil orang lain.

Gimana dengan Skenario B? Ah diskonnya nggak sampe 10%, pikir lo, beda 30.000 doang. Lo akan liat-liat dulu ke toko-toko lain untuk bandingin itu ama jins-jins lain, dalam hal kekerenan dan harga, nyari mana deal yang paling menarik. Kalo pada akhirnya lo balik lagi dan beli jins Levi’s itu, itu karena ternyata jins itulah yang paling keren dan deal-nya paling menarik. Tapi poinnya, penawaran dalam Skenario B nggak bikin lo ngebet beli kayak dalam Skenario A, padahal harganya sama.

Daniel Kahneman dan Amos Tversky memenangi Hadiah Nobel dalam bidang ekonomi pada 2002 karena teori mereka yang disebut ‘teori prospek’. Itu teori yang kaya dan lumayan kompleks, tapi ide dasarnya sederhana. Penilaian dan keputusan yang kita buat sering kali bertentangan dengan asumsi standar ekonomi tentang kedua hal itu. Penilaian dan keputusan kita nggak selalu didasari alasan-alasan rasional. Justru itu lebih sering didasari oleh prinsip-prinsip psikologis tentang gimana kita mempersepsikan dan memproses informasi.

Salah satu poin penting teori prospek adalah kita nggak mengevaluasi segala sesuatu dengan pola pikir absolut. Kita lakuin itu dengan pola pikir relatif, bergantung pada titik referensi.

Itu jelasin kenapa Skenario A bikin kita ngebet beli, sedangkan Skenario B nggak. Titik referensi dalam Skenario A adalah 600.000 rupiah. Begitu didiskon jadi 300.000, wow, kapan lagi? Titik referensi dalam Skenario B adalah 330.000 rupiah. Begitu didiskon jadi 300.000, yaelah, lo pikir gue nggak bisa bayar 30.000?

Padahal harusnya kita nggak mikirin berapa pun titik referensinya. Kita sama-sama mesti keluarin 300.000. Jumlah uang di dompet dan rekening kita tetep sama. Dlihat dari perspektif keadaan ekonomi kita sendiri, kalo Skenario A bagus, mestinya Skenario B ya bagus juga. Jadi, itu semua akal-akalan aja. Mindfuck.

Dan itu nggak hanya berlaku dalam hal ekonomi aja, tapi hampir dalam segala hal yang libatin penilaian dan keputusan kita. Contoh: baru-baru ini gue dan seorang teman baca buku karya seorang penulis besar. Menurut gue, buku itu mengecewakan. Menurut dia, buku itu bagus.

Gue jabarin poin-poin plus dan minusnya dan kenapa menurut gue buku itu mengecewakan. Temen gue setuju ama analisis gue, tapi dia sibuk bikin pembelaan. Dia bilang hal-hal kayak ‘kekurangan-kekurangan itu sepertinya disengaja oleh si penulis karena alasan ini dan itu’ atau ‘penulis sehebat dia tentu punya pertimbangan sendiri untuk hal-hal yang dia suguhin ke pembaca’ dan semacamnya.

Gue bales, “Kalo buku ini bukan karangan penulis hebat ini, melainkan penulis baru entah dari mana, lo akan tetep bikin pembelaan atau mengkritik?”

Setelah beberapa saat, dia jawab, “Mungkin mengkritik.”

Itulah kenapa gue nggak pernah saranin temen-temen gue yang nulis untuk ikut lomba apa pun. Guna perlombaan itu cuma untuk menetapkan titik referensi atau patokan kualitas tulisan kita. Dan titik referensi adalah sesuatu yang bisa kita bangun sendiri. (Bukankah dengan ngikutin blog ini lo jadi punya titik referensi terkait kualitas tulisan penulisnya?)

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

7 comments

  1. Ah, walo beda nuansa, yg kupikirkan hari ini, ada benang merahnya dalam tulisanmu, mas. Titik referensi itu memang bisa salah kaprah jika “dipatok” dalam skala waktu yang terlalu terburu-buru. Musti pintar2 merajutkan intuisi disitu supaya tak terlalu jauh terjebak dalam jebakan betmen, eh…hehe. Ini terjadi padaku dari kecil, saat semua anak2 suka main ini beli itu dan aku lain sendiri, cap merek “aneh” begitu mudahnya diberikan. Patokanku dari bawaan lahir mgkn gitu: klo aku ndak merasa sreg apalagi ndak nyaman, yg namanya branded-trendy stuff itu ndak ada artinya buatku. Sesekali hanya beberapa item branded yg ngena di hati, beli nya pas ada cadangan dana (ndak maksain), beli nya pas dateng mood beli (ndak ada kata nyesel beli), dipake nya enak, awet, tahan lama dan kalopun ada duit lagi, dan itu masih bagus, ndak pernah ada kepenginan beli model atau warna laen; nungguin sampe itu jebot dulu. Nah, buku yg bagus itu, regardless siapapun writer atau publishernya, adalah yg membuatku makin betah membaca kalimat2 selanjutnya dgn nyaman seolah sedang main ayunan dan dibuai angin sepoi2 shg merasa tercerahkan. Walo topiknya berat dan ga umum tapi klo cara menyajikan nya bikin pengen nambah lagi, ya itulah yg mnrtku bagus. Ya kayak blog mu ini mas hehe. One more thing, belajar menikmati proses dalam peradaban yg demanding serba instan ini merupakan sebuah keasyikan tersendiri yg buat orang kebanyakan pasti dikatain “kebanyakan pertimbangan loe!”. Oh well, in the end, titik referensi adalah salah satu seni menikmati proses yg pantang utk membohongi diri sendiri. Saat kenikmatan proses itu bisa dirasakan dgn penuh nyaman dari hati (instead of jaga gengi semata), insya Allah skala titik referensi nya akan jadi suatu patokan yg ber energi positive 🙂 Aduh, tapi itu saya loh…bisa aja ndak cocok buat yg lain. Pernah denger “ndak asal ngebut, ndak asal cepet, ndak asal jadi”? Ya, kira2 bisa disinkronisasikan dengan ungkapan ndak asal gengsi hehe. Have a good day, mas! Nice thought-provoking topic! 🙂

    1. Thanks Mbak!

      Saya juga sebenernya gitu, gak asal ikutan tren atau gengsi, tapi lebih pertimbangin saya beneran suka atau gak, cocok buat saya atau gak. Tapi kadang titik referensi ini emang bisa bikin penilaian kita bias. Misalnya, saya penggemar berat Haruki Murakami. Saya tau kelemahan dia adalah sering redundant poin-poin yang dia sampein. Tapi tetep aja saya bikin pembelaan ini-itu. Saya pernah bilang ke temen saya, “Buku yang lengkap itu yang hadirin semua emosi, mulai dari yang seru sampe yang membosankan. Semuanya ada dalam satu buku.”

      Itu ya tentu pembelaan saya aja untuk bagian-bagian yang membosankan dari tulisan Murakami. Kalo hal itu saya temukan dalam tulisan penulis yang nggak sebesar dia, mungkin saya gak akan ngomong gitu. Jadi kadang sih saya bias juga saat udah ngefans berat haha….

  2. ini mungkin seperti kejadian waktu buku laskar pelangi pertama muncul, sama sekali tak tertarik, lagian belum kenal dengan penulisnya. baru setelah beberapa orang merekomendasikannya saya beli dan baca, untunglah ternyata seringkali rekomendasi itu benar adanya..

    soal diskon diatas sih saya mesti milih yg diskon banyak haghag
    dan saya kagum ama mbak yg komennya panjang dan rapi di atas

    oh iya satu lagi, awal baca postingan ini, mata saya malah fokus pada perut cewek yang kedua dari kanan di ilustrasi atas, pinter ente milih gambar haha

    1. Ya, kita semua cenderung milih yang diskon banyak walaupun harga akhirnya sama dengan yg diskon dikit. Itulah… ilusi murah, padahal cuma akal-akalan penjualnya aja.

      Haha gitu ya? Saya malah awal milih gambar ini karena keliatannya keren aja. Tapi perutnya emang bagus *eh 😛

  3. gue sih kalau jins jahit aja, bukan apa-apa, ini krna punya size badan ndak lazim.
    oke, komennya gak nyambung XD

    dan tadi sempat mikir juga kenapa milih gambar ini, ternyata udah dijawab “karena kelihatan keren aja”, baiklah 😀

    1. Gue malah udah lama banget gak beli jins baru *gak nyambung juga*

      Haha…. Selain karena keliatannya keren, semua orang di gambar itu kan pake jins dan itu emang iklan Levi’s entah tahun berapa 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *