Narasi yang Sempurna

Dalam penulisan kreatif, narasi yang baik mungkin sama pentingnya dengan cerita yang baik. Itu bikin para penulis selalu coba ngembangin kemampuan mereka bernarasi dari waktu ke waktu. Kita baca tips-tips dari para penulis besar, pelajari argumen mereka, dan coba menyesuaikannya dengan gaya kita sendiri.

Beberapa tips yang paling sering kita denger antara lain adalah pertahanin kalimat untuk tetap pendek, jangan sering gunain kata-kata yang nyedot begitu banyak perhatian ke dirinya, jangan gunain tanda seru tanpa ada perlunya, dan seterusnya. Tapi kenapa? Secara intuitif kita mungkin tau jawabannya, tapi apa konkretnya?

Gue nggak pernah puas dengan penjelasan yang dikasih ke gue dan ngerasa perlu menggali lebih dalam. Saat ini gue udah nemuin jawabannya.

Narasi yang Sempurna | Controversy

Dalam film Is the Man Who is Tall Happy?, yang isinya wawancara sutradara Michel Gondry ke ilmuwan dan filsuf modern terkenal Noam Chomsky, si ilmuwan bilang pada satu bagian bahwa sebagai produk dunia yang organik, kita memiliki keterbatasan. Kita nggak bisa terbang, misalnya. Gue nggak bisa nyusul truk di jalanan antarkota dengan mobil gue sambil ngitung berapa 24 x 97—nggak ada orang yang bisa. Ada hal-hal di luar kapasitas mental kita dan itu salah satunya.

Christopher Chabris dan Daniel Simons pernah bikin eksperimen yang dimuat dalam buku mereka, The Invisible Gorilla. Mereka muter sebuah film yang nayangin dua tim oper-operan bola basket—satu tim pake kaos putih, tim lainnya berkaos hitam. Para penonton film itu diinstruksiin untuk ngitung berapa jumlah operan yang dibuat tim berkaos putih dan abaiin aja operan-operan tim hitam. Itu tugas yang susah dan nyerap perhatian karena sering kali semuanya berlangsung cepat.

Pada tengah-tengah film, seseorang dengan kostum gorila muncul, melintasi lapangan, mukul dadanya, dan pergi. Dia terlihat selama sembilan detik. Yang menarik, begitu film abis dan para penonton ditanya, setidaknya setengah dari mereka nggak menyadari kehadiran gorila itu. Mereka begitu terserap ke dalam tugas mereka untuk ngitung operan. Tanpa tugas yang menyita kapasitas mental itu, nggak ada orang yang bakal melewatkan pemandangan itu. Tapi itulah yang terjadi. Orang-orang yang nggak sadar itu kaget saat film itu diputar ulang karena mereka yakin gorila itu nggak pernah ada.

Kemampuan kita untuk memperhatikan itu bukannya nggak ada batasnya. Misalnya, saat lo main game perang, lo nggak bakal denger gue ngomong apa atau liat apa yang terjadi di luar layar komputer lo. Psikolog pemenang Nobel Daniel Kahneman bilang, ketika beberapa hal nuntut perhatian kita pada waktu yang sama, yang kemudian mengakibatkan mental overload, otak kita ‘melindungi’ hal yang terpenting supaya dapet perhatian yang diperlukan. Efeknya, kita jadi buta terhadap hal-hal lain yang kalah penting.

Sekarang bayangin saat lo terakhir kali baca novel yang ceritanya berat, temanya berat, dan narasinya rumit. Apa yang terjadi? Awalnya lo baca lebih lambat untuk nyerap semuanya, tapi pada satu titik, kalo narasinya rumit melulu, lo akan baca cepat dengan sikap bodo amat ngerti atau nggak—yang penting nangkep garis besarnya. Itu bukan karena lo pemalas. Itu karena fokus dan perhatian yang intens emang melelahkan.

Faktanya, saat lo lakuin itu, kadar gula darah lo menurun dan menurun terus. Sama kayak berolah raga. Kalo lo nggak makan atau minum manis untuk naikin kadar gula darah lo (atau untuk ngasih energi cepat), lo akan nyerah, makanya lo jadi baca cepet tanpa peduli lagi ngerti atau nggak. Lo hanya ngasih perhatian untuk sesuatu yang pengen lo mengerti, yaitu cerita utamanya, dan ngabaiin hal-hal lainnya.

Narasi yang sempurna adalah narasi yang nggak nyedot seluruh fokus dan perhatian kita, bikin kita capek dan nyerah. Narasi yang sempurna nggak nurunin kadar gula darah kita dengan drastis sehingga kita nggak punya energi lagi untuk coba mengerti apa yang kita baca. Penulis yang cerdas tau gimana menyampaikan pesan utamanya tanpa membuat kita kehilangan minat dan gairah. Narasi yang rumit sepanjang waktu—dengan pilihan kata yang nggak dimengerti siapa pun, kalimat yang entah kapan nyampe titik, tanda baca yang aneh-aneh, dan kerumitan-kerumitan lainnya—adalah narasi yang sia-sia.

LinkedInShare

4 comments

  1. Jadi ingat novel Amba. Awalnya aku begitu terhanyut, luar biasa cerita. Tapi entah kenapa tiba2 penulisnya menjembreng begitu banyak surat2 yang menurutku gak penting & itu sampai berlembar-lembar. Bagian itu aku skip & ketika sampai di akhir cerita yang sama luar biasanya, aku nggak merasa rugi skip sekian banyak halaman krn memang nggak relevan & aku nggak merasa harus balik lagi untuk menangkap benang merahnya.

    1. Oh iya novel Amba itu…. Halaman pertamanya aja udah luar biasa memikat. Emang bagian tengah-tengah itu agak terasa dipaksakan karena penulis sepertinya ingin sekali masukin cerita-cerita sejarah (walaupun kurang relevan dengan cerita utama). Tapi secara keseluruhan novel itu okelah. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *