Kesan Pertama

Ini bisa diperdebatkan, tapi kalo buku pertama Ayu Utami bukan Saman yang fenomenal itu, dia nggak akan memiliki kesuksesannya yang sekarang. Kalo dia nerbitin buku pas kualitas tulisannya masih jelek atau standar banget, kita akan melihatnya dengan cara berbeda.

Kalo Dian Sastro nggak pernah terlibat dalam film Ada Apa dengan Cinta, dia juga nggak akan punya karier yang hebat. Bayangin kalo dia mulai dengan main FTV nggak jelas selama bertahun-tahun. Apa lo masih akan menganggap dia spesial?

Kalo skenario alternatif itu terjadi pada Ayu Utami dan Dian Sastro, orang pemasaran akan bilang mereka butuh repositioning untuk ngubah jalan karier mereka. Ayu Utami mungkin mesti ganti nama pena saat tulisannya udah keren. Entah Dian gimana.

Kesan Pertama | Controversy

Itu berhubungan ama the halo effect, yang barangkali sebagian dari lo pernah denger. Untuk jelasin efek kayak apa itu, gue akan kasih lo pertanyaan: apa yang lo pikir tentang Ari dan Bob?

Ari: cerdas—rajin—spontan—kritis—keras kepala—mudah iri

Bob: mudah iri—keras kepala—kritis—spontan—rajin—cerdas

Kalo lo seperti kebanyakan orang, lo akan punya kesan lebih positif, mungkin jauh lebih positif, tentang Ari. Lo mikir ‘keras kepala’ dan ‘mudah iri’ itu dua sifat yang nggak terelakkan dari orang cerdas dan rajin. Orang cerdas emang biasanya keras kepala karena dia selalu mikir sendiri, nggak ikut-ikutan. Orang rajin bisa aja mudah iri karena dia nggak mau kalah dari sekitarnya—itu sisi kompetitif Ari.

Gimana dengan Bob? Dia mudah iri, keras kepala, kritis, spontan pula—nggak asik banget. Siapa juga yang peduli ama kerajinan dan kecerdasannya? Bisa-bisa dua hal itu malah bikin orang ini tambah nyebelin.

Poin dari contoh di atas adalah hal-hal yang disebut di awal mempengaruhi penilaian lo, setidaknya penilaian awal, tentang kepribadian kedua orang itu secara menyeluruh. Lo jadi bias. Padahal mereka berdua punya sifat-sifat yang sama.

Sekarang bayangin lo dateng ke suatu pesta dan ketemu perempuan bernama Jelita, yang menyenangkan dan enak diajak ngobrol. Lo suka dia, bukan naksir, tapi suka orangnya atau kepribadiannya. Pada kesempatan lain, lo perlu menggalang dana untuk kepentingan sosial dan nama Jelita muncul di daftar. Lo kebayang lagi pertemuan lo ama dia di pesta itu. Lo inget itu momen yang menyenangkan. Kira-kira lo bakal ragu kontak dia atau nggak?

Lo nggak bakal ragu, atau setidaknya nggak seragu ngontak orang yang judes dan galak. Padahal kalo dipikir-pikir, apa hubungannya enak diajak ngobrol dan kepribadian menyenangkan ama kemurahan hati untuk beramal? (Apa nggak mungkin orang yang judes dan galak punya sifat murah hati untuk kepentingan sosial?) Jelita bisa aja enak diajak ngobrol dan menyenangkan pas nongkrong tapi pelit setengah mati. Yang terjadi adalah saat lo bayangin dia, lo inget kesan pertama yang positif itu dan itu merembet ke mana-mana. Lo jadi bias.

Contoh-contoh di atas menjelaskan the halo effect. Kita semua mesti mikir ulang apa bener sahabat kita yang baik itu lebih baik daripada orang-orang lain. Mungkin di luar sana ada banyak orang baik lainnya yang disalahmengerti dan selalu kita abaikan.

Kita semua mesti mikir ulang apa bener penulis kesukaan kita, yang hebat itu, lebih hebat daripada penulis-penulis lainnya. Mungkin ada banyak penulis yang nggak kalah hebat di dunia ini, tapi nggak pernah dapat kredit yang layak. Kesan pertama emang penting, tapi harusnya itu bukan segalanya.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *