Jangkar Bernama Blog

Hal-hal yang dilakukan penulis baru—dan seniman secara umum—untuk mempublikasikan karyanya selalu jadi topik yang menarik buat gue. Ada penulis-penulis yang bisa langsung membuat dampak yang terasa karena liputan media-media berpengaruh. Tapi sebagian besar dari kita nggak seberuntung itu. Untungnya, saat ini kita semua bisa memulai media kita sendiri dan membangunnya.

Gue pernah bahas dalam artikel ini bahwa blog terbaik adalah blog yang digunakan sebagai studio terbuka, bukan alat promosi. Pada artikel Buku Bagus yang Jelek dan Buku Jelek yang Bagus, gue bilang bahwa kita sering kali dinilai dari titik referensi yang kita tetapin di awal. Tulisan ini akan bicara lebih jauh tentang itu.

Jangkar Bernama Blog | Controversy

Daniel Kahneman dan Amos Tversky pernah bikin satu penelitian yang menarik. Mereka merekrut sejumlah mahasiswa dari University of Oregon dan ajak mereka main roda keberuntungan (a wheel of fortune). Roda itu udah diatur supaya cuma bisa berhenti di angka 10 dan 65. Seluruh mahasiswa itu muter roda itu dan dapet angka masing-masing.

Abis itu mereka dikasih dua pertanyaan. Pertama, kira-kira aja, apa persentase negara-negara Afrika yang jadi anggota PBB lebih besar atau lebih kecil dari angka yang kamu dapat? Kedua, kalau kamu diminta menebak, berapa persen jumlah negara-negara Afrika yang tergabung dalam PBB?

Angka yang para mahasiswa dapet jelas nggak kasih informasi berguna buat pertanyaan yang diajuin. Nggak nyambung. Harusnya mahasiswa-mahasiswa itu abaiin aja. Tapi ternyata itu memengaruhi mereka. Setelah dirata-rata, mereka yang dapet angka 10 menjawab 25% dan mereka yang dapat angka 65 menjawab 45%.

Itulah yang namanya the anchoring effect—mungkin terjemahannya ‘efek jangkar’. Itu terjadi pas kita mesti ngira-ngira nilai sesuatu yang nggak diketahui sebelum bener-bener ngecek atau mastiin kebenarannya.

Untuk tau berapa persentase negara-negara Afrika yang tergabung dalam PBB, kita tinggal googling aja. Tapi dalam banyak situasi dalam keseharian kita, kita nebak-nebak dulu, nggak langsung googling. Kalo gue kasih lo pertanyaan apa Gandhi meninggal pada usia 115, mungkin lo bakal jawab, nggaklah, palingan 80 atau 90. Tapi kalo pertanyaan itu gue ganti jadi apa Gandhi meninggal pada usia 35, mungkin lo akan jawab, nggaklah, mungkin 70 atau 80. Atau 60 atau 70. Ya, kan?

Gue bilang blog terbaik adalah yang digunakan sebagai studio terbuka, bukan alat promosi, karena blog bisa jadi jangkar yang sangat efektif. Berapa nilai yang dikasih pembaca buat lo dan konten lo, itu terserah mereka. Poinnya, lo promosi atau nggak, pembaca tetep akan kasih lo nilai tertentu di kepala mereka.

Anggeplah mereka kasih lo nilai 75. Terus mereka beli buku lo, baca, dan kecewa. Kecil kemungkinan lo dikasih nilai 0 atau 10. Mungkin lo dikasih nilai 40 atau 50. Kalo mereka seneng, mungkin lo dikasih nilai 80 atau 90.

Kalo blog lo ternyata mengecewakan dan dikasih nilai 40, mereka mungkin nggak akan pernah beli buku lo. Tapi anggeplah mereka kasih lo kesempatan kedua. Terus mereka kecewa lagi. Lo bakal bener-bener dikasih nilai 0 dan mereka nggak akan pernah beli buku lo lagi.

Segala sesuatu ada risikonya, emang. Tapi lebih baik menancapkan jangkar daripada nggak sama sekali. Lebih baik nyoba dan gagal daripada nggak nyoba. Dan yang terpenting: lebih baik keluar dan berbagi daripada sembunyi dan hidup seperti orang bermental kerdil.

 

Gambar diambil dari sini.

LinkedInShare

7 comments

    1. Oh memang semua orang gak harus ngeblog, kok.. Itu kan kalimat yang umum aja. Tapi secara umum, kenapa kita fed up sama sesuatu? Biasanya karena kita libatin terlalu banyak emosi aja, padahal bisa aja hal itu berprospek bagus di masa depan. Saya punya banyak banget alasan untuk fed up sama jalur menulis yang saya pilih, tapi sering kali dalam hidup ini kita mesti melakukan banyak hal seperti mesin. 😀

  1. kalimat itu

    blog terbaik adalah yang digunakan sebagai studio terbuka, bukan alat promosi

    , apa bedanya antara dua hal itu? disadari atau nggak blog adalah media promosi nyata bagi pembacanya.

    blog ini misalnya, nilainya berapa kira-kira ya? #lahmalahnanya haha

    1. Karena pada dasarnya we cannot not communicate–atau kalo ditarik lebih jauh lagi, we cannot not promote. Saya hampir gak pernah promosiin diri saya atau buku saya di sini, tapi orang tetep punya kesan sendiri tentang tulisan saya, kan? Huehe….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *