Intuisi yang Sempurna

Psikolog Gary Klein pernah ceritain sesuatu yang menarik. Sebuah tim pemadam kebakaran masuk ke satu rumah yang dapurnya berapi. Beberapa lama setelah mereka nyiramin dapur itu, si komandan teriak, kita semua keluar! Padahal dapurnya masih terbakar hebat. Persis setelah seluruh anggota tim keluar, lantai rumah itu ambles.

Si komandan, berdasarkan pengakuannya, nggak tau apa yang salah waktu dia instruksiin anak buahnya untuk cabut, tapi dia tau ada yang salah. Pas dia pikirin lagi, dia bilang dia ngerasa api itu terlalu tenang dan kupingnya lebih panas daripada biasanya. Dan ternyata terbukti setelah itu bahwa pusat api bukan di dapur, melainkan di basement persis di bawah dia dan anak buahnya berdiri.

Itulah intuisi.

Intuisi yang sempurna. 

Intuisi yang Sempurna | Controversy

Musisi profesional, ketika denger sebuah lagu, langsung tau kerangka lagu itu gimana dari awal sampe akhir (kord-kordnya, pola progresinya, dan lain-lain), termasuk unsur-unsur kejutan yang mungkin muncul. Musisi yang lebih ahli lagi bahkan tau nada apa yang terdengar saat lo mencet sebuah tuts piano, metik satu senar gitar, dan seterusnya.

Ketika nulis, penulis berpengalaman hampir nggak bikin kesalahan ketik maupun tata bahasa. Susunannya terstruktur, ritmenya enak, dan semuanya terlihat rapi dan terpola. Itu alami buat mereka, intuitif, otomatis, bukan sesuatu yang mensyaratkan pemerasan otak.

Yang kita bilang ‘intuisi’ sering kali adalah hasil latihan bertahun-tahun, proses ribuan jam, yang ngubah pengetahuan jadi ‘refleks’. Intuisi si komandan pemadam kebakaran mungkin terdengar lebih keren, nyaris magis, karena latarnya adalah rumah yang kebakaran. Tapi sebetulnya itu sama aja dengan intuisi si musisi dan penulis—bidangnya aja yang beda.

Itu nggak berarti nggak ada yang namanya intuisi yang seratus persen alami. Saat ada suara yang ngagetin, kita semua nengok ke arah yang sama dan bisa memperkirakan dari mana datangnya. Saat liat seseorang dengan jidat berkerut dan mata melotot, kita otomatis mikir dia lagi marah dan akan bilang kata-kata kasar, bukan aku cinta kamu.

Tapi coba liat gambar ini:

Itu ilusi Muller-Lyer yang terkenal itu. Apa yang intuisi lo bilang? Garis yang bawah lebih panjang daripada yang atas? Nah, coba lo ukur. Sama. Kalo lo tau dari awal bahwa dua garis itu sama panjang, ini bukan kali pertama lo denger tentang ilusi Muller-Lyer. Jadi, lo udah tau jawabannya. Sebab, buat orang yang udah tau jawabannya sekalipun, garis yang bawah tetep akan terlihat lebih panjang. Itu persepsi yang nggak bisa diapa-apain.

Sekarang ayo kita lakuin satu permainan. Gue kasih lo pertanyaan dan lo mesti jawab spontan. Dengerin intuisi lo. Jangan dipikir dulu, apalagi ditulis rumusnya. Spontan.

Harga sepatu dan kaos kaki 110.000.

Harga sepatu lebih mahal seratus ribu daripada kaos kaki.

Berapa harga kaos kaki?

Sederet angka muncul di kepala lo. Dan itu salah. Kalo lo jawab bener, cuma ada dua kemungkinan: lo udah pernah mainin permainan itu sebelumnya atau lo curang—lo ambil waktu buat ngitung, nggak spontan.

Dua contoh di atas ngasih liat lo intuisi yang nggak sempurna. Ngawur, malah. Dan itu sering terjadi dalam keseharian kita. Kita ambil contoh media sosial. Saat satu peristiwa besar terjadi, misalnya, dari seluruh pembicaraan yang ada, berapa persen yang terjadi online—di Facebook, Twitter, blog, dan semacamnya?

Lo mungkin nebak 70% atau 50% atau yaa… 40%. Menurut riset yang dibikin Keller Fay Group, sebuah firma yang bergerak dalam bidang riset pemasaran dan udah menangin banyak penghargaan, hanya 7%. Gue sendiri mikir mungkin nggak serendah itu, mungkin 15%. Tapi 7% atau 15%, dua-duanya tetep rendah.

Dan kalo lo pikir lebih jauh, sebenernya itu masuk akal. Berapa banyak lo pikir kita ngomongin kreator dan karyanya secara offline sepanjang hari? Waktu sarapan dan ternyata roti lo abis, lo minta tolong orang rumah lo untuk setopin tukang Sari Roti kalo lewat. Lima menit kemudian, dia nanya, tukang Bogor Yana lewat, mau nggak? Lo jawab, tunggu Lauw aja dan beli roti cokelat.

Berapa banyak stasiun TV, nama film, nama aktor yang lo omongin saat nonton TV? Berapa banyak pilihan restoran yang lo omongin ama temen kerja lo saat istirahat makan siang? Berapa banyak produk kosmetik, metode diet, dan makanan sehat yang ibu-ibu omongin pas nongkrong?

Di luar sadar kita, banyak banget kreator yang karyanya kita omongin sepanjang hari, tapi itu semua terasa alami sehingga kita nggak ngeh. Sering kali obrolan online tentang merek justru nggak kerasa alami dan bikin males. Banyak dari kita malah anti duluan.

Gue nggak bilang media sosial itu nggak penting. Media sosial hanya nggak sehebat yang kita pikir. Itu cuma pemicu, bukan the real deal. Persepsi kita tentang kehebatan media sosial adalah salah satu contoh intuisi yang ngawur. Faktanya: 50% video di Youtube diliat di bawah 500 kali, nggak sampe 10% temen lo di Facebook merespons status lo, dan di Twitter malah lebih rendah lagi. Mereka liat, tapi bukan berarti mereka peduli.

Intuisi yang sempurna adalah hasil pengetahuan yang diolah bertahun-tahun, proses ribuan jam. Intuisi yang nggak sempurna bisa dilurusin jika kita gunain otak kita untuk berpikir kritis. Seperti yang lo lakuin pada ilusi Muller-Lyer dan permainan harga sepatu dan kaos kaki.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

9 comments

  1. Kalau intuisi dalam memaknai jodoh, soulmate, dan cinta sejati, mas? (eh, belum diulas soalnya hehe) #peace 🙂

  2. Ini salah satu pembahasan yang sangat saya sukai. Intuisi dalam pengertian dan pemahaman yang lebih luas dan dalam, masuk ke ranah kesadaran atau konsep tentang consciousness and awareness.

    Karena saya seniman ilmu seni bela diri dan penganut ajaran esoterisme, jadi tertarik membahas hal ini dari sudut pandang tersebut.

    Dalam dunia ilmu seni bela diri juga dikenal tentang ‘intuisi’, sebuah bentuk dari kesadaran dan awareness, dimana pada level lanjut, hal seperti ini merupakan sebuah pencapaian tertinggi bagi seorang pendekar ilmu bela diri.

    Ada 2 (dua) jenis ‘intuisi’ yang dikenal dalam dunia ilmu seni bela diri, yaitu ‘intuisi fisik’ dan ‘intuisi rohani’.

    ‘Intuisi fisik’ merupakan tingkat kesadaran paling dasar yang berhubungan dengan ketangkasan fisik jasmani, yang berhubungan dengan ketrampilan dalam melakukan gerakan gerakan dan teknik teknik ilmu bela diri. Jenis intuisi seperti ini dikuasai dengan cara berlatih semua teknik teknik bela diri sesering mungkin. Ungkapan yang cocok untuk hal ini adalah “practice makes perfect”. Sebuah kalkulasi matematis dalam hal ketangkasan fisik menyebutkan bahwa seseorang harus berlatih sekitar 10.000 jam agar tubuh dan pikirannya bisa menyatu menguasai apa yang mereka pelajari. Hukum seperti inilah yang dipakai dalam menguasai level intuisi semacam ini. Hasil yang didapatkan tentu saja adalah ketangkasan fisik luar biasa yang bisa dilakukan oleh seorang ahli ilmu seni bela diri. Namun bagaimanapun juga, dalam dunia ilmu seni bela diri, ini adalah level paling dasar dalam ‘Kesadaran’.

    ‘Intuisi rohani’ atau intuisi non fisik (mental & spiritual) adalah sebuah level kesadaran tingkat lanjut yang membawa seorang pendekar ilmu seni bela diri berada dalam tataran yang dimana sangat sulit untuk dipahami hanya secara pengertian fisik. Ketangkasan fisik jasmani sudah tidak penting disini, masih tetap bermanfaat, tapi sudah semakin kecil porsinya. Ini adalah sebuah level yang hanya bisa dicapai melalui kontemplasi, meditasi, perenungan atau semacam lelaku spiritual.

    Saya sendiri sedang terengah-engah untuk mencapai level ini dan terkadang masih gagal karena masih terikat ego jasmani.

    Pada level kesadaran ‘intuisi rohani’ ini, seorang seniman ilmu seni bela diri akan memasuki sebuah keadaan kesadaran yang sulit dijelaskan dan digambarkan secara verbal, semacam hal yang hanya bisa diketahui dengan mengalami sendiri. Seperti sebuah konsep tentang ‘Tao’ yang tidak bisa dijelaskan dengan ranah linguistik, hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah merasakan.

    Hasil yang paling mudah untuk dijelaskan adalah adanya sebuah kepekaan yang luar biasa terhadap hal hal yang bersifat ‘pengertian’ atau non fisik. Secara fisik juga bermanfaat untuk bisa merasakan apa yang orang tidak bisa rasakan. Level ini memang bersifat sangat paradoks. Disatu sisi kita mempelajari ilmu perang, namun disisi lain ada semacam pencerahan bersifat spiritual yang membawa kita pada pengertian dan pemahaman yang lebih luas dan dalam tentang suatu hal. Saya pribadi baru merasakan sangat sedikit pada level ini, datang dan pergi, kadang sampe kadang tidak :)) :)) :))

    Tapi setidaknya sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang apa yang bisa saya capai nantinya.

    Segitu aja sharingnya, semoga nyambung dengan topik ini dan kita bisa saling bertukar pemikiran dan pengetahuan. Nice topic, like it! 🙂

    1. Thanks, Mas! Nyambung banget dan saya juga tertarik dengan hal-hal kayak gini.

      Kalo intuisi fisik seperti penjelasan Mas, itu ya seperti nyetir mobil aja. Awalnya kita belum nyatu, terus-menerus mikirin cara kerjanya di otak kita, tapi pada satu titik itu nyatu, kita gak pake mikir lagi. Kalo dalam dunia tulis-menulis, banyak yang bilang kita baru bener-bener menjelma ‘tulisan’ setelah nulis sejuta kata. Dalam dunia bela diri prosesnya panjang banget, ya, sampe 10.000 jam.

      Kalo tentang intuisi rohani, entahlah, saya gak punya pendapat karena saya sendiri masih meragukan konsep roh dan jiwa. Itu agak abstrak, menurut saya. Orang yang selalu bangkit dan pantang menyerah, misalnya, dibilang spiritnya (atau jiwanya) kuat. Tapi itu bisa dijelasin secara ilmiah sebenarnya. Intense focus atau mental concentration itu makan banyak energi. Saat kita lakuin itu, kadar gula darah kita menurun terus. Kalo kita gak makan atau minum manis untuk ngasih energi cepat dan tugas kita bikin kita mental overload, tentu kita akan nyerah. Supaya gak nyerah ya kasih tubuh kita asupan energi.

      Jadi ya entahlah haha…. Sejauh ini saya gak benar-benar meyakini eksistensi roh dan jiwa, walaupun mungkin aja—mungkin banget sebenernya—itu ada. Thanks komennya, Mas! Itu mungkin komen paling berguna yang pernah saya dapet. 😀

      1. Hahaha… Betul betul, konsep tentang rohani-spiritual supranatural-jiwa, memang bisa sangat abstrak dan bisa menyebabkan distorsi penilaian karena bisa bersifat sangat subyektif. Itu sebabnya dalam pemikiran ala otak kanan juga diperlukan pemikiran ala otak kiri. Semacam east meet west gitu lah :)). Apa yang dipercaya dalam pemikiran ajaran ketimuran bisa saja diperkuat keabsahannya dg pemikiran logic science barat modern, atau bahkan dipatahkan. Seperti orang kita yg bilang liat pocong, tapi orang barat gak pernah liat pocong. Klo ditelaah secara neuro science ternyata itu soal data dalam otak, dimana otak orang barat tidak ada data tentang pocong, jadi gak pernah liat pocong. Sedangkan orang kita dari kecil otak kita udah dicekokin tentang cerita pocong. Begitu kira kira kali ya :)) :)) :))

  3. Bagaimana jalau misalnya gue karena suka ngamatin tingkah laku seseorang, si A tatapan matanya misalnya aneh dan suka bohong, terus gue ketemu si B yg tatapan matanya sm ky si A gue ga tau dia suka bohong apa ga, tp belakangan ternyata bener si tukang bohong. 😮 apa itu intuisi juga?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *