Menulis adalah Cinta

Pernahkah lo mikir kenapa burung-burung, terutama pas lagi migrasi, terbang dalam formasi? Supaya keren buat difoto? Atau karena mereka seneng aja gitu? Mereka lakuin itu karena burung terdepan akan menghadang terpaan angin, memudahkan penerbangan burung-burung di belakangnya.

Angsa Kanada, misalnya, bisa bermigrasi jauh banget. Dari Amerika sampe Eropa. Tanpa formasi, mereka pasti kecapekan di tengah jalan.

Menulis adalah Cinta | Controversy

Tapi kalo lo perhatiin bener-bener, formasi itu nggak tetep gitu sepanjang perjalanan. Setiap entah berapa lama, angsa di belakang akan terbang ke depan, tukar tempat dengan si pemimpin. Beberapa lama kemudian, angsa di belakang akan gantian ambil alih posisi terdepan. Gitu terus sampe mereka mencapai tempat tujuan.

Dalam dunia kepenulisan saat ini, pas lo mau kirim naskah, hampir semua penerbit minta lo jelasin keunggulan tulisan lo, siapa penulis dan apa buku lain yang jadi kompetitor lo, dan hal-hal semacamnya.

Itu bikin gue mikir apa bener kita berkompetisi dengan penulis-penulis lain. Kita tau persaingan itu lumrah dalam bisnis. Coca Cola nggak pernah rekomendasiin Pepsi. Nike nggak pernah rekomendasiin Adidas. McDonald’s nggak pernah rekomendasiin Burger King. Mereka berebut market share.

Tapi para penulis dengan senang hati rekomendasiin satu sama lain. Eka Kurniawan, misalnya, nggak perlu sikut-sikutan ama Ayu Utami atau Laksmi Pamuntjak. Pembaca yang suka jenis tulisan seperti itu akan baca buku-buku ketiganya. Lo justru akan lihat mereka rekomendasiin satu sama lain.

Ada masa ketika Eka Kurniawan baru luncurin buku dan terus-menerus dibicarakan. Ada masa ketika Ayu Utami yang lakuin itu. Juga Laksmi Pamuntjak. Itu nggak buat iri atau takut siapa-siapa. Itu justru bagus untuk kemajuan sastra Indonesia.

Dalam dunia buku, kita justru akan lebih kuat kalo bergandengan tangan dan membentuk formasi. Beat Generation adalah salah satu contoh terbaik untuk itu, gimana para penulis dengan visi dan misi yang sama bergerak bareng untuk ciptain sebuah kultur. Dan tujuan itu tercapai. Mereka masih dibicarain sampe sekarang.

Kalo lo nulis dalam genre yang sama dengan sejumlah penulis, langkah terbaik yang bisa lo ambil adalah membentuk formasi dan terbang bersama. Nggak perlu ada persaingan. Berpikirlah lebih besar. Kita bukan bangsa yang terisolasi dari dunia luar. Kalo lo mau bersaing, tingkatin kualitas tulisan lo dan bersaing dengan semua orang di dunia. Masih banyak ruang di dunia ini bagi penulis asal Indonesia untuk unjuk gigi.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

6 comments

  1. saya jd inget formasi bersepeda,i di depan adi semacam tameng pemecah angin agar yang di belakang meluncur tanpa hambatan, bisa ditonton dari serial Yowamushi pedal ehehehe

    inti yang saya tangkep disini sih, rejeki tiap orang sudah ada jatahnya, gak perlu pake ngambil jatah orang dan semacamnya, justru harus bercermin dari a[a kata bang RHoma di lagunya : rambate rata hayo.. begitulah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *