Penyuntingan yang Sempurna

Tentu saja penyuntingan terbaik adalah yang dilakukan oleh editor, bukan si penulis sendiri. Bukan karena editor lebih tau (walaupun bisa aja dia emang lebih tau), melainkan karena nggak gampang bagi penulis untuk bersikap objektif saat menilai tulisannya sendiri.

Tapi bukan itu yang mau gue omongin. Yang mau gue omongin adalah penyuntingan, mau nggak mau, adalah sesuatu yang harus kita lakuin setelah kelar nulis naskah dan sebelum kirim itu ke penerbit. Lo mesti rapiin style yang belang, buang bagian-bagian yang nggak relevan dengan keseluruhan cerita, perbaiki tata bahasa dan kesalahan ketik, dan seterusnya.

Penyuntingan yang Sempurna | Controversy

Hampir semua penulis setuju bahwa lo nggak akan bisa ngedit dengan baik persis setelah kelarin naskah lo. Lo mesti ambil jeda. Misalnya kutipan ini:

“The best advice I can give on this is, once it’s done, put it away until you can read it with new eyes. Finish it, print it out, then put it in a drawer and write other things. When you’re ready, pick it up and read it as if you’ve never read it before. If there are things you aren’t satisfied with as a reader, go in and fix them as a writer.” Neil Gaiman

Gue setuju dengan cara itu karena beberapa alasan. Bayangin gue minta lo buka halaman sebuah buku dan hitung berapa banyak huruf ‘g’ di situ. Pada halaman berikutnya, tugas lo gue ganti jadi hitung berapa banyak tanda koma (,).

Silakan tes itu dan lo akan nemuin ini: pada halaman berikutnya, lo bakal lihat huruf-huruf ‘g’ lebih cepat daripada sebelumnya. Kalo lo lakuin itu sampe beberapa halaman, huruf-huruf ‘g’ akan muncul lebih cepet lagi di mata lo. Tapi karena tugas lo udah ganti jadi ‘hitung berapa banyak tanda koma’, lo nemuin konflik di otak lo, juga di mata lo. Artinya, nggak gampang lakuin tugas baru kalo tugas sebelumnya begitu nyerap perhatian.

Sekarang coba pikirin ini: kita semua pasti pernah jalan kaki sambil mikir. Berapa kecepatan lo? Gue yakin lo nggak mungkin lari sprint sambil mikir, apalagi kalo yang lo pikirin itu rumit (berapa 47×85, misalnya, atau yang setara dengan itu). Itu karena aktivitas yang intens menyedot seluruh perhatian untuk dirinya. Dan secara alami, setelah lakuin itu, lo akan butuh jeda sebelum lakuin hal intens lainnya.

Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi adalah orang paling tau tentang keadaan mental bernama flow. Definisi flow kira-kira gini: keadaan mental di mana lo berkonsentrasi tanpa usaha, begitu dalam sampe lo nggak peka lagi terhadap waktu dan bahkan diri lo sendiri serta masalah-masalah lo. Dia bilang, dalam keadaan itu, kita beroleh apa yang disebut optimal experience. Contoh aktivitas-aktivitas yang bisa bikin lo flow: melukis, ngebut, main game, nulis, dan lain-lain.

Yang menarik, walaupun kita nggak ngerasa keluar banyak energi saat lakuin itu, bukan berarti kita nggak capek. Biasanya kita baru sadar kita capek setelah selesai. Itulah kenapa dalam keadaan itu kita egois dan lebih kasar daripada biasanya.

Nulis novel bisa makan waktu berbulan-bulan—ada penulis-penulis yang ngambil waktu sampe bertahun-tahun. Lo bisa bayangin secapek apa mereka. Apalagi nulis novel bukan proses sekali jalan. Ada banyak penyuntingan dan revisi yang dilakuin. Kalo lo lakuin semua itu tanpa jeda, jelas hasilnya nggak beres karena itu melebihi kapasitas otak lo.

Pada akhirnya, kesimpulan tulisan ini nggak beda dari kutipan Neil Gaiman di atas. Penyuntingan yang sempurna dimulai dari pengetahuan lo tentang kapasitas otak lo dan gimana maksimalin itu. Itulah kenapa lo mesti sabar, kalem, dan ambil jeda, bukan kelarin novel dalam sebulan supaya sejalan dengan tren.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

4 comments

  1. objektifitas atas karya sendiri memang sepertinya sulit atau malah tak bisa untuk dijadikan kenyataan, pendapat kedua, ketiga & seterusnya emang mutlak diperlukan, tapi ya gitu ada aja yang sering bandel, ngerasa karyanya adalah raja, padahal nganu sekali… contohnya ya tulisan2 saya yg suka semena2 gitu, eh sesekali iseng dong dieditin gitu salah satu tulisan saya #lah hahaha

      1. hadoh, saya jadi jadi malu, belum sempet tersentuh lagi hahahaha tapi ini ide bagus, asik, ntar kalo sdh jadi, mudah2an niat saya bangkit lagi 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *