Berita Baik bagi Karya Membosankan

Sebanyak apa pun buku komunikasi yang lo baca—pemasaran, periklanan, dan sejenisnya—ada satu hal yang selalu sama: mereka penganut teori interest is king. Selama apa pun lo kuliah komunikasi, salah satu poin utama pelajaran lo adalah teori interest is king. Dan itu nggak selalu bener. Sering kali malah ngawur.

Itu mungkin terdengar kontradiktif kalo lo ngikutin blog ini. Lo tau gimana gue mandang komunikasi sebagai hal penting. Tapi, kalo lo perhatiin, nggak satu pun tulisan gue bicara tentang teori interest is king. Pertama, gue emang bukan penggemar pemasaran dan segala teori yang melekat padanya. Kedua, dengan riset yang sedikit aja lebih dalam, lo bisa buktiin teori itu semi-bullshit. 

Berita Baik bagi Karya Membosankan | Controversy

Kita mulai dari sini: karya menarik akan lebih banyak dibicarain daripada karya ngebosenin. Semua orang setuju itu. Intuisi mereka bilang gitu. Ngapain juga ngomongin karya ngebosenin? Gitu, kan?

Kita ambil contoh yang sangat sederhana: Dufan dan bolpen. Mana yang lebih menarik? Dufan, kan? Bolpen ya cuma bolpen. Barang remeh, harganya murah, bisa dibeli kapan aja, dan tiap hari lo gunain. Tapi kapan terakhir kali lo ngomongin Dufan dan kapan terakhir kali lo ngomongin bolpen?

Gue udah bertahun-tahun nggak ngomongin Dufan. Bahkan anak kecil pun mungkin cuma ngomongin Dufan dua-tiga kali dalam setahun. Tapi kita semua sering banget ngomongin bolpen. Pinjem bolpen, dong. Eh, bolpen lo jatuh, tuh. Tintanya abis, nih, mesti beli bolpen baru. Mau gue tusuk lo? (sambil megang bolpen). Dan seterusnya.

Contoh lain: sirloin steak dan nasi. Kapan terakhir kali lo ngomongin sirloin steak dan kapan terakhir kali lo ngomongin nasi? Sirloin steak jarang mampir di kepala kita, paling sebulan sekali atau malah dua-tiga bulan sekali. Sedangkan nasi tiap hari ada di kepala lo. Jadi, otomatis nasi lebih banyak lo sebut daripada sirloin steak.

Pernah ada riset di Amerika yang bandingin mana yang lebih banyak diomongin antara Disney World dan Cheerios (produk sereal gitu). Jawabannya adalah Cheerios jauh lebih banyak diomongin. Riset itu juga ngungkapin bahwa pada satu masa, lagu Friday-nya Rebecca Black adalah salah satu lagu yang paling banyak diomongin, jauh melebihi lagu-lagu lainnya yang lebih bagus dan keren—lagu Friday itu emang nggak bagus.

Apa alasannya? Seperti pernah gue bilang di artikel Sumber Frustrasi (dan Kepuasan) Para Kreator, produk seperti nasi, bolpen, dan Cheerios (bagi orang Amerika) nggak bisa dilepasin dari keseharian kita dan begitu melekat dengan kultur kita. Disney World juga melekat dengan kultur Amerika, tapi itu bukan hal yang inheren dengan keseharian mereka—kesetahunan mungkin iya—sehingga level interaksinya rendah dengan orang-orang.

Untuk lagu Friday, alesannya sama dengan yang gue bilang di artikel Buku adalah Makhluk Sosial. Di situ gue bilang sebagian besar pembaca Indonesia akan teringat buku puisi Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono pada bulan Juni. Hal yang sama berlaku untuk anak-anak 2000-an Amerika. Hari Jumat ngingetin mereka pada lagu Friday (itu terbukti dengan tingginya hasil pencarian video lagu itu di Youtube pada hari Jumat pas lagu itu lagi terkenal-terkenalnya). Itu sama aja kan kayak anak 90-an dulu muter Friday I’m in Love-nya The Cure pas hari Jumat?

Gue nggak bilang kita semua bikin aja karya ngebosenin karena karya menarik nggak ada gunanya. Kalo begitu, di awal gue akan nulis teori interest is king itu bullshit. Poin gue adalah hal terpenting bagi sebuah karya adalah tingkat interaksi yang dia hasilkan dengan orang-orang dan kelekatannya dengan kultur.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *