Menulislah Sampai Mati

Lo semua bakal setuju kalo gue bilang gini: Jogja adalah kota dengan minat baca yang cukup tinggi, setidaknya jauh lebih tinggi daripada Jakarta. Jogja adalah kota budaya, melahirkan banyak penulis, punya banyak komunitas pembaca, toko buku alternatif, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan seni. Wajar kalo orang sana akrab dengan buku.

Tapi kalo lo ngeblog, lo akan nemuin traffic terbesar lo dateng dari Jakarta, bukan Jogja, bahkan jika lo banyak nulis tentang seni dan sastra. Kenapa bisa gitu? Apa minat baca warga Jogja dilebih-lebihin dan minat baca warga Jakarta terlalu dianggep remeh?

Menulislah Sampai Mati | Controversy

Pertanyaan itu gampang dijawab: itu karena penduduk Jakarta jauh lebih banyak. Seratus ribu dari empat ratus ribu melahirkan persentase yang jauh lebih tinggi daripada lima ratus ribu dari sebelas juta (itu angka ngasal aja).

Jogja tetep kota dengan minat baca yang lebih baik. Kalo lo pengen rasain atmosfer kota yang nyeni dan nyastra, Jogja adalah tempat yang lebih pas. Tapi itu nggak berarti jumlah pembaca di kota gudeg itu lebih banyak daripada di Jakarta.

Sekarang bayangin dua orang petani. Yang satu punya tiga anak, yang lain sepuluh. Nggak aneh kalo tiga anak petani pertama ngikutin jejak ayahnya jadi petani. Sedangkan anak-anak petani kedua mungkin nggak semuanya jadi petani, mungkin cuma empat atau lima. Empat atau lima lebih banyak daripada tiga, tapi dalam kasus ini, persentasenya lebih rendah. Bahkan kalo hanya dua anak petani pertama jadi petani, persentasenya tetep lebih tinggi.

Poin dari dua contoh di atas adalah jumlah sampel yang sedikit memungkinkan hasil ekstrem terjadi. Itu namanya the law of small numbers. Lo nggak bisa prediksi ‘tren kelahiran’ dengan ngitung jenis kelamin empat anak yang lahir di rumah sakit bersalin. Kalo semuanya cowok, terus kenapa? Itu nggak cukup. Coba lo hitung seratus atau seribu.

Lo juga nggak bisa bilang lo pengocok dadu hebat kalo lo ngocok tiga kali dan keluar enam-enam-enam. Coba lo kocok seratus kali dan hitung nilai rata-rata lo. Nggak akan jauh dari 3,5. Itu cuma berlaku buat permainan untung-untungan, emang, atau chance, tapi karena hasil untung-untungan terjadi setiap waktu (termasuk jenis kelamin bayi), itu nggak bisa dikesampingkan.

Ada penulis yang ngerasa nggak berbakat saat karya tulis pertamanya jelek. Ada juga yang bangga karena buku pertama-nya sukses. Saran gue: menulislah sampai mati. Nanti kita ulas seberapa payah atau hebat diri lo. Buku pertama yang keren atau culun nggak lebih dari hasil ekstrem jumlah ‘sampel’ yang sedikit. Gue nggak akan menilai kualitas penulis mana pun kalo bukunya baru satu.

Tapi tentu saja nulis bukan seratus persen untung-untungan. Lo selalu bisa ningkatin level permainan lo. Saat ini lo mungkin hanya megang satu dadu, tapi nanti lo mungkin megang dua dadu. Expected value lo meningkat jadi 6,5. Dan karena nulis bukan seratus persen untung-untungan, bisa aja lo lebih hebat dari itu. Atau lebih payah.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

5 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *