Karakterisasi yang Sempurna

Karakterisasi adalah aspek terpenting dalam penulisan kreatif. Kalo lo pernah baca The Miner karya Natsume Soseki, lo bisa lihat bahwa sebuah novel bisa bagus hanya dengan mengandalkan karakterisasi (ditunjang narasi yang baik), walaupun nggak ada plot. Ya, itu novel tanpa plot—semua yang terjadi nggak mengarah ke mana-mana.

Pertanyaannya: gimana bikin karakterisasi yang baik? Ada banyak tips di internet dari para penulis dan editor tentang itu. Sebagian mirip-mirip, sebagian lainnya beda. Nggak ada yang mutlak bener atau salah dari semua itu, karena semua orang berhak punya pendekatan sendiri. Tapi adakah yang sempurna?

Karakterisasi yang Sempurna | Controversy

Dua hal yang paling sering diomongin terkait karakterisasi adalah needs and wants. Lo mesti tau apa yang karakter lo butuh dan pengen dalam hidupnya, atau dalam situasi tertentu yang lagi lo angkat. Needs and wants adalah dua hal yang menggerakkan dia.

Setelah itu, apalagi kalo lo nulis dari sudut pandang orang pertama, lo mikir keadaan emosi karakter lo secara umum: sebahagia apa dia, sesedih apa dia, dan semacamnya. Lo perlu tau itu karena gaya lo bernarasi akan disesuaikan dengan itu.

Sekarang gue kasitau lo: itu pendekatan yang keliru.

Gue akan kasih lo dua pertanyaan dengan dua urutan berbeda.

Urutan pertama:

Gimana kondisi keuangan lo sebulan terakhir?

Apa lo bahagia belakangan ini?

Urutan kedua:

Apa lo bahagia belakangan ini?

Gimana kondisi keuangan lo sebulan terakhir?

Udah ada banyak penelitian tentang itu dan hasilnya selalu sama: urutan pertama hampir selalu menghasilkan dua jawaban yang sinkron, sedangkan urutan kedua sering kali menghasilkan jawaban yang nggak sinkron sama sekali.

Dan itu jelas. Urutan pertama bikin lo menghubungkan kebahagiaan lo ama kondisi keuangan lo. Kalo kondisi keuangan lo kurang baik, lo udah keburu curhat, maki bos lo, marah-marah ama kehidupan karena ngasih masalah-masalah nggak terduga, terus lo ditanya apa lo bahagia? Jelas lo nggak bahagia. Lo marah.

Urutan kedua nggak bikin lo menghubungan kebahagiaan lo ama satu hal secara khusus. Kondisi keuangan lo mungkin kurang baik, tapi belum tentu lo langsung mikir ke situ. Kalaupun iya, lo akan mikir hal-hal lainnya juga. Misalnya, emang sih uang lo pas-pasan, tapi kehidupan sosial lo baik, pacar lo sayang ama lo, orangtua lo sehat, adik-adik lo baru lulus sekolah dengan nilai memuaskan. Secara umum, lo cukup bahagia.

Karakterisasi yang sempurna nggak mungkin dimulai dengan merancang beberapa sifat karakter lo untuk diutamakan alias dibesar-besarkan, needs and wants dia, dan gimana itu mempengaruhi emosinya (dan kemudian tindakannya).

Lo harus membalik pendekatan lo. Pikir gimana keadaan mental dan emosional karakter lo secara umum (apa hal-hal yang udah dia lalui dalam hidupnya, yang buat dia jadi begitu), apa sifat-sifatnya secara menyeluruh (yang merupakan hasil perjalanan hidupnya sampe titik itu; beberapa mesti diutamakan tentu saja), baru lo mikir soal needs and wants.

Hanya dengan cara itu lo bisa ciptain karakter yang bener-bener manusia, darah dan daging, dengan lapisan-lapisan yang sulit dipahami karena sering kali kontradiktif, nggak kaku dan terbatas seolah emang udah dirancang gitu—yang kayak gini sering lo lihat di film-film Amerika, dan itu jelek. Hanya dengan cara itu lo bisa buat karakterisasi yang sempurna.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

6 comments

    1. Ya, karakterisasi yang baik dimulai dari hal-hal yang paling mendasar. Bukan sifat-sifat atau needs and wants, tapi apa yang bikin karakter kita jadi gitu. Baru kita bisa ngerti karakter kita secara mental dan emosional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *